Kamis, 23 Januari 2014

Sepenggal Kisah Fatinistic, Fatin Shidqia Lubis dan Bunda Fatin Part 2


Ulang Tahun Januar Hand ke 24

 
Terik sang surya yang terpancar ke segala saentero persada. Panasnya berada diatas standart. Gumpalan awan putih yang menyebar dan membumbung dilangit biru pertanda siang menampakkan kecerahanya. Tubuh terasa dimasak dalam uap yang mendidik. Lalu lalang kendaraan bermotor juga ikut menghangatkan suasana. Namun Angin tidak tinggal diam saja. Sepoinya sesekali meniup disela-sela rambut. Semilirnya terkadang membuatku sedikit lega dan sejuk.
Para fatinistic bergegas dengan hati riang dan gembira menuju parkir sepeda depan rumah makan ayam siap saji. Lambayan tangan dan langkah kaki mereka seakan berapi-api penuh kesemangatan. Kebersamaan mereka tak bisa dilafadkan hanya dengan tulisan belaka. Tawa canda mereka akan selalu terekam disetiap kalbu dan jiwa mereka dalam bentuk Moment yang tak terlupakan.
“Mbak Adisty, Janu udah dikasih tahu gak” Dalam lari-lari kecil aku menghampiri wanita yang memiliki 1 orang putra dan kebetulan berada paling depan.
“Sudah di SMS kok”.
“Mbak boleh aku ngomong sebentar gak?” Raut wajahku sedikit lebih serius.
“Apa mas?”.
“Gini mbak, janu kan ulang tahun. temanku yang dari Madura bawa kue ulang tahun. tapi lilinnya belum ada. Gimana donk, sebelum nyampek kerumah janu beli dimana gitu mbak”.
“Wah gimana yaaa?, kalau ada Erly pasti dia semangat dech. Oia ada mas Musa, dia kan deket rumahnya Janu. Sapa tahu bisa beli lilin didaerah sana” Terlihat wajah Adisty sedikit bingun.
“ Ada apa ini?” Tiba-tiba Mas Rahman dan Mas Musya berada disampingku.
“Gini Mas, Janu kan ulang tahun. Kira-kira dimana beli lilin. Kalau kuenya udah ada sich. Mas Musya ini yang yang tahu daerah sana” Simple penjelasan Adisty lansung ke intin yang dimaksud.
“Iya Mas” Dua kata dariku itu sedikit menguatkan penjelasan Adisty.
“Ayo Mas Musya gimana tuch?. Ini pasti hadiah yang paling terindah buat Janu di tahun ini” Mas Rahman memberi dorongan, berharap Musya segera menjawab selusi.
“Udah gampang. Ketemu nanti aja” Dengan santai Musya menjawabnya.
Perbincangan di Parkir itu cukup melegakan perasaanku yang sedari tadi Sedikit bingun. Maklum aku tak begitu mengetahui daerah Surabaya yang termasuk kota terbesar kedua setelah DKI.
Semua sudah siap untuk berangkat menuju rumah Dwi Januar Hand. Lelaki yang beruntung karena terpilih oleh Fatin Shidqia Lubis untuk didatangi rumahnya. Lelaki yang saat itu genap 24 tahun. Hadiah yang sangat special dihari ulang tahunnya.
“Tunggu, dari Madiun Nich kasian gak ada temannya. Siapa yang mau boncengin?” tukas Fikri.
“Mas Ucup aja tuch, sekalian Modus. Hehehe” Ledek Musya dengan khas ketawanya yang lucu.
“Ayoo Sini, bareng aku” Ucup dengan tegas memanggil Cewek Madiun tersebut.
“Oia Mas Janu sms nich, dia minta di beliin somai. Beli dimana yaaa?” Adisty juga melontarkan suaranya kembali.
“Biar aku mbak yang beli” Tangan kananku lansung dimasukkan kedalam saku celana disamping kanan dan mengambil dua lembar uang lima ribuan serta beberapa uang dua ribuan. Segera ku berjalan menuju tukang somai yang berada di sebelah parkir.
“Ia mas Fitroh, kami bergerak duluan yaa, aku tunggu dipinggir jalan depan Hotel Alena” Sahut Musya sembari menghidupkan sepeda motornya. Kemudian disusul Fatinistic yang lain.
“Ok Mas”.



