Terkisah
berawal dari sebuah taman yang indah dan mempesona untuk menghilangkan rasa
jenuh serta gundah di setiap hati yang sedang memiliki kepenatan hati. Jasmine
berjalan di sederetan bunga – bunga yang bermekaran. cuaca yang begitu
cerahnya, angin yang sejuk untuk dirasakan, warna hijau yang begitu membahana
dalam setiap mata mamandang, Namun tak sejalan dengan wajah anggun Jasmine.
Rawut wajahnya seakan mendung, kusut bahkan seakan kehilangan senyumnya.
Jasmine
duduk ditempat yang rindang. Mata alam pikirannya menjelajah keruang dimensi
yang sangat jauh disana. Tampa dia rasakan setetes air mata bergelinangan
diantara mata merokahnya hingga mengaliri pipi putihnya, bak salju yang
mencair. Sekilas dalam lamunannya terbersit wajah seorang lelaki pujaan
hatinya. Lelaki yang sangat dia cinta dan sayangi. Lelaki yang kini menjadi
tunangannya Jasmine. Namun lelaki itu pergi nan jauh disana mencari ilmu
disembrang sana.
“ Ya
alloh, Ya Rohman, Ya Rohim. Rahmat-Mu, Taufiq-Mu, serta Hidayah-Mu. Semoga
tetap selalu hadir dalam setiap langkahnya. Berikanlah mahabbah Rasul-Mu,
sehingga tunanganku selalu terpatri dalam dalam setiap alur ajaran-Mu. Jauh dia
dari mala bahaya dan mala petaka, jauhkan dia dari segala sesuatu yang bisa
menjauhkan diri dari ridho-Mu. Ya Alloh, ya Rohman, Ya Rohim. Kuat hamba juga,
sehingga hanba selalu bisa menghadapi hubungan ini.”
Waktu
terus berputar sebagaimana mestinya, Tapi tampa terasa jam menunjukkan pukul
11.30 WIB. Dia terperanjak dari lamunannya, Dimana bulir-bulir kerinduannya
terpecak oleh suara alunan sholawat yang membahana diantara taman dan menyebar
diantara pepohonan-pepohonan. Jasmine segera berlari pulang, karena hari ini
dia harus pergi ke suatu tempat. Tempat yang akan mengisi kesehariannya tampa
pujaan hati disisihnya. Jasmine akan didaftarkan ke Universitas Angkatan
Kebidanan.
Kakinya
semakin dipercepat, air matanya yang menetes hebat, Lansung diusapnya, Berharap
kedua orang tuanya tidak curiga dengan apa yang dia rasakan. Melintasi lorong –
lorong di sebuah gang kecil dia belok kiri di pertigaan. Rumahnya memang
dipinggir jalan raya, namun Jasmine masuk melalui belakang rumahnya, sehingga
masih berputar melewati gang samping rumahnya.
“Jamine,
Jasmine ayo sholat dhuhur.”
Terdengar
teriakan ibunya dari muholla rumahnya
“ Iya,
iya ma, aku masih ambil wudhu dulu.”
Bulir-bulir
kerinduan Jasmine semakin terobati oleh keheningan sholat berjema’ah bersama
keluarganya. Alam yang semakin panas dan matahari semakin perkasa memancarkan
sinarnya menambah suhu diatas normalnya. Namun menghadap ilahy robby tak
membuat keluarga jasmine merasakan suasana panasnya siang itu. Selain didalam
musholla ada kipas anginnya. Suara dzikir
menambah sejuknya jiwa.
“Jasmine
kamu harus siap-siap untuk pergi ke AKBID.” Ujar
bapak Jasmine
“Ia
yah, tapi…” Bungkam seribu bahasa
“Tapi
kenapa? Jasmine.” Sahut
ibundanya
“Apa
aku bisa ngejalaninya, Aku kan tidak terlalu bisa, apalagi sekarang aku lagi…”
Ayah
Jasmine lansung mengambil alih pembicaraan Jasmine dengan berusaha memantapkan
Hati Jasmine yang sedang sedih akibat Tunangannya yang baru kemarin berangkat
ke Luar Negeri untuk menuntut ilmu.
“
Jasmine anakku, kamu harus kuatkan dirimu, kamu harus memantapkan niat dan
tekatmu, Tunanganmu disana sedang menimba ilmu yang lebih barokah dan manfaat.
Kamu juga harus fokus dengan perkuliahan ini. Alloh pasti akan memberikan yang
terbaik untuk umatnya yang tabah dan bersabar.”
Tampa
banyak basa-basi lagi Jasmine langsung pergi kedalam kamarnya dan mengganti
baju. Dia sadar bahwa setelah dia menjadi Mahasiswa waktu dan tenaganya akan
tersita. Berusaha Jasmine mantapkan hati dan jiwannya supaya dia tetap selalu
istiqomah, Sabar Serta ikhlas menjalani ini semua.
***
Moh.
Fitroh / Fiterozero terlahir di Sampang, 03 Pebruari 1988, tinggal di jl. Raya
Pangilen Sampang-Madura Jawa timur.
Sampang, 13 Desember 2012
(Terik Matahari - Pulau Garam Madura)