Minggu, 19 Januari 2014

Sepenggal Kisah Fatinistic, Fatin Shidqia Lubis dan Bunda Fatin di Surabaya


Jagad menampakkan keindahan dengan polesan langitnya nan biru. Terpancar aura pagi yang penuh semangat mulai bersemayam dalam setiap jiwa-jiwa Fatinistic. Rumah Makan siap saji yang sudah tidak asing lagi merupakan tujuan berkumpul pagi itu. Aku pun dengan segera memacu sepeda matik merahku dengan perasaan yang tidak normal. Perasaan ingin segera bergabung dengan para saudara-saudara baruku yang sama-sama berkaos biru. Perasaan ingin melihat sang idola yang menyatukan berbagai karakter dalam satu pautan “Bukan Fans, Tapi Keluarga”.
“Hayyyy, mas fitroh” Lelaki berkacamata hitam dengan penampilan ala band jaman sekarang memhapiriku dan tanpa ragu salam persahabat dia haturkan.
“ Hayyy juga Mas Musya”.
“Kamu sendirian?”
“ia aku sendirian, lagian aku udah biasa kok”
Perlahan aku menghampiri beberapa lelaki yang sedang duduk melingkar wajahnya terlihat sumriyah dan didepannya terlihat beberapa makanan dan minuman. Jabatan persahabatan kembali terasa hangat diperagakan, padahal ada beberapa yang tidak aku tahu namannya. Kemudian disampingnya lagi ada beberapa perempuan yang sama membentuk lingkaran yang semuanya dibalut oleh hijab simple, namun membuat tampak anggun dipandang.
“Hayyy, Aku Fitroh. Salam kenal”
“Dari Madura kan?” Cowok jokja itu terasa tidak asing dengan wajahku, namun tidak mengenal siapa namaku.
Dalam sekejab keakraban terjalin dengan sangat apik. Kami semua bagaikan keluarga lama yang sudah berabad-abad tak bertemu. Tawa canda sudah menjadi suguhan yang tak asing. Suara blits camera mulai menghiasi suasana kebersamaan. Satu botol minuman tak bermasalah lagi diminum oleh siapapun. Benar-benar aura yang sulit ditemukan ditempat manapun.






“Mas Musya, kapan ini mulai Acaranya di JTV?” Pertanyaan simple namun agak serius itu akhirnya keluar juga dalam lidahku yang agak pikuk logatnya. (maklum orang Madura taiiyeee)
“jam 10 Pagi katanya mas, tapi kita masih menunggu Mas Fikri. Soalnya dia kan…”
“itu dia Mas Fikri” Musya belum sempat selesai berucap, tiba-tiba Ucup yang duduk berhadapan denganku justru memotong nya. Dengan serentak pandangan tertuju kearah yang ditunjukkan oleh Mas Ucup.
Terlihat dari kejauhan lelaki tinggi yang berbaju biru, bahunya digantung oleh tas kecil. Tangannya seperti sibuk mengelus layar sentuhnya. Dan disampingnya didamping oleh lelaki berjenggot, punggungnya tertanam tas gendong yang lumayan besar, wajahnya di hiasi oleh senyuman yang manis. (hehehehehe). Mereka Mas fikri dan Mas Rahman, Ponggawa Fatinistic Jawa Timur. Kemudian dibelakangnya seorang perempuan sebaya mengikuti langkah mereka. Dia tidak asing lagi dalam panca penglihatku. Dia adalah Mbak Adisty.
Aku berdiri dari dudukku yang nyaman. semuanya malah ikut-ikutan berdiri. mereka lansung berjabat seperti biasanya, bahkan saling berpelukan ala teletubis jaman dulu. Sedangkan perempuannya dengan teriak kegirangan terekam dengan jelas dalam telingaku.
“Mas Bro kemana aja, kok begitu lamanya”. Biasa Musya lansung menyambar pertayaan kecil itu.
“Biasalah ketua pasti datangnya belakangan” mas Rohman dengan gaya nyengirnya membuat semuanya tertawa.
15 orang sudah berkumpul di tempat tunggu. Camera kembali berfungsi setelah beberapa menit menganggur karena asyiknya ngobrol. Sedikit penjelasan dari sang KEtua membuat suasana menjadi serius. Bentuk lingkaran berubah menjadi besar, yang awalnya antara perempuan dan laki-laki terpisah.
“Ok saatnya kita berangkat ke lokasi, karena waktu kita kurang 15 menit lagi” Komando dari sang ketua membuat semuanya secara otomatis bergerak menuju lokasi. Kebahagian yang tak bisa terlukiskan oleh gambar-gambar dan tak bisa diucapka oleh kata-kata serta tak bisa ditulis oleh kalimat-kalimat telah melanda hati kami semua.
Langkah kami terus menuju lokasi dengan penuh semangat. canda tawa tetap menghiasi langkah kami. Camera tidak lupa berperan dan menyimpan keakraban dan kebersamaan kami dalam memorie mininya Hingga akhirnya berada dalam suatu lokasi yang dituju.
Waktu terus berjalan sang Raja siangpun tidak diam saja. Dia berperan sesuai dengan tugasnya. Kecerahan alam dan langit biru serta panas yang menyengat tidak terasa akibat kebersamaan Fatinistic kala itu. Sang  bayu pun menggerakkan dedaunan dan menggoyangkan bunga-bunga di sekitar sehingga membuat pemandangan terasa lebih lengkap.



