Jagad menampakkan keindahan dengan polesan langitnya nan
biru. Terpancar aura pagi yang penuh semangat mulai bersemayam dalam setiap
jiwa-jiwa Fatinistic. Rumah Makan siap saji yang sudah tidak asing lagi
merupakan tujuan berkumpul pagi itu. Aku pun dengan segera memacu sepeda matik
merahku dengan perasaan yang tidak normal. Perasaan ingin segera bergabung
dengan para saudara-saudara baruku yang sama-sama berkaos biru. Perasaan ingin
melihat sang idola yang menyatukan berbagai karakter dalam satu pautan “Bukan
Fans, Tapi Keluarga”.
“Hayyyy, mas fitroh” Lelaki berkacamata hitam dengan
penampilan ala band jaman sekarang memhapiriku dan tanpa ragu salam persahabat
dia haturkan.
“ Hayyy juga Mas Musya”.
“Kamu sendirian?”
“ia aku sendirian, lagian aku udah biasa kok”
Perlahan aku menghampiri beberapa lelaki yang sedang duduk
melingkar wajahnya terlihat sumriyah dan didepannya terlihat beberapa makanan
dan minuman. Jabatan persahabatan kembali terasa hangat diperagakan, padahal ada
beberapa yang tidak aku tahu namannya. Kemudian disampingnya lagi ada beberapa
perempuan yang sama membentuk lingkaran yang semuanya dibalut oleh hijab
simple, namun membuat tampak anggun dipandang.
“Hayyy, Aku Fitroh. Salam kenal”
“Dari Madura kan?” Cowok jokja itu terasa tidak asing dengan
wajahku, namun tidak mengenal siapa namaku.
Dalam sekejab keakraban terjalin dengan sangat apik. Kami
semua bagaikan keluarga lama yang sudah berabad-abad tak bertemu. Tawa canda
sudah menjadi suguhan yang tak asing. Suara blits camera mulai menghiasi
suasana kebersamaan. Satu botol minuman tak bermasalah lagi diminum oleh siapapun.
Benar-benar aura yang sulit ditemukan ditempat manapun.
“Mas Musya, kapan ini mulai Acaranya di JTV?” Pertanyaan
simple namun agak serius itu akhirnya keluar juga dalam lidahku yang agak pikuk
logatnya. (maklum orang Madura taiiyeee)
“jam 10 Pagi katanya mas, tapi kita masih menunggu Mas Fikri.
Soalnya dia kan…”
“itu dia Mas Fikri” Musya belum sempat selesai berucap,
tiba-tiba Ucup yang duduk berhadapan denganku justru memotong nya. Dengan
serentak pandangan tertuju kearah yang ditunjukkan oleh Mas Ucup.
Terlihat dari kejauhan lelaki tinggi yang berbaju biru,
bahunya digantung oleh tas kecil. Tangannya seperti sibuk mengelus layar
sentuhnya. Dan disampingnya didamping oleh lelaki berjenggot, punggungnya
tertanam tas gendong yang lumayan besar, wajahnya di hiasi oleh senyuman yang
manis. (hehehehehe). Mereka Mas fikri dan Mas Rahman, Ponggawa Fatinistic Jawa
Timur. Kemudian dibelakangnya seorang perempuan sebaya mengikuti langkah
mereka. Dia tidak asing lagi dalam panca penglihatku. Dia adalah Mbak Adisty.
Aku berdiri dari dudukku yang nyaman. semuanya malah
ikut-ikutan berdiri. mereka lansung berjabat seperti biasanya, bahkan saling
berpelukan ala teletubis jaman dulu. Sedangkan perempuannya dengan teriak
kegirangan terekam dengan jelas dalam telingaku.
“Mas Bro kemana aja, kok begitu lamanya”. Biasa Musya lansung
menyambar pertayaan kecil itu.
“Biasalah ketua pasti datangnya belakangan” mas Rohman dengan
gaya nyengirnya membuat semuanya tertawa.
