Ulang Tahun Januar Hand ke
24
Terik
sang surya yang terpancar ke segala saentero persada. Panasnya berada diatas
standart. Gumpalan awan putih yang menyebar dan membumbung dilangit biru
pertanda siang menampakkan kecerahanya. Tubuh terasa dimasak dalam uap yang
mendidik. Lalu lalang kendaraan bermotor juga ikut menghangatkan suasana. Namun
Angin tidak tinggal diam saja. Sepoinya sesekali meniup disela-sela rambut. Semilirnya
terkadang membuatku sedikit lega dan sejuk.
Para
fatinistic bergegas dengan hati riang dan gembira menuju parkir sepeda depan
rumah makan ayam siap saji. Lambayan tangan dan langkah kaki mereka seakan
berapi-api penuh kesemangatan. Kebersamaan mereka tak bisa dilafadkan hanya
dengan tulisan belaka. Tawa canda mereka akan selalu terekam disetiap kalbu dan
jiwa mereka dalam bentuk Moment yang tak terlupakan.
“Mbak
Adisty, Janu udah dikasih tahu gak” Dalam lari-lari kecil aku menghampiri
wanita yang memiliki 1 orang putra dan kebetulan berada paling depan.
“Sudah
di SMS kok”.
“Mbak
boleh aku ngomong sebentar gak?” Raut wajahku sedikit lebih serius.
“Apa
mas?”.
“Gini
mbak, janu kan ulang tahun. temanku yang dari Madura bawa kue ulang tahun. tapi
lilinnya belum ada. Gimana donk, sebelum nyampek kerumah janu beli dimana gitu
mbak”.
“Wah
gimana yaaa?, kalau ada Erly pasti dia semangat dech. Oia ada mas Musa, dia kan
deket rumahnya Janu. Sapa tahu bisa beli lilin didaerah sana” Terlihat wajah
Adisty sedikit bingun.
“
Ada apa ini?” Tiba-tiba Mas Rahman dan Mas Musya berada disampingku.
“Gini
Mas, Janu kan ulang tahun. Kira-kira dimana beli lilin. Kalau kuenya udah ada sich.
Mas Musya ini yang yang tahu daerah sana” Simple penjelasan Adisty lansung ke
intin yang dimaksud.
“Iya
Mas” Dua kata dariku itu sedikit menguatkan penjelasan Adisty.
“Ayo
Mas Musya gimana tuch?. Ini pasti hadiah yang paling terindah buat Janu di
tahun ini” Mas Rahman memberi dorongan, berharap Musya segera menjawab selusi.
“Udah
gampang. Ketemu nanti aja” Dengan santai Musya menjawabnya.
Perbincangan
di Parkir itu cukup melegakan perasaanku yang sedari tadi Sedikit bingun.
Maklum aku tak begitu mengetahui daerah Surabaya yang termasuk kota terbesar
kedua setelah DKI.
Semua
sudah siap untuk berangkat menuju rumah Dwi Januar Hand. Lelaki yang beruntung
karena terpilih oleh Fatin Shidqia Lubis untuk didatangi rumahnya. Lelaki yang
saat itu genap 24 tahun. Hadiah yang sangat special dihari ulang tahunnya.
“Tunggu,
dari Madiun Nich kasian gak ada temannya. Siapa yang mau boncengin?” tukas
Fikri.
“Mas
Ucup aja tuch, sekalian Modus. Hehehe” Ledek Musya dengan khas ketawanya yang
lucu.
“Ayoo
Sini, bareng aku” Ucup dengan tegas memanggil Cewek Madiun tersebut.
“Oia
Mas Janu sms nich, dia minta di beliin somai. Beli dimana yaaa?” Adisty juga
melontarkan suaranya kembali.
“Biar
aku mbak yang beli” Tangan kananku lansung dimasukkan kedalam saku celana
disamping kanan dan mengambil dua lembar uang lima ribuan serta beberapa uang
dua ribuan. Segera ku berjalan menuju tukang somai yang berada di sebelah
parkir.
“Ia
mas Fitroh, kami bergerak duluan yaa, aku tunggu dipinggir jalan depan Hotel
Alena” Sahut Musya sembari menghidupkan sepeda motornya. Kemudian disusul
Fatinistic yang lain.
“Ok
Mas”.