Terlihat Mas fikri dan mas Rahman sedang berdiskusi dengan pihak crew JTV. Tiba-tiba mereka berdua menghampiri saya dan yang lain. Dengan langkah yang agak dipercepat dan wajah mas Rahman yang biasanya lucu berubah seketika menjadi serius dan wibaya. Dia lansung memberi perintah kepada kami semua seakan perang siap dimulai.
“Ingat sebentar lagi Fatin akan datang, keamanan jangan sampai teledor. Yang laki-laki lansung siap menghampir mobil fatin dan lansung amankan jalan. Ingat, disekitar kita ada yang bukan member fatinistic, takutnya malah merusak situasi. Dan perempuannya tunggu didepan studio saja. Ingat jangan alayyy atau lebay.”
“Siap pak ketua” serentak kami ucapkan dengan pelan, berharap tak begitu didengar oleh pengunjung disekitar.
Koordinasi yang loyalitas ini sudah menjadi khas fatinistic. Tanpa dibayar, tanpa disuruh. Namun entah kenapa organisasi ini bergerak secara otomatis. Hal inilah yang membuat kesenangan dan kebanggaan tersendiri menyelimuti kami semua. Fatin memang sosok yang beda. Dia mampu menyebarkan kekompakan secara otomatis. kharisma yang jarang dimiliki orang khalayak membuat para fatinistic semakin berkembang. Kesederhanaannya menjadi modal utama terlebih lagi diiringi rendah hati yang membuat fatinistic terus bangga pada diri FAtin.
Mobil Putih mulai memasuki gerbang gedung. Semua fatinistic segera bergerak menuju lokasi yang diperintahkan. Situasi sudah mulai ricuh dan ramai. Pagar betis ala Fatinistic semakin mengencang. Teriakan mulai terdengar dimana-mana. Mas Rahman yang tugasnya hanya menyambut sang idola berubah menjadi keamanan dadakan. Hiruk pikuk semua orang membuat kami fatinistic kewalahan.
Matahari panas yang menyengat telah kami lupakan sejenak. Camera menjalar-jalar disamping mukaku. Desakan, dorongan hingga membuat kami hampir kalah padahal fatin masih didalam mobil. Terlihat pintu mobil paling depan terbuka, ternyata pihak sony yang keluar dari mobil dan berusaha menenangkan situasi berharap kala fatin keluar dari mobil tak ada kericuhan yang tidak diinginkan.
Kemudian terlihat sosok wanita mungil, anggun, cantik yang diserta wajah polosnya namun terlihat ceria yang terpancar. Balutan kerudung ala rabbani membuat mahkotanya semakin tampak indah dan mempesona. Fatin Shidqia Lubis keluar dari kereta kecananya. Langit seakan kalah terang dengan wajahnya. Matahari mulai malu dengan sinar wajahnya. Warna pink yang menghiasi tubuhnya membuat bunga-bunga menjadi menunduk karena kalah indahnya.
Dia melangkah perlahan-lahan, dengan senyuman sederhana serta sapaannya membuat seisi lokasi tersebut terdiam dan terbungkam seribu bahasa, namun sebagian kecil masih berteriak histeris yang menandakan mereka bukan Fatinistic.
“hay, gimana kabarnya” salam serta tos dia haturkan peluakan hangat kepada fatinistic perempuan bukti bahwa dia tidak menganggap kami sebagai fans, tapi keluarga.
“nanti kita foto-foto yaaa” ucapnya yang lembut dengan nada sumriah dan ceria.
“siiippp…fatin-fatin”
“Foyaaaaaa” serentak lantunan yel-yel fatin berkumandang.
Fatin memasuki studio dengan aman dan nyaman. Semua fatinistic merasa lega dan puas. Karena misi pengamanan berjalan dengan baik. Sementara fatin berdandan didalam kami semua sedang duduk nyantai. Disampingku ada mas rahman, mbak adisty, Ucup, Lizaa, Lisna sedangkan yang lain bergerombol agak berjauhan.
letih, lesu sudah mulai menghapiri kami semua. Rasa lapar mulai menyerang perut kami masing-masing. Suasana bungkam seribu bahasa sedang melanda kami beberapa menit hingga akhirnya terpecah dari perkataan mbak adisty.
"Padahal sepele gitu yaaa"
"Apa mbak" ekspresiku kala ucapan dari mbak Adisty terasa remang ditelinga.
"Itu loh Bundanya Fatin Shidqia Lubis"
"Mang napa bundanya Fatin mbak?" Rasa penasaranku mengelana dengan penuh keingintahuan.
"Itu supir mobil yg ditumpangi Fatin Shidqia Lubis dikasih dua botol air aqua, padahal bundanya udah didalam studio dan didalam hanya diberi satu buat dirinya aja. eee malah minta 2 lagi. aq kira mau dibawa sendiri. malah keluar dari studio dan menghampiri supir tua itu untuk diberi minum" Penjelasan mbak Adisty diperhatikan oleh fatinistic yg lain kala itu.
"Terus kenapa mbak emangnya?" Mella yang pakaiannya biru dan bawahannya putih, karena dia mau praktek tiba-tiba nyelaktuk dalam pembicaraan.
"yaa gak gitu mell, biasanya kebanyakan orang tidak peduli seperti itu. ini padahal hal sepele gitu"
“Ya Mella, mungkin inilah salah satu hal yang bikin kita bangga jadi fatinistic. Meski udah tenar, masih aja low profile” Salah satu fatinistic yang lain menambahkan. Dia adalah Adi Koraksek
“Ia sich…, kita aja yang low profile terkadang gak peduli” Timpalku supaya gak diam aja.
“ya, setiap insan manusia kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan semoga saja semuanya bisa tetap menjadi dirinya meski udah tenar, gak ada yang berubah” lanjut Adi.
Tiba-tiba Lelaki berkacamata hitam ala band alias si Musya memegang dua bahuku dari belakang, sehingga membuatku terperanjak. Diapun tidak mau kalah ikut serta berucap.
“Itulah Bunda Nurseha… seperti fatin…., kemarin aja Pas di Delta Surabaya udah di ttd baju yang depan, terus minta lagi ttd yang dibelakang baju. Menegernya Fatin ngelarang,  tapi Fatin tetap menanda tangani Baju Fatinistic tersebut. Demi Fans Haiiideeehhh HACEP dechh… gak rugi jadi fatinistic”.
“Iya bener banget tuch, Buanyak banget pelajaran selama dua hari ngintilin FAtin. Apalagi sosok Bunda Nurseha. Selain cerita diatas, paling aku salut itu waktu di Istara. Ditengah eoforia anaknya yang lagi digemari banyak orang, ternyata didalam mobil bunda baca Al-qur’an. Subhanalloh banget…”. Mbak adisty dengan logat keibuannya bercerita kejadian kemarinnya.
Aku agak kudet mendengar cerita mereka. Karena kemarinnya aku tidak ikut serta karena ada acara yang lain. Rasa heranku mengelayut dicampur dengan selipan kagum yang perlahan-lahan meneyelinap dalam jiwa.
“Beneran mbak?, wah patut dicontoh tuch”.
“Ia bener, terus yang buat aku wah, ternyata Bunda Nurseha Perhatian sama Rama, Buktinya pertama datang di Radio yang ditanya pertama ke aku Rama. “lho mana dedeknya?”. Padahal sebelumnya belum pernah ketemu. Berarti bunda juga perhatian ma kalian semua” mbak adisty sedikit curhat tentang Putra kecilnya yang digendong oleh Bunda Fatin di radio.
“Wah Segitunya ya mbak, berarti Bunda Fatin idola baru nich”.
“iya donk, sekarang Bunda nurseha jadi idolaku untuk menjaga anakku, juga idola baru untuk kalian yang mau cari istri. Hehehhe”