15 orang sudah berkumpul di tempat tunggu. Camera kembali
berfungsi setelah beberapa menit menganggur karena asyiknya ngobrol. Sedikit
penjelasan dari sang KEtua membuat suasana menjadi serius. Bentuk lingkaran
berubah menjadi besar, yang awalnya antara perempuan dan laki-laki terpisah.
“Ok saatnya kita berangkat ke lokasi, karena waktu kita
kurang 15 menit lagi” Komando dari sang ketua membuat semuanya secara otomatis
bergerak menuju lokasi. Kebahagian yang tak bisa terlukiskan oleh gambar-gambar
dan tak bisa diucapka oleh kata-kata serta tak bisa ditulis oleh
kalimat-kalimat telah melanda hati kami semua.
Langkah kami terus menuju lokasi dengan penuh semangat. canda
tawa tetap menghiasi langkah kami. Camera tidak lupa berperan dan menyimpan
keakraban dan kebersamaan kami dalam memorie mininya Hingga akhirnya berada
dalam suatu lokasi yang dituju.
Waktu terus berjalan sang Raja siangpun tidak diam saja. Dia
berperan sesuai dengan tugasnya. Kecerahan alam dan langit biru serta panas yang
menyengat tidak terasa akibat kebersamaan Fatinistic kala itu. Sang bayu pun menggerakkan dedaunan dan
menggoyangkan bunga-bunga di sekitar sehingga membuat pemandangan terasa lebih
lengkap.
Terlihat Mas fikri dan mas Rahman sedang berdiskusi dengan
pihak crew JTV. Tiba-tiba mereka berdua menghampiri saya dan yang lain. Dengan
langkah yang agak dipercepat dan wajah mas Rahman yang biasanya lucu berubah
seketika menjadi serius dan wibaya. Dia lansung memberi perintah kepada kami
semua seakan perang siap dimulai.
“Ingat sebentar lagi Fatin akan datang, keamanan jangan
sampai teledor. Yang laki-laki lansung siap menghampir mobil fatin dan lansung
amankan jalan. Ingat, disekitar kita ada yang bukan member fatinistic, takutnya
malah merusak situasi. Dan perempuannya tunggu didepan studio saja. Ingat
jangan alayyy atau lebay.”
“Siap pak ketua” serentak kami ucapkan dengan pelan, berharap
tak begitu didengar oleh pengunjung disekitar.
Koordinasi yang loyalitas ini sudah menjadi khas fatinistic.
Tanpa dibayar, tanpa disuruh. Namun entah kenapa organisasi ini bergerak secara
otomatis. Hal inilah yang membuat kesenangan dan kebanggaan tersendiri menyelimuti
kami semua. Fatin memang sosok yang beda. Dia mampu menyebarkan kekompakan
secara otomatis. kharisma yang jarang dimiliki orang khalayak membuat para
fatinistic semakin berkembang. Kesederhanaannya menjadi modal utama terlebih
lagi diiringi rendah hati yang membuat fatinistic terus bangga pada diri FAtin.
Mobil Putih mulai memasuki gerbang gedung. Semua fatinistic segera
bergerak menuju lokasi yang diperintahkan. Situasi sudah mulai ricuh dan ramai.
Pagar betis ala Fatinistic semakin mengencang. Teriakan mulai terdengar
dimana-mana. Mas Rahman yang tugasnya hanya menyambut sang idola berubah
menjadi keamanan dadakan. Hiruk pikuk semua orang membuat kami fatinistic
kewalahan.
Matahari panas yang menyengat telah kami lupakan sejenak.
Camera menjalar-jalar disamping mukaku. Desakan, dorongan hingga membuat kami
hampir kalah padahal fatin masih didalam mobil. Terlihat pintu mobil paling
depan terbuka, ternyata pihak sony yang keluar dari mobil dan berusaha
menenangkan situasi berharap kala fatin keluar dari mobil tak ada kericuhan
yang tidak diinginkan.