Semua
sudah melajukan sepedanya masing-masing. mas musya, Vendi, Fikri dengan Rahman,
Ucup dengan wanita madiun, Resa (fatinistic Jokja) dengan Cowok fatinistic
Madiun, Mbak Adity, Lisna dengan Lisaa_SL, serta yang lainnya telah
meninggalkan parkir. Sementara aku masih menunggu Somai pesanan Januar yang
sengaja dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Fatin Shidqia Lubis.
Jam
terus terus berputar dan menunjukkan pukul 12.30 WIB. Segera lari-lari kecil
aku menuju sepeda matik merahku dan menghidupkan startnya. Somai sudah kugantung
disepeda. Laju sepeda lansung kupercepat berharap keluarga Fatinistic tidak
terlalu lama menunggu.
“Ayoo..
mas…” Sambil Melambaikan tangan kiriku kepada fatinistic yang lain. Mas musya
menyusulku kemudian vendi berada disamping kananku. sedangkan yang lain berada
dibelakang serentak. Dengan seketika jalan Ketintang Berubah menjadi lautan
kaos biru ala Fatinistic, namun lambang dan logo di punggungnya berbeda-beda.
Surabaya, Madiun, Jokja, Sidoarjo. Semua menyatu dalam wadah kemunitas yang
solid dan bukan hanya sekedar FansClub, namun menamakan sebagai Keluarga.
Sepeda
yang beragam terus melaju. Kecepatannya semakin bertambah. Akupun tidak mau
kalah untuk memutar gas sepeda matikku. Sepeda kami beragam. Supra, Mio, VArio, Beet. Semua
berlomba-lomba mengejar waktu menuju rumah Janu. Terlihat dikanan kiri
bangunan-bangunan ala kota besar pada umumnya. Musya berhenti dilampu merah
daerah Balong Sari. Semua fatinistic juga ikut berhenti. Namun aku tak melihat
sepeda dari Lisna.
“Mas,
pelan-pelan, Lisna masih ada dibelakang” teriakku kepada Musya.
Lampu
Merah terlihat berubah menjadi Hijau. Musya dan yang lain melajukan sepedanya. namun
tidak secepat biasanya. Sementara kecepatan sepedaku tidak lebih dari empat
puluh kilometer perjam. Yang awalnya posisiku berada dibelakang Musya. Kali ini
aku berada di paling belakang mendampingi Lisna dan Lisaa_SL. Cara nyetir lisna
memang agak kaku dan tak selincah fatinistic yang lain. Entah kenapa secara
otomatis aku menjadi pemerhati kedua wanita tersebut. Dalam rasaku mengalir
ketakutan yang tak biasa. Ketakutan terjadi apa-apa terhadap dua wanita itu.
Ketakutan mereka berdua nyasar dan ketinggalan jauh. Perasaaan merasuk tipis
dalam benakku.
Sebelum
memasuki daerah Manukan semuanya berhenti. Musya tak terlihat batang hidungnya.
Aku kira mereka salah arah dan ketinggalan jauh dari sang petunjuk arah alias
Musya. Tapi ternyata Musya masih mampir kerumahnya. Lisnapun mulai menepikan sepedanya
kesamping dan bergabung dengan yang lainnya.
“Lisna,
Kamu gak bisa lebih cepat lagi gak?” Tanya Adisty dengan nada perhatian.
“Aku
udah Full ini mbak” tukas Lisna singkat.
“Gini
aja, Mas Rahman yang pakek sepeda Lisna dan Lisnanya boncengan. Kemudian
Lisaa_SL boncengan sama Saya” Usul Dari Adisty.
“ia
mbak” jawab Lisna.
Melihat
sosok adisty yang perhatian pada Lisna dan Lisaa tampa disadari aku merasa
kagum terhadap wanita itu. Sepintas ku teringat pada bunda FAtin yang selalu
perhatian terhadap FAtinistic. Wajahnya yang bersahaja membuat semakin nyakin
bahwa dia bukan sekedar bunda biasa buat anak-anaknya. Dia adalah bunda yang
luar biasa dan dahsyat.
Musya
akhirnya muncul dan melambaikan tangannya pertanda untuk segera mengikutinya.
Tampa basa-basi kami semua memacu sepedanya masing-masing. Melewati daerah
Manukan kemudian belok kiri melewati Jl. Banjar Sugihan sebelum akhirnya belok kiri
melalu Jl. Bringin. Dimana rumah janu berada didaerah Bringin tersebut. Semua
sepeda terus dipacu melewati mobil besar dan bok pengankut barang. Sementara
diriku berada dibelakang. Karena tangan ku terasa sakit akibat keseleo saat
ngerim mendadak dan hampir menabrak truk besar pengankut barang. Untung saja
sepedaku segera kubanting kekiri.