Semua sudah melajukan sepedanya masing-masing. mas musya, Vendi, Fikri dengan Rahman, Ucup dengan wanita madiun, Resa (fatinistic Jokja) dengan Cowok fatinistic Madiun, Mbak Adity, Lisna dengan Lisaa_SL, serta yang lainnya telah meninggalkan parkir. Sementara aku masih menunggu Somai pesanan Januar yang sengaja dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Fatin Shidqia Lubis.
Jam terus terus berputar dan menunjukkan pukul 12.30 WIB. Segera lari-lari kecil aku menuju sepeda matik merahku dan menghidupkan startnya. Somai sudah kugantung disepeda. Laju sepeda lansung kupercepat berharap keluarga Fatinistic tidak terlalu lama menunggu.
“Ayoo.. mas…” Sambil Melambaikan tangan kiriku kepada fatinistic yang lain. Mas musya menyusulku kemudian vendi berada disamping kananku. sedangkan yang lain berada dibelakang serentak. Dengan seketika jalan Ketintang Berubah menjadi lautan kaos biru ala Fatinistic, namun lambang dan logo di punggungnya berbeda-beda. Surabaya, Madiun, Jokja, Sidoarjo. Semua menyatu dalam wadah kemunitas yang solid dan bukan hanya sekedar FansClub, namun menamakan sebagai Keluarga.
Sepeda yang beragam terus melaju. Kecepatannya semakin bertambah. Akupun tidak mau kalah untuk memutar gas sepeda matikku. Sepeda kami  beragam. Supra, Mio, VArio, Beet. Semua berlomba-lomba mengejar waktu menuju rumah Janu. Terlihat dikanan kiri bangunan-bangunan ala kota besar pada umumnya. Musya berhenti dilampu merah daerah Balong Sari. Semua fatinistic juga ikut berhenti. Namun aku tak melihat sepeda dari Lisna.
“Mas, pelan-pelan, Lisna masih ada dibelakang” teriakku kepada Musya.
Lampu Merah terlihat berubah menjadi Hijau. Musya dan yang lain melajukan sepedanya. namun tidak secepat biasanya. Sementara kecepatan sepedaku tidak lebih dari empat puluh kilometer perjam. Yang awalnya posisiku berada dibelakang Musya. Kali ini aku berada di paling belakang mendampingi Lisna dan Lisaa_SL. Cara nyetir lisna memang agak kaku dan tak selincah fatinistic yang lain. Entah kenapa secara otomatis aku menjadi pemerhati kedua wanita tersebut. Dalam rasaku mengalir ketakutan yang tak biasa. Ketakutan terjadi apa-apa terhadap dua wanita itu. Ketakutan mereka berdua nyasar dan ketinggalan jauh. Perasaaan merasuk tipis dalam benakku.
Sebelum memasuki daerah Manukan semuanya berhenti. Musya tak terlihat batang hidungnya. Aku kira mereka salah arah dan ketinggalan jauh dari sang petunjuk arah alias Musya. Tapi ternyata Musya masih mampir kerumahnya. Lisnapun mulai menepikan sepedanya kesamping dan bergabung dengan yang lainnya.
“Lisna, Kamu gak bisa lebih cepat lagi gak?” Tanya Adisty dengan nada perhatian.
“Aku udah Full ini mbak” tukas Lisna singkat.
“Gini aja, Mas Rahman yang pakek sepeda Lisna dan Lisnanya boncengan. Kemudian Lisaa_SL boncengan sama Saya” Usul Dari Adisty.
“ia mbak” jawab Lisna.
Melihat sosok adisty yang perhatian pada Lisna dan Lisaa tampa disadari aku merasa kagum terhadap wanita itu. Sepintas ku teringat pada bunda FAtin yang selalu perhatian terhadap FAtinistic. Wajahnya yang bersahaja membuat semakin nyakin bahwa dia bukan sekedar bunda biasa buat anak-anaknya. Dia adalah bunda yang luar biasa dan dahsyat.
Musya akhirnya muncul dan melambaikan tangannya pertanda untuk segera mengikutinya. Tampa basa-basi kami semua memacu sepedanya masing-masing. Melewati daerah Manukan kemudian belok kiri melewati Jl. Banjar Sugihan sebelum akhirnya belok kiri melalu Jl. Bringin. Dimana rumah janu berada didaerah Bringin tersebut. Semua sepeda terus dipacu melewati mobil besar dan bok pengankut barang. Sementara diriku berada dibelakang. Karena tangan ku terasa sakit akibat keseleo saat ngerim mendadak dan hampir menabrak truk besar pengankut barang. Untung saja sepedaku segera kubanting kekiri.
Sampailah kerumah Janu. Fatinistic sudah berkumpul dan mulai masuk keruang tamu. Kurang lebih sekitar 20 orang yang berada disana. Karena sebagian besar Fatinistic yang lain berada di Manyar untuk mengikuti Meet and Greet dengan Fatin setelah acara dirumah Janu. Rumah Janu terlihat tidak seperti biasanya. Ruang tamu berubah manjadi lautan biru. Keramaian yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan kamarnya telihat tumpukan tas fatinistic yang datang. 


