proses adalah keberhasilan yang tertunda. setiap titik yang dilalui merupakan pergeseran level ketingkat ke jenjang selanjutnya. perjalan kaki yang dilangkahkan kedepan tak akan pernah mampu berbohong, karena itu semua adalah berkat usaha otot yang digerakkan.
proses tidaklah salah, namun hati saja yang tak mampu menerimanya. disitulah indahnya dari suatu kekalahan yang tertunda. hati kita akan kebal dan jiwa kita kuat akibat proses yang memiliki kebaikan tiada tara.
Dan yang membuat Proses itu tidak berbohong dengan nilai - nilai keberhasilan adalah terbentuknya tangga level yang lebih tinggi. bahkan akan menjadi pembelajaran terhadap jadi diri.
terbentuknya suatu karakter dapat di rancang oleh diri sendiri, dan pada saat tertentu hasil dari sebuah proses akan indah dan akan membuat pemilik proses tidak akan sombong karena mereka mengtahui sebuah proses.
Fiterozero dan Wiwik Aladawi
Selasa, 10 September 2019
Minggu, 06 Desember 2015
SEDIKIT CELOTEHAN TENTANG TERBENTUKNYA ARENA DESAIN
Antara tahun
2005-2006 yang lalu, tepatnya ketika diriku berada dibangku Sekolah Menengah Atas.
Seorang kakak yang bernama Moh. Muhlis menyuruhku untuk membuat sebuah papan
nama dari seng yang dicat. “Arena
Sablon” yang bergerak dibidang percetakan sablon khusus undangan resepsi
pernikahan. kakakku tersebut bekerja sama dengan paman yang sudah ahli dibidang
persablonan.
Setiap kali ada orang yang memesan, dengan
telaten menerimanya walau hasilnya hanya cukup untuk membeli bensin. Namun
disitulah Arena Sablon mulai dikenal oleh masyarakat sekitar. Setiap kali ada
yang ingin mengadakan acara resepsi pernikahan, Arena Sablon siap untuk membuat
undangannya.
Beberapa bulan berjalan hanya dengan bermodal
papan nama yang terpampang agak reot di bawah pohon mangga di pintu gerbang.
Tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek juga. Kakakku pergi merantau jauh
kekota metro disana. Akan tetapi, Arena Sablon masih tetap berdiri.
Diriku yang kala itu hanyalah seorang anak SMA
tak begitu mengerti akan cara kerjasama kakakku ini. Dia hanya memberitahukan
beberapa kalimat yang sudah tak ingat lagi apa kalimat itu. Namun intinya
tentang Arena Sablon.
Tahun 2007 diriku sudah menyelesaikan seragam
putih abu-abuku. Arena Sablon masih dikenal oleh banyak orang disekitar, namun
sudah tak seperti 2 tahun sebelumnya. Dimana orderan besar-besaran melanda
usaha mini tersebut.
Nama Arena Sablon sudah mulai hilang dari
pandangan bersama dengan robohnya Papan Nama di pertengahan tahun 2008. Diriku
mulai focus terhadap pendidikan untuk mengajar disebuah lembaga pendidikan yang
dinaungi oleh pondok pesantren. Namun Arena Sablon tidak benar-benar hilang
secara kasat mata. Pemesan undangan masih saja kerap kali datang untuk memesan
undangan.
Masa terus berjalan, hingga akhirnya diriku mulai
sedikit mengerti akan butuhnya sebuah usaha untuk menjadi sampingan disela-sela
nganggurnya waktu. Diriku mulai belajar untuk membuat sendiri bagaimana cara
menyablon yang benar. Walau tak seahli pamanku, namun diriku lebih memilih
menggunakan alat yang lebih modern. Hasilnya lumayan untuk sedikit nabung dan
jajan serta pulsa. Sementara diriku hanyalah seorang remaja yang tak
berpenghasilan.
Dunia global sudah mulai menjamur. Media social
juga sudah mulai menjadi kebutuhan anak muda masa itu. Entah tepatnya pada
tahun kapan regenerasi sebuah nama “Arena Sablon” menjadi “Arena Desain”. Seingatku “Arena Desain” Ada ketika diriku mulai
bertemu dengan sahabat SMA ditempatku mengajar. Bahkan mereka memperkenalkanku
dengan dunia luar selain Sekolah dan kantor dinas. Mereka memberi warna baru
dalam kejenuhanku yang selama ini membelengguku. Surabaya, komunitas bahkan
pembentukan sebuah persahabatan yang hingga kini tidak pernah terlupakan. Walau
diriku sekarang sudah memiliki keluarga.