Sampailah
kerumah Janu. Fatinistic sudah berkumpul dan mulai masuk keruang tamu. Kurang lebih
sekitar 20 orang yang berada disana. Karena sebagian besar Fatinistic yang lain
berada di Manyar untuk mengikuti Meet and Greet dengan Fatin setelah acara
dirumah Janu. Rumah Janu terlihat tidak seperti biasanya. Ruang tamu berubah
manjadi lautan biru. Keramaian yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan
kamarnya telihat tumpukan tas fatinistic yang datang.
Terlihat
Para Laskar Lelaki yang muncul dari dalam kamar Janu. Dengan baju biru yang
menghiasi tubuh mereka bagaikan Boy Band yang akan siap tampil. Aswary, Lee,
dan Nanaz. Mereka bersalam dengan fatinistic yang lain. Dan tiba-tiba terlihat
satu orang lelaki lagi yang tidak asing dalam pandanganku. Seketika tangan
lelaki itu menjabat tanganku dan menciumnya. Tersentak ku menarik tanganku
seketika. Ternyata Salah satu Muridku yang dari Madura ikut serta para laskar.
Banyak mata yang memanah kearahku. Mukaku perlahan berkerut dan memerah seperti
jambu merah muda.
“Siapa
itu Mas Fit” Ucup meledekku.
“Muridku
dari Madura dan mereka bertiga adalah Laskar lelaki yang telah membantu
membentuk kepengurusan FAtinistic Madura” Tanpa ragu aku jelaskan dengan
singkat.
“Wah…
pantesan sampek nyungkem gitu yaaa. Hehehe.. ternyata pak guyuuu” Musya mulai
menggoda lucu.
“Sudah-sudah
silahkan duduk semua” Janu dengan lembut mempersilahkan kami semua. karena dia
termasuk anggota laskar Lelaki juga, sehingga sedikit mengalihkan pembicaraan
yang memojokkanku.
“Wah
kayak mau ada acara Maulid Nabi” Rahman ketua Jatim mulai melucu. Sehingga
membuat beberapa fatinistic tertawa.
“Mas
lihat VC Dia-Dia-Dia yang modelnya LIsaa donk” Dengan raut wajah malu aku
meminta kepada Rahman supaya Laptopnya bisa dibuka dan play VC Dia-Dia-Dia
cover Fatin ala Surabaya Yang Modelnya adalah Fatinistic Surabaya. Dia adalah @Liisa_SL.
Suasana
keakraban yang nyaman untuk diperaktekan dimana saja berada diruang tamu Janu.
Para laskar Lelaki juga ikut berbaur ditengah Fatinistic Surabaya menambah
kelengkapan. Januar hand sang tuan rumah terlihat sibuk keluar masuk. Sesekali
mempersilahkan fatinistic untuk minum air. Camera Digital yang dimiliki Janu
melayang bersama blitsnya kesana-kemari. Entah apa yang dirasakan olehnya.
Wajahnya terlihat tegang. Senyumnya yang dilontarkan tampak berbeda. Dia seakan
melayang kegirangan menuju langit ketujuh. Dia seakan merasakan kelengkapan
yang dahsyat dihari ulang tahunnya. Ada Laskar lelaki sahabat terbaiknya. Ada
fatinistic FansClub yang paling solid saat ini. Serta yang paling special ada
sang bintang idolanya Fatin Shidqia Lubis juga ada Bunda dan Ayahanda yang
sangat sayang terhadapnya.
Lingkaran
jam yang menempel di dingding teras begitu sangat lambatnya. semua wajah fatinistic
tampak mulai letih dan lesu. Laptop yang sedang memutar VC sudah kembali detik
awal lagi. Lisaa mulai maju ke depan laptop milik sang ketua dan mulai
mengeryitkan dahinya.
Pandanganku
tertuju pada model itu. Terlihat wajahnya lucu. Desiran tipis menyusup lembut
dalam jiwaku. “Kok Bisa ya dia jadi Model VC itu”. Gumamku menari-nari
dalam kalbu yang paling dalam.
“Fitroh,
masih lam yaa?” Aswary berbisik dibalik telingaku dan membuatku tersentak dari
pandanganku terhadap soso Lisaa.