Kemudian terlihat sosok wanita mungil, anggun, cantik yang
diserta wajah polosnya namun terlihat ceria yang terpancar. Balutan kerudung
ala rabbani membuat mahkotanya semakin tampak indah dan mempesona. Fatin
Shidqia Lubis keluar dari kereta kecananya. Langit seakan kalah terang dengan
wajahnya. Matahari mulai malu dengan sinar wajahnya. Warna pink yang menghiasi tubuhnya
membuat bunga-bunga menjadi menunduk karena kalah indahnya.
Dia melangkah perlahan-lahan, dengan senyuman sederhana serta
sapaannya membuat seisi lokasi tersebut terdiam dan terbungkam seribu bahasa,
namun sebagian kecil masih berteriak histeris yang menandakan mereka bukan
Fatinistic.
“hay, gimana kabarnya” salam serta tos dia haturkan peluakan
hangat kepada fatinistic perempuan bukti bahwa dia tidak menganggap kami
sebagai fans, tapi keluarga.
“nanti kita foto-foto yaaa” ucapnya yang lembut dengan nada
sumriah dan ceria.
“siiippp…fatin-fatin”
“Foyaaaaaa” serentak lantunan yel-yel fatin berkumandang.
Fatin memasuki studio dengan aman dan nyaman. Semua
fatinistic merasa lega dan puas. Karena misi pengamanan berjalan dengan baik. Sementara
fatin berdandan didalam kami semua sedang duduk nyantai. Disampingku ada mas
rahman, mbak adisty, Ucup, Lizaa, Lisna sedangkan yang lain bergerombol agak
berjauhan.
letih, lesu sudah mulai menghapiri kami semua. Rasa lapar
mulai menyerang perut kami masing-masing. Suasana bungkam seribu bahasa sedang
melanda kami beberapa menit hingga akhirnya terpecah dari perkataan mbak
adisty.
"Padahal
sepele gitu yaaa"
"Apa
mbak" ekspresiku kala ucapan dari mbak Adisty terasa remang ditelinga.
"Itu
loh Bundanya Fatin Shidqia Lubis"
"Mang
napa bundanya Fatin mbak?" Rasa
penasaranku mengelana dengan penuh keingintahuan.
"Itu supir mobil yg ditumpangi Fatin
Shidqia Lubis dikasih dua botol air aqua, padahal bundanya udah didalam studio
dan didalam hanya diberi satu buat dirinya aja. eee malah minta 2 lagi. aq kira
mau dibawa sendiri. malah keluar dari studio dan menghampiri supir tua itu
untuk diberi minum" Penjelasan mbak Adisty diperhatikan oleh fatinistic yg
lain kala itu.
"Terus kenapa mbak emangnya?" Mella yang
pakaiannya biru dan bawahannya putih, karena dia mau praktek tiba-tiba
nyelaktuk dalam pembicaraan.
"yaa gak gitu mell, biasanya kebanyakan orang
tidak peduli seperti itu. ini padahal hal sepele gitu"
“Ya Mella, mungkin inilah salah satu hal yang
bikin kita bangga jadi fatinistic. Meski udah tenar, masih aja low profile”
Salah satu fatinistic yang lain menambahkan. Dia adalah Adi Koraksek
“Ia sich…, kita aja yang low profile terkadang
gak peduli” Timpalku supaya gak diam aja.
“ya, setiap insan manusia kan punya kelebihan
dan kekurangan masing-masing dan semoga saja semuanya bisa tetap menjadi
dirinya meski udah tenar, gak ada yang berubah” lanjut Adi.
Tiba-tiba Lelaki berkacamata hitam ala band
alias si Musya memegang dua bahuku dari belakang, sehingga membuatku
terperanjak. Diapun tidak mau kalah ikut serta berucap.