Arena Desain itu terinspirasi dari nama “Bengkel
Desain” yang diprakarsai oleh Temanku di Surabaya sana. Arena Desain Kini bukan
hanya bergerak dibidang undangan resepsi belaka. Sekarang Arena Desain sudah
mampu memproduksi Kaos Pres, Keramik Pres, Gelas Pres, Pin, laminating, Foto
Copy, cetak Foto figora dan bahkan dibidang konveksi kaos juga.
Dimasa sekarang Arena Desain sudah resmi secara
kepemerintahan. Walau Omsetnya Masih dibilang kecil, tapi syukurku Tak terkira.
Lumayanlah rezeki Alloh tak akan lari kemana.
Arena Desain Sekarang bukan hanya berdiri dibawah
naungan Moh. Fitroh belaka. Disini sudah ada wanita hati yang setia menemani
Arena Desain. bahkan menejemennya sudah mulai dirapikan dengan manis kayak
permen gulali. Dia Robiatul Adawiyah
Semangat baru Arena Desain Akan selalu indah
bersama FW Kecil Yang akan segera hadir di alam fana ini. Dia akan menambah
kemanisan Arena Desain dan Keramaian Bahagianya. Celoteh ini Baru saja dimulai.
Barokah dan sukses selalu buat Arena Desain.
Sayapmu akan semakin berkibar selalu.
Lancar dan Selamat Buat Istri dan FW Kecilku.
Semoga Kesehatanmu bukan hanya jasmani belaka, namun akan tembus kedalam
kesehatan Rohani.
Semoga beruntung juga fiddunya wal Akhirah. Amin
***
Dan bagaimana kelanjutannya Tentang Arena Desain?. Kita lihat saja
nanti....
Ini baru permulaan ....
Jumat, 21 Februari 2014
Keramahan Kota Senja Part 2 - Pencarian Rumah Pencinta Senja
Kota
senja terus menuai keramahannya kepada setiap tamu yang datang. Fiter dan
Agansya menyusuri jalan-jalan protocol yang terlihat sangat bersih.
Bangunan-bangunan di pinggir tertata dengan rapi. Toko, mini market,
intansi-intansi pemerintahan terlihat sangat megah dan indah. Jembatan yang
mengubungkan aliran sungai sangat unik dan menarik. Kendaraan yang berlalu-lalang
sangat ramah dengan lalu lintasnya. Keramaian masyarakatnya membuat Fiter
teringat jalanan Surabaya. Namun sesekali terlihat pengendara sepeda motor yang
main serobot lampu merah.
Fiter
terus melajukan matiknya tak kurang dari enam puluh kilometer. Alun-alun kota
bangkalan begitu sangat ramai oleh pengunjung. Banyak anak muda yang sedang
sibuk dengan aktifitasmnya. Football menjadi pemandangan pertama yang
sangat jelas terlihat, kemudian Basket tidak mau kalah terlihat meramaikan
suasana. Pedagang kaki lima juga menghiasi deretan pinggir jalan.
“Fiter
Nanti gath Fmadu yang kelima disini kan?” pertanyaan Agansya membuat Fiter
Berhenti didepan Masjid Agung kota Bangkalan.
“Kata
Ummi daerah sini. Tapi pas tempatnya aku belum tahu. Kita jalan aja dulu.”
“Oia
Fiter, Jadi kerumah Sri kan?. Katanya rumahnya deket dengan Alun-alun” Agansya
mengingat sesuatu akan rencana silaturahmi yang sempat dilupakan oleh Fiter. “Sayang
Buah yang sudah kadung kita beli” Tambah Agansya
“Jadi
donk, Aku pengen tahu Rumah Sipencinta Senja itu, sekalian jenguk dia” Dengan
nada tegas Fiter menjawab pertanyaan Agansya.
“Kamu
tahu lokasi rumahnya kan?”
“Katanya
deket BRI rumahnya dan didalamnya bertingkat gitu”
“BRI
didepan Stadion itu kan ada” Dengan rasa nyakin Agansya.