“Aku
juga gak tahu. Ini kan kejutan buat Janu, cuman kata FAtin tadi jam dua gitu” Dengan
bisikan juga aku balas pertanyaan aswari.
“Ayooo…
kita keluar sebentar lagi Fatin Datang” Tiba-tiba Pak Ari mengomandoi
fatinistic yang sudah mulai lemes.
“Ayooo
semangat donk” Tambah Pak Ari dengan lantangnya.
Mereka
lansung berdiri dan keluar serta berbaris bak tentara yang siap menyambut Ibu
Negara. Laskarpun juga mengikuti mereka semua. ada yang siap mengawal mobil
Fatin dijalan raya. Ada juga yang sekedar duduk santai sambil foto-foto.
Sementara perempuannya membersihkan ruang tamu Janu.
Mobil
putih yang ditunggu sudah terlihat dari kejauhan. Fatinistic bersiap-siap untuk
mengawal seperti biasanya. Para tetangga Januar mulai bergerak keluar.
Kerumunan anak kecil juga memadati daerah rumah Janu. sementara Janu masih
didalam rumah Entah apa yang dilakukan. Yang pasti hari ini januar akan
mendapatkan kejutan yang indah. Mobil yang ditumpangi Fatin memasuki halaman
rumah janu. Seperti biasanya FAtin tidak lansung keluar dari mobil. menegernya
fatin yang duduk didepan lansung menghampiri Janu supaya dia masuk kedalam
rumah dulu. Sementara diriku masuk kedalam rumah nenek Janu yang berada
disebelah utara rumahnya. Kue Ultah ala Laskar Lelaki aku persiapkan dan
diam-diam aku tunjukkan ke FAtin yang berada didalam Mobil
“Subhanalloh
manisnya” kata FAtin.
“Oia
lilinnya mana” lirih Bunda FAtin.
“Ini,
Angka dua puluh Empat” Lansung aku pasang terbalik empat puluh dua diatas
kuenya.
“Hahaha…
salah tahu, angkanya terbalik” dengan ketawa lucu fatin menegorku.
“Gokil
abiss, nanti aku tabokin kemuka Janu pas didalam rumah” Tambah bahasa lucu
fatin sambil nyengir senang.
“pokoknya
harus seru lo ntin” Tambahku sebelum aku menjauh dari mobil Fatin.
Fatinpun
keluar dari dalam mobil. Suasana seperti tidak bisa dikendalikan. Camera mulai
terngkat di segala sudut. Fatinistic seketika berubah menjadi pagar besi yang
kokok dan kuat. Adegan kejutan untuk Januar Hand akan segara datang. FAtinpun
memegang kue dan mulai menghidupkan Lilin angkanya. Dengan senyum merona fatin
menghipnotis para fans atau keluarganya.
“Fatin-fatiiiiiin”
Musya dengan begitu sangat kerasnya keluarkan kode Fatinistic. Bahkan kata
fatin kalau berada diruang angkasa dan bertemu dengan elien. Dia akan bilang
“Fatin-fatiin”. Jika mereka jawab Foyaaa. Maka fatin akan ngajak foto bareng
yang menandakan mereka itu fatinistic. Begitu tulisan dalam buku Fantastic
Fatin. Dengan serentak para fatinistic dan lantang melambungkan kata foyaaaaa sehingga terkumandangkan hingga
mengelegar di area rumah Janu.
Dengan
mengendap-ngendap langkah Fatin kedalam rumah Janu. Kedua tangannya memegang
kue ulang tahun. Kemudian dikuti oleh fatinistic dibelakangnya camera juga
tidak diam saja. Record, shoot sudah menjadi pemandangan yang meramaikan
suasana. Laskar juga tidak mau kalah. Nanas merekam tingkah laku Fatin dengan Ponselnya. Sebagian dari mereka semua
berubah menjadi fotografer dadakan.
Terlihat
wajah kaget Januar Hand terpancar kesegala pandangan mata. Tawa dan senyumnya
tak mampu dibedakan lagi. Bahasanya terbungkam sedemikian rupanya. tubuhnya
kaku tak bergerak. Ritual Ulang tahun bergema disetiap dingding rumah Janu.
Suara lembut sang Diva mengalun lembut menusuk kalbu. Setiap ijab yang keluar
dalam bibirnya manis dan mempesona menggetarkan
setiap panca pendengar. Super bahagia Janu membuat khalayak seseorang
menginginkannya.