Terlihat Para Laskar Lelaki yang muncul dari dalam kamar Janu. Dengan baju biru yang menghiasi tubuh mereka bagaikan Boy Band yang akan siap tampil. Aswary, Lee, dan Nanaz. Mereka bersalam dengan fatinistic yang lain. Dan tiba-tiba terlihat satu orang lelaki lagi yang tidak asing dalam pandanganku. Seketika tangan lelaki itu menjabat tanganku dan menciumnya. Tersentak ku menarik tanganku seketika. Ternyata Salah satu Muridku yang dari Madura ikut serta para laskar. Banyak mata yang memanah kearahku. Mukaku perlahan berkerut dan memerah seperti jambu merah muda.
“Siapa itu Mas Fit” Ucup meledekku.
“Muridku dari Madura dan mereka bertiga adalah Laskar lelaki yang telah membantu membentuk kepengurusan FAtinistic Madura” Tanpa ragu aku jelaskan dengan singkat.
“Wah… pantesan sampek nyungkem gitu yaaa. Hehehe.. ternyata pak guyuuu” Musya mulai menggoda lucu.
“Sudah-sudah silahkan duduk semua” Janu dengan lembut mempersilahkan kami semua. karena dia termasuk anggota laskar Lelaki juga, sehingga sedikit mengalihkan pembicaraan yang memojokkanku.
“Wah kayak mau ada acara Maulid Nabi” Rahman ketua Jatim mulai melucu. Sehingga membuat beberapa fatinistic tertawa.
“Mas lihat VC Dia-Dia-Dia yang modelnya LIsaa donk” Dengan raut wajah malu aku meminta kepada Rahman supaya Laptopnya bisa dibuka dan play VC Dia-Dia-Dia cover Fatin ala Surabaya Yang Modelnya adalah Fatinistic Surabaya. Dia adalah @Liisa_SL.
Suasana keakraban yang nyaman untuk diperaktekan dimana saja berada diruang tamu Janu. Para laskar Lelaki juga ikut berbaur ditengah Fatinistic Surabaya menambah kelengkapan. Januar hand sang tuan rumah terlihat sibuk keluar masuk. Sesekali mempersilahkan fatinistic untuk minum air. Camera Digital yang dimiliki Janu melayang bersama blitsnya kesana-kemari. Entah apa yang dirasakan olehnya. Wajahnya terlihat tegang. Senyumnya yang dilontarkan tampak berbeda. Dia seakan melayang kegirangan menuju langit ketujuh. Dia seakan merasakan kelengkapan yang dahsyat dihari ulang tahunnya. Ada Laskar lelaki sahabat terbaiknya. Ada fatinistic FansClub yang paling solid saat ini. Serta yang paling special ada sang bintang idolanya Fatin Shidqia Lubis juga ada Bunda dan Ayahanda yang sangat sayang terhadapnya.
Lingkaran jam yang menempel di dingding teras begitu sangat lambatnya. semua wajah fatinistic tampak mulai letih dan lesu. Laptop yang sedang memutar VC sudah kembali detik awal lagi. Lisaa mulai maju ke depan laptop milik sang ketua dan mulai mengeryitkan dahinya.
Pandanganku tertuju pada model itu. Terlihat wajahnya lucu. Desiran tipis menyusup lembut dalam jiwaku. “Kok Bisa ya dia jadi Model VC itu”. Gumamku menari-nari dalam kalbu yang paling dalam.
“Fitroh, masih lam yaa?” Aswary berbisik dibalik telingaku dan membuatku tersentak dari pandanganku terhadap soso Lisaa.
“Aku juga gak tahu. Ini kan kejutan buat Janu, cuman kata FAtin tadi jam dua gitu” Dengan bisikan juga aku balas pertanyaan aswari.
“Ayooo… kita keluar sebentar lagi Fatin Datang” Tiba-tiba Pak Ari mengomandoi fatinistic yang sudah mulai lemes.
“Ayooo semangat donk” Tambah Pak Ari dengan lantangnya.

Mereka lansung berdiri dan keluar serta berbaris bak tentara yang siap menyambut Ibu Negara. Laskarpun juga mengikuti mereka semua. ada yang siap mengawal mobil Fatin dijalan raya. Ada juga yang sekedar duduk santai sambil foto-foto. Sementara perempuannya membersihkan ruang tamu Janu.
Mobil putih yang ditunggu sudah terlihat dari kejauhan. Fatinistic bersiap-siap untuk mengawal seperti biasanya. Para tetangga Januar mulai bergerak keluar. Kerumunan anak kecil juga memadati daerah rumah Janu. sementara Janu masih didalam rumah Entah apa yang dilakukan. Yang pasti hari ini januar akan mendapatkan kejutan yang indah. Mobil yang ditumpangi Fatin memasuki halaman rumah janu. Seperti biasanya FAtin tidak lansung keluar dari mobil. menegernya fatin yang duduk didepan lansung menghampiri Janu supaya dia masuk kedalam rumah dulu. Sementara diriku masuk kedalam rumah nenek Janu yang berada disebelah utara rumahnya. Kue Ultah ala Laskar Lelaki aku persiapkan dan diam-diam aku tunjukkan ke FAtin yang berada didalam Mobil
“Subhanalloh manisnya” kata FAtin.
“Oia lilinnya mana” lirih Bunda FAtin.
“Ini, Angka dua puluh Empat” Lansung aku pasang terbalik empat puluh dua diatas kuenya.
“Hahaha… salah tahu, angkanya terbalik” dengan ketawa lucu fatin menegorku.
“Gokil abiss, nanti aku tabokin kemuka Janu pas didalam rumah” Tambah bahasa lucu fatin sambil nyengir senang.
“pokoknya harus seru lo ntin” Tambahku sebelum aku menjauh dari mobil Fatin.
Fatinpun keluar dari dalam mobil. Suasana seperti tidak bisa dikendalikan. Camera mulai terngkat di segala sudut. Fatinistic seketika berubah menjadi pagar besi yang kokok dan kuat. Adegan kejutan untuk Januar Hand akan segara datang. FAtinpun memegang kue dan mulai menghidupkan Lilin angkanya. Dengan senyum merona fatin menghipnotis para fans atau keluarganya. 





“Fatin-fatiiiiiin” Musya dengan begitu sangat kerasnya keluarkan kode Fatinistic. Bahkan kata fatin kalau berada diruang angkasa dan bertemu dengan elien. Dia akan bilang “Fatin-fatiin”. Jika mereka jawab Foyaaa. Maka fatin akan ngajak foto bareng yang menandakan mereka itu fatinistic. Begitu tulisan dalam buku Fantastic Fatin. Dengan serentak para fatinistic dan lantang melambungkan  kata foyaaaaa sehingga terkumandangkan hingga mengelegar di area rumah Janu.
Dengan mengendap-ngendap langkah Fatin kedalam rumah Janu. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun. Kemudian dikuti oleh fatinistic dibelakangnya camera juga tidak diam saja. Record, shoot sudah menjadi pemandangan yang meramaikan suasana. Laskar juga tidak mau kalah. Nanas merekam tingkah laku Fatin  dengan Ponselnya. Sebagian dari mereka semua berubah menjadi fotografer dadakan.
Terlihat wajah kaget Januar Hand terpancar kesegala pandangan mata. Tawa dan senyumnya tak mampu dibedakan lagi. Bahasanya terbungkam sedemikian rupanya. tubuhnya kaku tak bergerak. Ritual Ulang tahun bergema disetiap dingding rumah Janu. Suara lembut sang Diva mengalun lembut menusuk kalbu. Setiap ijab yang keluar dalam bibirnya manis dan  mempesona menggetarkan setiap panca pendengar. Super bahagia Janu membuat khalayak seseorang menginginkannya.
Tiupan Janu pada lilin yang terletak diatas kue berbalut warna biru bertuliskan Selamat Ulang Tahun buat Januar Hand yang bewarna coklat membias dan mematikan nyala lilinnya.dimana yang sebelumnya Dia hentakkan doa dalam hati yang terdalam. Entah apa yang dia pinta. Intinya sesuatu yang berarti dalam usia selanjutnya.
Tepuk tangan membahana dengan irama yang tak bernada, namun sangat indah untuk didengar. Keluarga janu menghampiri putra kebanggaannya tersebut. Jabatan tangan FAtin menyambar lembut tangan sang bunda. Kulit yang keriput menghiasi area wajahnya. Balutan kerudungnya masih membuat terlihat masih cantik untuk dipandang. Matanya seakan berkaca-kaca. Haru menyelinap kuat dalam hatinya. Blitspun tidak tinggal diam mengagendakan moment tersebut dan menyimpannya dalam agenda yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun.
Sekilas tak sempat terlihat oleh camera tangan fatin memoleskan wajah Janu dengan cream kue yang tebal. Seketika mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil. Janu juga tidak mau kalah ingin membalasnya, tapi sayang tak bisa. hal itu dikarenakan Fatin harus menghadir acara sebentar lagi. Laskar juga membuat wajah tambah hancur dan amburadul oleh kue birunya. Rambutnya berubah kental seperti diberi gel rambut yang sangat mahal.
“Ya sudah, kami dari pihak Fatin dan tim menegemen, mengucapkan selamat Ulang tahun yang ke 24 buat Januar Hand.” Menegemen fatin akhirnya mengeluarkan suara dan membuat suasana menjadi sunyi seketika.
“Mohon maaf untuk semuany FAtin harus segera kembali, karena masih ada acara setelah ini” tambah menegemen Fatin.




Setiap acara pasti ada akhiran. Kalimat itu yang sudah sering kali keluar dari banyak orang akhirnnya selesailah acara ritual kejutan Janu. Fatin sudah beranjak dari rumah Januar Hand namun bahagianya masih terus tergambar jelas dalam epidermis hati Janu dan sekalian Fatinistic juga Laskar.
“Fatin-Fatiiiiin”
“Foyaaaaaa”
“Tin-Fatiiiinn”
“Yaa-Foyyaa ta’iye”
Ulang Tahun ke 24 Janu yang super seru dan dahsyat. Kehadiran Laskar Lelaki, Fatinistic serta Fatin Shidqia Lubis merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelum. Akupun ikut merasakan kebahagian dan kebanggaan yang kuat. Tak terasa mataku teraliri air kesemangatan. Rasa haru membiru menusuk dengan sangat hebat dalam kalbu. Memang baru empat tahun Laskar terbentuk, namun persahabatan kami tak sering kali hancur oleh perbedaan karakter, suku bahkan pendidikan. Melihat Janu dengan tawa bahagianya membuat kami semakin bangga terhadapnya.
Selamat Ulang Tahun Dwi Januar Hand (Laskar 2).
Semoga Rahmat, Taufiq serta Hidayah Alloh selalu menyertaimu.
Oia sebelum aku beranjak pulang dari rumah Janu. ada WA yang masuk dari sahabat Janu juga. Dia bernama Ali. Kelahiran Madura, tapi tumbuh dan besar di Malang. Sekarang Dia kerja di Surabaya. Dia mengucapkan rasa kagum terhadap FAtin dan Bunda Fatin. Serta selamat terhadap Janu.


Assalam. Subhanalloh Mas, Bunda Fatin sungguh sangat baik dan ramah. Kala semua bersenang-senang didalam rumah janu. ibunya mau menyusul kedalam, tapi gak jadi akibat terlalu ramai. Aku menyapanya dan meminta foto bareng beliau. Ternyata beliau tidak menunjukkan sikap sombong dan acuh. Padahal aku tidak memakai baju Fatinistic. Tapi beliau malah dengan mengiyakannya. Pokok semoga karir Fatin terus barokah. Oia salam juga buat Januar. Maaf lansung pulang tampa pamit.Wassalam
***
Semoga terhibur, kritik dan saran semoga membuat tulisanku lebih baik untuk selanjutnya. Maaf jika ada moment yang tidak sesuai dan terlupakan.

Minggu, 19 Januari 2014

Sepenggal Kisah Fatinistic, Fatin Shidqia Lubis dan Bunda Fatin di Surabaya


Jagad menampakkan keindahan dengan polesan langitnya nan biru. Terpancar aura pagi yang penuh semangat mulai bersemayam dalam setiap jiwa-jiwa Fatinistic. Rumah Makan siap saji yang sudah tidak asing lagi merupakan tujuan berkumpul pagi itu. Aku pun dengan segera memacu sepeda matik merahku dengan perasaan yang tidak normal. Perasaan ingin segera bergabung dengan para saudara-saudara baruku yang sama-sama berkaos biru. Perasaan ingin melihat sang idola yang menyatukan berbagai karakter dalam satu pautan “Bukan Fans, Tapi Keluarga”.
“Hayyyy, mas fitroh” Lelaki berkacamata hitam dengan penampilan ala band jaman sekarang memhapiriku dan tanpa ragu salam persahabat dia haturkan.
“ Hayyy juga Mas Musya”.
“Kamu sendirian?”
“ia aku sendirian, lagian aku udah biasa kok”
Perlahan aku menghampiri beberapa lelaki yang sedang duduk melingkar wajahnya terlihat sumriyah dan didepannya terlihat beberapa makanan dan minuman. Jabatan persahabatan kembali terasa hangat diperagakan, padahal ada beberapa yang tidak aku tahu namannya. Kemudian disampingnya lagi ada beberapa perempuan yang sama membentuk lingkaran yang semuanya dibalut oleh hijab simple, namun membuat tampak anggun dipandang.
“Hayyy, Aku Fitroh. Salam kenal”
“Dari Madura kan?” Cowok jokja itu terasa tidak asing dengan wajahku, namun tidak mengenal siapa namaku.
Dalam sekejab keakraban terjalin dengan sangat apik. Kami semua bagaikan keluarga lama yang sudah berabad-abad tak bertemu. Tawa canda sudah menjadi suguhan yang tak asing. Suara blits camera mulai menghiasi suasana kebersamaan. Satu botol minuman tak bermasalah lagi diminum oleh siapapun. Benar-benar aura yang sulit ditemukan ditempat manapun.






“Mas Musya, kapan ini mulai Acaranya di JTV?” Pertanyaan simple namun agak serius itu akhirnya keluar juga dalam lidahku yang agak pikuk logatnya. (maklum orang Madura taiiyeee)
“jam 10 Pagi katanya mas, tapi kita masih menunggu Mas Fikri. Soalnya dia kan…”
“itu dia Mas Fikri” Musya belum sempat selesai berucap, tiba-tiba Ucup yang duduk berhadapan denganku justru memotong nya. Dengan serentak pandangan tertuju kearah yang ditunjukkan oleh Mas Ucup.
Terlihat dari kejauhan lelaki tinggi yang berbaju biru, bahunya digantung oleh tas kecil. Tangannya seperti sibuk mengelus layar sentuhnya. Dan disampingnya didamping oleh lelaki berjenggot, punggungnya tertanam tas gendong yang lumayan besar, wajahnya di hiasi oleh senyuman yang manis. (hehehehehe). Mereka Mas fikri dan Mas Rahman, Ponggawa Fatinistic Jawa Timur. Kemudian dibelakangnya seorang perempuan sebaya mengikuti langkah mereka. Dia tidak asing lagi dalam panca penglihatku. Dia adalah Mbak Adisty.
Aku berdiri dari dudukku yang nyaman. semuanya malah ikut-ikutan berdiri. mereka lansung berjabat seperti biasanya, bahkan saling berpelukan ala teletubis jaman dulu. Sedangkan perempuannya dengan teriak kegirangan terekam dengan jelas dalam telingaku.
“Mas Bro kemana aja, kok begitu lamanya”. Biasa Musya lansung menyambar pertayaan kecil itu.
“Biasalah ketua pasti datangnya belakangan” mas Rohman dengan gaya nyengirnya membuat semuanya tertawa.
15 orang sudah berkumpul di tempat tunggu. Camera kembali berfungsi setelah beberapa menit menganggur karena asyiknya ngobrol. Sedikit penjelasan dari sang KEtua membuat suasana menjadi serius. Bentuk lingkaran berubah menjadi besar, yang awalnya antara perempuan dan laki-laki terpisah.
“Ok saatnya kita berangkat ke lokasi, karena waktu kita kurang 15 menit lagi” Komando dari sang ketua membuat semuanya secara otomatis bergerak menuju lokasi. Kebahagian yang tak bisa terlukiskan oleh gambar-gambar dan tak bisa diucapka oleh kata-kata serta tak bisa ditulis oleh kalimat-kalimat telah melanda hati kami semua.
Langkah kami terus menuju lokasi dengan penuh semangat. canda tawa tetap menghiasi langkah kami. Camera tidak lupa berperan dan menyimpan keakraban dan kebersamaan kami dalam memorie mininya Hingga akhirnya berada dalam suatu lokasi yang dituju.
Waktu terus berjalan sang Raja siangpun tidak diam saja. Dia berperan sesuai dengan tugasnya. Kecerahan alam dan langit biru serta panas yang menyengat tidak terasa akibat kebersamaan Fatinistic kala itu. Sang  bayu pun menggerakkan dedaunan dan menggoyangkan bunga-bunga di sekitar sehingga membuat pemandangan terasa lebih lengkap.



Terlihat Mas fikri dan mas Rahman sedang berdiskusi dengan pihak crew JTV. Tiba-tiba mereka berdua menghampiri saya dan yang lain. Dengan langkah yang agak dipercepat dan wajah mas Rahman yang biasanya lucu berubah seketika menjadi serius dan wibaya. Dia lansung memberi perintah kepada kami semua seakan perang siap dimulai.
“Ingat sebentar lagi Fatin akan datang, keamanan jangan sampai teledor. Yang laki-laki lansung siap menghampir mobil fatin dan lansung amankan jalan. Ingat, disekitar kita ada yang bukan member fatinistic, takutnya malah merusak situasi. Dan perempuannya tunggu didepan studio saja. Ingat jangan alayyy atau lebay.”
“Siap pak ketua” serentak kami ucapkan dengan pelan, berharap tak begitu didengar oleh pengunjung disekitar.
Koordinasi yang loyalitas ini sudah menjadi khas fatinistic. Tanpa dibayar, tanpa disuruh. Namun entah kenapa organisasi ini bergerak secara otomatis. Hal inilah yang membuat kesenangan dan kebanggaan tersendiri menyelimuti kami semua. Fatin memang sosok yang beda. Dia mampu menyebarkan kekompakan secara otomatis. kharisma yang jarang dimiliki orang khalayak membuat para fatinistic semakin berkembang. Kesederhanaannya menjadi modal utama terlebih lagi diiringi rendah hati yang membuat fatinistic terus bangga pada diri FAtin.
Mobil Putih mulai memasuki gerbang gedung. Semua fatinistic segera bergerak menuju lokasi yang diperintahkan. Situasi sudah mulai ricuh dan ramai. Pagar betis ala Fatinistic semakin mengencang. Teriakan mulai terdengar dimana-mana. Mas Rahman yang tugasnya hanya menyambut sang idola berubah menjadi keamanan dadakan. Hiruk pikuk semua orang membuat kami fatinistic kewalahan.
Matahari panas yang menyengat telah kami lupakan sejenak. Camera menjalar-jalar disamping mukaku. Desakan, dorongan hingga membuat kami hampir kalah padahal fatin masih didalam mobil. Terlihat pintu mobil paling depan terbuka, ternyata pihak sony yang keluar dari mobil dan berusaha menenangkan situasi berharap kala fatin keluar dari mobil tak ada kericuhan yang tidak diinginkan.
Kemudian terlihat sosok wanita mungil, anggun, cantik yang diserta wajah polosnya namun terlihat ceria yang terpancar. Balutan kerudung ala rabbani membuat mahkotanya semakin tampak indah dan mempesona. Fatin Shidqia Lubis keluar dari kereta kecananya. Langit seakan kalah terang dengan wajahnya. Matahari mulai malu dengan sinar wajahnya. Warna pink yang menghiasi tubuhnya membuat bunga-bunga menjadi menunduk karena kalah indahnya.
Dia melangkah perlahan-lahan, dengan senyuman sederhana serta sapaannya membuat seisi lokasi tersebut terdiam dan terbungkam seribu bahasa, namun sebagian kecil masih berteriak histeris yang menandakan mereka bukan Fatinistic.
“hay, gimana kabarnya” salam serta tos dia haturkan peluakan hangat kepada fatinistic perempuan bukti bahwa dia tidak menganggap kami sebagai fans, tapi keluarga.
“nanti kita foto-foto yaaa” ucapnya yang lembut dengan nada sumriah dan ceria.
“siiippp…fatin-fatin”
“Foyaaaaaa” serentak lantunan yel-yel fatin berkumandang.
Fatin memasuki studio dengan aman dan nyaman. Semua fatinistic merasa lega dan puas. Karena misi pengamanan berjalan dengan baik. Sementara fatin berdandan didalam kami semua sedang duduk nyantai. Disampingku ada mas rahman, mbak adisty, Ucup, Lizaa, Lisna sedangkan yang lain bergerombol agak berjauhan.
letih, lesu sudah mulai menghapiri kami semua. Rasa lapar mulai menyerang perut kami masing-masing. Suasana bungkam seribu bahasa sedang melanda kami beberapa menit hingga akhirnya terpecah dari perkataan mbak adisty.
"Padahal sepele gitu yaaa"
"Apa mbak" ekspresiku kala ucapan dari mbak Adisty terasa remang ditelinga.
"Itu loh Bundanya Fatin Shidqia Lubis"
"Mang napa bundanya Fatin mbak?" Rasa penasaranku mengelana dengan penuh keingintahuan.
"Itu supir mobil yg ditumpangi Fatin Shidqia Lubis dikasih dua botol air aqua, padahal bundanya udah didalam studio dan didalam hanya diberi satu buat dirinya aja. eee malah minta 2 lagi. aq kira mau dibawa sendiri. malah keluar dari studio dan menghampiri supir tua itu untuk diberi minum" Penjelasan mbak Adisty diperhatikan oleh fatinistic yg lain kala itu.
"Terus kenapa mbak emangnya?" Mella yang pakaiannya biru dan bawahannya putih, karena dia mau praktek tiba-tiba nyelaktuk dalam pembicaraan.
"yaa gak gitu mell, biasanya kebanyakan orang tidak peduli seperti itu. ini padahal hal sepele gitu"
“Ya Mella, mungkin inilah salah satu hal yang bikin kita bangga jadi fatinistic. Meski udah tenar, masih aja low profile” Salah satu fatinistic yang lain menambahkan. Dia adalah Adi Koraksek
“Ia sich…, kita aja yang low profile terkadang gak peduli” Timpalku supaya gak diam aja.
“ya, setiap insan manusia kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan semoga saja semuanya bisa tetap menjadi dirinya meski udah tenar, gak ada yang berubah” lanjut Adi.
Tiba-tiba Lelaki berkacamata hitam ala band alias si Musya memegang dua bahuku dari belakang, sehingga membuatku terperanjak. Diapun tidak mau kalah ikut serta berucap.
“Itulah Bunda Nurseha… seperti fatin…., kemarin aja Pas di Delta Surabaya udah di ttd baju yang depan, terus minta lagi ttd yang dibelakang baju. Menegernya Fatin ngelarang,  tapi Fatin tetap menanda tangani Baju Fatinistic tersebut. Demi Fans Haiiideeehhh HACEP dechh… gak rugi jadi fatinistic”.
“Iya bener banget tuch, Buanyak banget pelajaran selama dua hari ngintilin FAtin. Apalagi sosok Bunda Nurseha. Selain cerita diatas, paling aku salut itu waktu di Istara. Ditengah eoforia anaknya yang lagi digemari banyak orang, ternyata didalam mobil bunda baca Al-qur’an. Subhanalloh banget…”. Mbak adisty dengan logat keibuannya bercerita kejadian kemarinnya.
Aku agak kudet mendengar cerita mereka. Karena kemarinnya aku tidak ikut serta karena ada acara yang lain. Rasa heranku mengelayut dicampur dengan selipan kagum yang perlahan-lahan meneyelinap dalam jiwa.
“Beneran mbak?, wah patut dicontoh tuch”.
“Ia bener, terus yang buat aku wah, ternyata Bunda Nurseha Perhatian sama Rama, Buktinya pertama datang di Radio yang ditanya pertama ke aku Rama. “lho mana dedeknya?”. Padahal sebelumnya belum pernah ketemu. Berarti bunda juga perhatian ma kalian semua” mbak adisty sedikit curhat tentang Putra kecilnya yang digendong oleh Bunda Fatin di radio.
“Wah Segitunya ya mbak, berarti Bunda Fatin idola baru nich”.
“iya donk, sekarang Bunda nurseha jadi idolaku untuk menjaga anakku, juga idola baru untuk kalian yang mau cari istri. Hehehhe”