“Udah
gampanglah, masak kalau kita tanya keorang sekitar sana gak kenal. Disini kan
Madura” Fiter menguatkan Agansya. “Kita pasti ketemu ma mbak Sri kalau memang
Alloh menghendaki” Tambah Fiter.
Perjalanan
dilanjutkan menuju Stadion kota Bangkalan. Senja dikota Bangkalan memang
berbeda dengan kota asal Fiter dan Agansya. Kota Bahari Sampang tak seramai di
Bangkalan. Jalanan disana sepi. Banyak Toko-toko yang tutup. Hanya beberapa
mini market yang buka. Taman kota hanya berisi beberapa anak muda yang sedang
duduk.
Stadion
Bangkalan kebanggaan Persepam sangatlah Megah dan indah. Keramaian tak kalah
dengan di Alun-alun. Fiter terus lurus dan sambil menoleh kekanan dan kekiri.
Terlihat BRI sebelah kanan jalan. Kemudian berhenti sejenak pas didepan tulisan
STADION GELORA BANGKALAN yang tertempel dipagar dan berwarna perak namun
terbuat dari stenlis.
“Agansya
itu kayaknya BANK BRI” sambil menoleh kekanan dan menunjuk kearah BRI.”katanya
didepan BRI. Tapi disini gak ada rumah didepannya” tambah Fiter dengan
mengerutkan dahinya.
“Stadion
ini Rumahnya kali. Hahahaha” dengan terbahak-bahak Agansya dan membuat Fiter
tertawa juga. “oia kamu punya Foto Mbak Sri kan?”
“Buat
apaan?. Lagian Hp ku mau mati” Fiter agak penasaran dengan Agansya.
“Kita
tanya-tanya keorang-orang sini, sambil menunjukkan foto mbak Sri” Hampir
bersamaan Fiter dan Agansya tertawa.
“hahaha…
kayak mau cari orang hilang aja. Gak sekalian aja teriak-teriakin. ‘dicari
orang hilang. Wanita anggun dari kota ini’. Hehehe”
Sedikit
refrest dari rasa capek yang dialami Fiter setelah lelucon Agansya.
Seandainya Fiter berangkat sendiri dan tak ada yang menemani beetapa garingnya
suasana perjalan senja itu. Namun itu manusia yang disebut makhluk sosial,
saling membutuhkan satu sama lainnya. Tak bisa hidup sendiri. Begitulah yang
sering diucapkan Nanaz teman Fiter ditempat kerjanya.
Matik
merah melaju kembali dengan lebih cepat. BRI yang berada disebrang jalan dari
Stadion membuat Fiter harus Putar balik arah. Jalan satu jalur terus ditelusuri
lurus hingga melewati lima ratus meter dari Stadion. Gas dipercepat dan
berhenti didepan BANK BRI. Fiter dan Agansya melihat serentak menyebarkan
pandangan kesekitar BRI.
“Dimana
ya? Gak ada tanda-tanda jalan atau gang disini” Gerutu Fiter.
“Mungkin
didaerah sana Fiter, ada gang” Jelas Agansya.
“Aku
gak nyakin disekitar sini. Soalnya katanya di Alun-alun Kota. Sini kan Stadion.
Pasti didaerah Alun ada BRI lagi. Terus Kata Mbak Sri kerjaan sekarang pindah
di BRI pusat Kota Bangkalan. Berarti gak mungkin donk BRInya kecil gini” dengan
sedikit kesal sendiri Fiter berucap ke Agansya.
“Ya
Udah ayo kita kembali lagi ke Alun-Alun dan muter disana. Tapi pelan-pelan aja,
sapa tahu disekitar sini kita ketemu mbak Sri” dengan tenang Agansya
mendinginkan suasana.
Segera
Fiter menghidupkan sepedanya. Jalan yang sama dia lalui kembali. Hanya saja
beda posisi. Kedua mata Fiter dan Agansya terus terfokus kesekitar. Melewati
jalan Veteran terlihat sebuah BANK BRI yang dicari. Fiter berhenti kembali dan
bertanya di Warung depan BRI. Dengan santun dan ramah serta dengan bahasa
Madura enggi bunten Fiter
praktekkan kepada Ibu penjaga warung. Namun bahasa Fiter tak cukup untuk bisa
mengetahui Rumah Sri, dikarenakan Ibu tersebut bukan asli Kota Bangkalan.