Tiupan
Janu pada lilin yang terletak diatas kue berbalut warna biru bertuliskan
Selamat Ulang Tahun buat Januar Hand yang bewarna coklat membias dan mematikan
nyala lilinnya.dimana yang sebelumnya Dia hentakkan doa dalam hati yang
terdalam. Entah apa yang dia pinta. Intinya sesuatu yang berarti dalam usia
selanjutnya.
Tepuk
tangan membahana dengan irama yang tak bernada, namun sangat indah untuk
didengar. Keluarga janu menghampiri putra kebanggaannya tersebut. Jabatan
tangan FAtin menyambar lembut tangan sang bunda. Kulit yang keriput menghiasi
area wajahnya. Balutan kerudungnya masih membuat terlihat masih cantik untuk
dipandang. Matanya seakan berkaca-kaca. Haru menyelinap kuat dalam hatinya. Blitspun
tidak tinggal diam mengagendakan moment tersebut dan menyimpannya dalam agenda
yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun.
Sekilas
tak sempat terlihat oleh camera tangan fatin memoleskan wajah Janu dengan cream
kue yang tebal. Seketika mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil. Janu juga tidak
mau kalah ingin membalasnya, tapi sayang tak bisa. hal itu dikarenakan Fatin
harus menghadir acara sebentar lagi. Laskar juga membuat wajah tambah hancur
dan amburadul oleh kue birunya. Rambutnya berubah kental seperti diberi gel
rambut yang sangat mahal.
“Ya
sudah, kami dari pihak Fatin dan tim menegemen, mengucapkan selamat Ulang tahun
yang ke 24 buat Januar Hand.” Menegemen fatin akhirnya mengeluarkan suara dan
membuat suasana menjadi sunyi seketika.
“Mohon
maaf untuk semuany FAtin harus segera kembali, karena masih ada acara setelah
ini” tambah menegemen Fatin.
Setiap
acara pasti ada akhiran. Kalimat itu yang sudah sering kali keluar dari banyak
orang akhirnnya selesailah acara ritual kejutan Janu. Fatin sudah beranjak dari
rumah Januar Hand namun bahagianya masih terus tergambar jelas dalam epidermis
hati Janu dan sekalian Fatinistic juga Laskar.
“Fatin-Fatiiiiin”
“Foyaaaaaa”
“Tin-Fatiiiinn”
“Yaa-Foyyaa
ta’iye”
Ulang
Tahun ke 24 Janu yang super seru dan dahsyat. Kehadiran Laskar Lelaki,
Fatinistic serta Fatin Shidqia Lubis merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari
tahun-tahun sebelum. Akupun ikut merasakan kebahagian dan kebanggaan yang kuat.
Tak terasa mataku teraliri air kesemangatan. Rasa haru membiru menusuk dengan sangat
hebat dalam kalbu. Memang baru empat tahun Laskar terbentuk, namun persahabatan
kami tak sering kali hancur oleh perbedaan karakter, suku bahkan pendidikan.
Melihat Janu dengan tawa bahagianya membuat kami semakin bangga terhadapnya.
Selamat Ulang Tahun Dwi
Januar Hand (Laskar 2).
Semoga Rahmat, Taufiq serta
Hidayah Alloh selalu menyertaimu.
Oia sebelum aku beranjak pulang dari rumah Janu. ada WA yang masuk dari
sahabat Janu juga. Dia bernama Ali. Kelahiran Madura, tapi tumbuh dan besar di
Malang. Sekarang Dia kerja di Surabaya. Dia mengucapkan rasa kagum terhadap
FAtin dan Bunda Fatin. Serta selamat terhadap Janu.
Assalam. Subhanalloh Mas, Bunda Fatin sungguh sangat
baik dan ramah. Kala semua bersenang-senang didalam rumah janu. ibunya mau
menyusul kedalam, tapi gak jadi akibat terlalu ramai. Aku menyapanya dan meminta
foto bareng beliau. Ternyata beliau tidak menunjukkan sikap sombong dan acuh.
Padahal aku tidak memakai baju Fatinistic. Tapi beliau malah dengan mengiyakannya. Pokok semoga
karir Fatin terus barokah. Oia salam juga buat Januar. Maaf lansung pulang
tampa pamit.Wassalam
***
Semoga terhibur, kritik dan saran semoga membuat tulisanku lebih baik
untuk selanjutnya. Maaf jika ada moment yang tidak sesuai dan terlupakan.