Percakap ringan tersebut telah menggugah setiap hati fatinistic untuk lebih menjadi kagum terhadap Fatin Shidqia Lubis dan bangga menjadi fatinistic. Bahkan siang yang semakin larut membuat rasa lapar kami tak terasa hingga acara fatin yang siap perform di JTV sampai terlupakan bahwa akan dimulai.
“Heyy, ayoo fatin udah keluar tuch” Mas Fikri sedari tadi sibuk terhadap layar sentuhnya tiba-tiba mengagetkan kami semua yang sedang duduk.
Serentak kami berdiri bak tentara yang dikomando. Kompak dan sama. Idola yang ditunggu sudah berlaga dengan gaya khasnya. Semua fatinistic terlihat berbinar-binar, hingga melupakan bahwa waktu makan siang sudah terlewatkan. Semua terhipnotis oleh senyum dan tawa ceria Fatin. Ada yang menunjukkan gambar fatin, ada juga yang memperlihatkan banner. Semuanya tanpak bahagia dan senang.
Satu jam terasa sangat singkat untuk orang yang terasa bahagia dan menikmati serta mensyukuri nikmatNya, Namun akan terasa lama jika waktu itu tidak kita gunakan dengan rasa tasyakkur terhadap pemberianNya. Fatin Shidqia Lubis memenuhi janji untuk berfoto bersama. Sambutan fatinistic membuat dia terasa lebih manis.
Cekrek…!!!!


“Terima Kasih semuanyaaa, assalamua’alaikum yaaa. Sampai ketemu lagi dirumah Januar nanti jam dua.”
Salam terakhir fatin sebelum kami semua beranjak menuju rumah Januar Pemenang Foto.



Dan bagaimana kisah selanjutnya Fatin Dirumah Januar Hand. Nantikan yaaaa….
maaf jika ada beberapa kata atau kalimat yang tidak berkenan, maklum udah lama gak nulis…
Hehehehhe. kritik dan saran tetap ditungguuuu yaaaaa

Fatin-fatin……


Tidak ada komentar:

Posting Komentar