Dari
Jl. Veteran Fiter dan Agansya belok kanan. Menuju Jl. Raya Letnan Singosastro
II, kemudian lurus memasuki Gang kecil. Sepanjang Gang ditelusuri tidak ada tanda-tanda
rumah Sri. Keletihan dan rasa putus asa mulai melanda Fiter dan Agansya.
Keinginan untuk Menghubungi Sri sudah tidak ingin dilakukan, karena sebelum
mereka berniat melanjutkan perjalanan dari Rumah Ummi Kulsum Fiter sudah
menghubungi Sri.
“Assalamualaikum.
Mbak Sri” Ucap Fiter dari gagang Hpnya.
“Wa’alaikum
salam. Fiter ya?” Dengan nada lemah dari arah berlawanan.
“Maaf
mbak ya, aku ganggu `Sampean. Sekarang aku berada di Bangkalan. Dan
ingin mampir kerumah sampean. Sekedar ingin silaturrahmi dan ingin
jenguk Sampean juga” Jelas Fiter.
“Aduh,
Maaf yaa Fiter. Aku gak bisa diganggu. Aku lagi Betres. Percuma juga kamu
kerumah, aku gak bisa menemui kalian. Maaf yaa aku lagi betres” bahasa Sri
membuat Fiter tidak enak hati.
“oh
gitu ya mbak. Ya udah kalau gitu” Rasa kecewa mulai menyerang Fiter.
“Udah
paksa Fiter. Kapan lagi kita bisa kerumah Mbak Sri. Kita jauh-jauh dari
Sampang. Dia pasti ngerti kok” Ucapan Agansya membuat Fiter serba salah. Disisi
lain Sri sudah tidak mau untuk dikunjungi dan disebelahnya justru menyuruh untuk
tetap datang.
“Oia
mbak, aku bareng Agansya juga lo. Kami mampir yaaa. Gak pa-pa walau cuma
sebentar” Fiter mulai memelas.
“Please…”
“Ya
udah Mbak maaf yaaa. Aku lansung pulang aja. Wassalamu’alaikum” Fiter lansung menyela ucapan Sri dan kemudian
menutup Hpnya dengan rasa penuh kecewa yang sangat. Mukanya mulai masam dan
menciut. Senja kala itu seakan tak bersahabat dengan Fiter. Tapi entah kenapa
benak hatinya merasakan berbeda. dia merasakan penasaran yang hebat. Tidak
mungkin seorang Sri menolak seperti itu, kecuali ada alasan yang sangat kuat.
Gumam Fiter. Dia merasa Sri harus dijenguk.
“Udah
Fiter, kita harus tetap harus sampai kerumah Sri. Dia gak mungkin menolak kita.
paling malu sama kita, kalau ketemu dengan keadaan tidak berdandan” Agansya
mulai meyentil bahasa leluconnya supa raut wajahku yang berkerut kembali cerah.
“hmmm….
Emangnya kita siapanya dia. Harus berdandan segala” Fiter mulai menyembunyikan
rasa kecewanya dengan mulai tersenyum.
Jl.
Letnan Singosastro sudah diputar dua kali. Fiter dan Agansya akhirnya memilih
untuk istirahat dan menikmati Senja di Alun-Alun kota Bangkalan. Duduk didepan
Dinas Komando Distrik Militer membuat mereka lebih takjub dengan segala
kegiatan disekitar. Banyak komunitas yang berkumpul dengan segala kegiatannya.
PKL serba-serbi masih tetap berjejer menghiasi daerah itu. Batagor, bakso, es degan
dan masih banyak yang lain. Tak terasa pemandangan itu membuat perut Fiter
berbunyi.
“Agansya
kita beli batagor aja yuk” sambil menunjuk kearah Abang Batagor yang sedang
sibuk dengan pelanggannya.
“boleh
tuch Fit. Aku juga lagi pengen tuch. Hehehe.”
Fiter
Berdiri dan menuju Gerobak batagor. Bumbu kacang dengan sambel super pedas
Fiter memesan satu, sedangkan Satunya dengan sambel sedikit. Karena Fiter tahu
selera Agansya kalau masalah Sambel. Kemudian Fiter kembali duduk disamping
Agansya. Agansya masih sibuk dengan Anvan Androidnya.