“Itulah Bunda Nurseha… seperti fatin…., kemarin
aja Pas di Delta Surabaya udah di ttd baju yang depan, terus minta lagi ttd
yang dibelakang baju. Menegernya Fatin ngelarang, tapi Fatin tetap menanda tangani Baju Fatinistic
tersebut. Demi Fans Haiiideeehhh HACEP dechh… gak rugi jadi fatinistic”.
“Iya bener banget tuch, Buanyak banget
pelajaran selama dua hari ngintilin FAtin. Apalagi sosok Bunda Nurseha. Selain
cerita diatas, paling aku salut itu waktu di Istara. Ditengah eoforia anaknya
yang lagi digemari banyak orang, ternyata didalam mobil bunda baca Al-qur’an.
Subhanalloh banget…”. Mbak adisty dengan logat keibuannya bercerita kejadian
kemarinnya.
Aku agak kudet mendengar cerita mereka. Karena
kemarinnya aku tidak ikut serta karena ada acara yang lain. Rasa heranku
mengelayut dicampur dengan selipan kagum yang perlahan-lahan meneyelinap dalam
jiwa.
“Beneran mbak?, wah patut dicontoh tuch”.
“Ia bener, terus yang buat aku wah, ternyata
Bunda Nurseha Perhatian sama Rama, Buktinya pertama datang di Radio yang
ditanya pertama ke aku Rama. “lho mana dedeknya?”. Padahal sebelumnya
belum pernah ketemu. Berarti bunda juga perhatian ma kalian semua” mbak adisty
sedikit curhat tentang Putra kecilnya yang digendong oleh Bunda Fatin di radio.
“Wah Segitunya ya mbak, berarti Bunda Fatin
idola baru nich”.
“iya donk, sekarang Bunda nurseha jadi idolaku
untuk menjaga anakku, juga idola baru untuk kalian yang mau cari istri.
Hehehhe”
Percakap ringan tersebut telah menggugah setiap
hati fatinistic untuk lebih menjadi kagum terhadap Fatin Shidqia Lubis dan
bangga menjadi fatinistic. Bahkan siang yang semakin larut membuat rasa lapar
kami tak terasa hingga acara fatin yang siap perform di JTV sampai terlupakan bahwa
akan dimulai.
“Heyy, ayoo fatin udah keluar tuch” Mas Fikri
sedari tadi sibuk terhadap layar sentuhnya tiba-tiba mengagetkan kami semua
yang sedang duduk.
Serentak kami berdiri bak tentara yang
dikomando. Kompak dan sama. Idola yang ditunggu sudah berlaga dengan gaya
khasnya. Semua fatinistic terlihat berbinar-binar, hingga melupakan bahwa waktu
makan siang sudah terlewatkan. Semua terhipnotis oleh senyum dan tawa ceria
Fatin. Ada yang menunjukkan gambar fatin, ada juga yang memperlihatkan banner.
Semuanya tanpak bahagia dan senang.
Satu jam terasa sangat singkat untuk orang yang
terasa bahagia dan menikmati serta mensyukuri nikmatNya, Namun akan terasa lama
jika waktu itu tidak kita gunakan dengan rasa tasyakkur terhadap pemberianNya.
Fatin Shidqia Lubis memenuhi janji untuk berfoto bersama. Sambutan fatinistic
membuat dia terasa lebih manis.
Cekrek…!!!!
“Terima Kasih semuanyaaa, assalamua’alaikum
yaaa. Sampai ketemu lagi dirumah Januar nanti jam dua.”
Salam terakhir fatin sebelum kami semua
beranjak menuju rumah Januar Pemenang Foto.
Dan bagaimana kisah selanjutnya Fatin Dirumah
Januar Hand. Nantikan yaaaa….
maaf jika ada beberapa kata atau kalimat yang tidak berkenan, maklum udah lama gak nulis…
maaf jika ada beberapa kata atau kalimat yang tidak berkenan, maklum udah lama gak nulis…
Hehehehhe. kritik dan saran tetap ditungguuuu yaaaaa
Fatin-fatin……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar