Antara tahun
2005-2006 yang lalu, tepatnya ketika diriku berada dibangku Sekolah Menengah Atas.
Seorang kakak yang bernama Moh. Muhlis menyuruhku untuk membuat sebuah papan
nama dari seng yang dicat. “Arena
Sablon” yang bergerak dibidang percetakan sablon khusus undangan resepsi
pernikahan. kakakku tersebut bekerja sama dengan paman yang sudah ahli dibidang
persablonan.
Setiap kali ada orang yang memesan, dengan
telaten menerimanya walau hasilnya hanya cukup untuk membeli bensin. Namun
disitulah Arena Sablon mulai dikenal oleh masyarakat sekitar. Setiap kali ada
yang ingin mengadakan acara resepsi pernikahan, Arena Sablon siap untuk membuat
undangannya.
Beberapa bulan berjalan hanya dengan bermodal
papan nama yang terpampang agak reot di bawah pohon mangga di pintu gerbang.
Tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek juga. Kakakku pergi merantau jauh
kekota metro disana. Akan tetapi, Arena Sablon masih tetap berdiri.
Diriku yang kala itu hanyalah seorang anak SMA
tak begitu mengerti akan cara kerjasama kakakku ini. Dia hanya memberitahukan
beberapa kalimat yang sudah tak ingat lagi apa kalimat itu. Namun intinya
tentang Arena Sablon.
Tahun 2007 diriku sudah menyelesaikan seragam
putih abu-abuku. Arena Sablon masih dikenal oleh banyak orang disekitar, namun
sudah tak seperti 2 tahun sebelumnya. Dimana orderan besar-besaran melanda
usaha mini tersebut.
Nama Arena Sablon sudah mulai hilang dari
pandangan bersama dengan robohnya Papan Nama di pertengahan tahun 2008. Diriku
mulai focus terhadap pendidikan untuk mengajar disebuah lembaga pendidikan yang
dinaungi oleh pondok pesantren. Namun Arena Sablon tidak benar-benar hilang
secara kasat mata. Pemesan undangan masih saja kerap kali datang untuk memesan
undangan.
Masa terus berjalan, hingga akhirnya diriku mulai
sedikit mengerti akan butuhnya sebuah usaha untuk menjadi sampingan disela-sela
nganggurnya waktu. Diriku mulai belajar untuk membuat sendiri bagaimana cara
menyablon yang benar. Walau tak seahli pamanku, namun diriku lebih memilih
menggunakan alat yang lebih modern. Hasilnya lumayan untuk sedikit nabung dan
jajan serta pulsa. Sementara diriku hanyalah seorang remaja yang tak
berpenghasilan.
Dunia global sudah mulai menjamur. Media social
juga sudah mulai menjadi kebutuhan anak muda masa itu. Entah tepatnya pada
tahun kapan regenerasi sebuah nama “Arena Sablon” menjadi “Arena Desain”. Seingatku “Arena Desain” Ada ketika diriku mulai
bertemu dengan sahabat SMA ditempatku mengajar. Bahkan mereka memperkenalkanku
dengan dunia luar selain Sekolah dan kantor dinas. Mereka memberi warna baru
dalam kejenuhanku yang selama ini membelengguku. Surabaya, komunitas bahkan
pembentukan sebuah persahabatan yang hingga kini tidak pernah terlupakan. Walau
diriku sekarang sudah memiliki keluarga.
Arena Desain itu terinspirasi dari nama “Bengkel
Desain” yang diprakarsai oleh Temanku di Surabaya sana. Arena Desain Kini bukan
hanya bergerak dibidang undangan resepsi belaka. Sekarang Arena Desain sudah
mampu memproduksi Kaos Pres, Keramik Pres, Gelas Pres, Pin, laminating, Foto
Copy, cetak Foto figora dan bahkan dibidang konveksi kaos juga.
Dimasa sekarang Arena Desain sudah resmi secara
kepemerintahan. Walau Omsetnya Masih dibilang kecil, tapi syukurku Tak terkira.
Lumayanlah rezeki Alloh tak akan lari kemana.
Arena Desain Sekarang bukan hanya berdiri dibawah
naungan Moh. Fitroh belaka. Disini sudah ada wanita hati yang setia menemani
Arena Desain. bahkan menejemennya sudah mulai dirapikan dengan manis kayak
permen gulali. Dia Robiatul Adawiyah
Semangat baru Arena Desain Akan selalu indah
bersama FW Kecil Yang akan segera hadir di alam fana ini. Dia akan menambah
kemanisan Arena Desain dan Keramaian Bahagianya. Celoteh ini Baru saja dimulai.
Barokah dan sukses selalu buat Arena Desain.
Sayapmu akan semakin berkibar selalu.
Lancar dan Selamat Buat Istri dan FW Kecilku.
Semoga Kesehatanmu bukan hanya jasmani belaka, namun akan tembus kedalam
kesehatan Rohani.
Semoga beruntung juga fiddunya wal Akhirah. Amin
***
Dan bagaimana kelanjutannya Tentang Arena Desain?. Kita lihat saja
nanti....
Ini baru permulaan ....