Percakap ringan tersebut telah menggugah setiap hati fatinistic untuk lebih menjadi kagum terhadap Fatin Shidqia Lubis dan bangga menjadi fatinistic. Bahkan siang yang semakin larut membuat rasa lapar kami tak terasa hingga acara fatin yang siap perform di JTV sampai terlupakan bahwa akan dimulai.
“Heyy, ayoo fatin udah keluar tuch” Mas Fikri sedari tadi sibuk terhadap layar sentuhnya tiba-tiba mengagetkan kami semua yang sedang duduk.
Serentak kami berdiri bak tentara yang dikomando. Kompak dan sama. Idola yang ditunggu sudah berlaga dengan gaya khasnya. Semua fatinistic terlihat berbinar-binar, hingga melupakan bahwa waktu makan siang sudah terlewatkan. Semua terhipnotis oleh senyum dan tawa ceria Fatin. Ada yang menunjukkan gambar fatin, ada juga yang memperlihatkan banner. Semuanya tanpak bahagia dan senang.
Satu jam terasa sangat singkat untuk orang yang terasa bahagia dan menikmati serta mensyukuri nikmatNya, Namun akan terasa lama jika waktu itu tidak kita gunakan dengan rasa tasyakkur terhadap pemberianNya. Fatin Shidqia Lubis memenuhi janji untuk berfoto bersama. Sambutan fatinistic membuat dia terasa lebih manis.
Cekrek…!!!!


“Terima Kasih semuanyaaa, assalamua’alaikum yaaa. Sampai ketemu lagi dirumah Januar nanti jam dua.”
Salam terakhir fatin sebelum kami semua beranjak menuju rumah Januar Pemenang Foto.



Dan bagaimana kisah selanjutnya Fatin Dirumah Januar Hand. Nantikan yaaaa….
maaf jika ada beberapa kata atau kalimat yang tidak berkenan, maklum udah lama gak nulis…
Hehehehhe. kritik dan saran tetap ditungguuuu yaaaaa

Fatin-fatin……