“Oia
Agansya, coba cari di google nama Mbak Sri. Diakan penulis, pasti dia menaruh
alamatnya di blog atau media sosial yang lainnya” Sambil memegang keningnya
dengan telunjuk Fiter terlihat lebih gembira.
“Gak
ada Fiter, gak mungkin dia naruh alamatnya sembarang. Nama aslinya aja gak
semua orang tahu. Paling Cuma kamu yang tahu dari anak Laskar.”
“Ooouuuh…!!!”
Bibir Fiter sambil manyun dan pipinya dikembungkan. Kemudian bibir bawahnya
dicibirkan. “Hah… aku tahu sekarang Agansya gimana caranya. Mana aku pinjem Hp
kamu. Biar aku yang cari” Nada Fiter membuat Agansya terkejut, kemudian Advan
Agansya diambil.
“Abbee..
pelan-pelan Fiter, nanti jatuh.”
“Udah
tenang.”
Fiter
mulai menggerak jari-jemarinya dan menggeser-geser layar android Agansya.
Agansya masih tak mengerti apa yang dicari Fiter dengan Hpnya. Sesekali mata
Agansya melirik kearah Hpnya. Beberapa gambar Fiter yang berada di profil
Facebooknya berubah satu per satu. Looding sesekali membuat Fiter jengkel dan
menggerutu.
“Nah
ini baru ketemu. Aku download Dulu ya Agansya” Sembari berdiri dari duduk Fiter
merasa senang.
“Apa
sich Fiter?” Agansya ikut berdiri dan mau melihat apa yang ditemukan Fiter,
namun Fiter lansung bergerak dan sekilas menghilang dari dekat Agansya. Fiter
lansung menuju tukan becak yang tak jauh dari tempat duduknya. Fiter
menunjukkan Hp Agansya kepada orang dan menunjuk kelayarnya.
Agansya
dengan penuh penasaran yang tak dimengerti. Dia hanya bermikir tentang guyonan
tadi didepan Stadion. Guyonan tentang menunjukkan Foto mbak Sri pada
orang-orang. Tapi sekilas logikanya menepis dengan cepat. Gak mungkin Fiter
sekonyol itu. Pandangan Agansya terus mengikuti gerak gerik Fiter. Setelah dari
tukang Becak dia berganti menuju seorang ibu-ibu penjual es degan. Cara yang
sama apa yang dia lakukan terhadap tukang becak. Kemudian pindah lagi terhadap
pengendara sepeda Motor yang sedang berhenti membeli bakso.
“Ini
mas, Batagornya. Ini yang pedas, ini yang biasa” Abang batagor mengejutkan
Agansya.
“Oia
Bang, makasih” sedikit senyuman singkat mengarah Abang batagor tersebut dan
menerima dua piring batagor, namun matanya kembali melihat Fiter. Langkah Fiter
kembali kearah Agansya. Wajah Fiter terlihat sumriah dan bibir tersenyum
kearah Agansya.
“Apa
yang kamu lakukan sich?” Ucap Agansya dengan intonasi penasaran.
“Sekarang
aku tahu dimana rumah mbak Sri. Aku tahu alamatnya juga. Sekarang kita hanya
butuh bertanya dan menggunakan Map di Hp mu” jelas Fiter sembari mengambil
piring yang berisi Batagor. Dan lansung melahapnya yang disertai ucapan bismillah.
Agansya
hanya diam melihat sahabatnya senang dan tersenyum. Melihat Batagor dipiring
Fiter lebih cepat habis dibanding ditangannya. Dia merasa aneh sendiri.
“Fiter,
coba jelaskan apa yang kamu maksud udah tahu rumah mbak Sri?” dengan perlahan
piring Agansya ditaruh dan menghentikan lahapan Fiter.
“Aku
belum tahu pasti Aganya, tapi kalau alamatnya aku tahu. Tadi aku teringat foto
profilku. Disitu aku foto sama Kalender kiriman Mbak Sri. Disana kan ada Alamat
Sipengirim alias mbak Sri. Jadi aku cari foto itu lewat Facebook. Tadi itu aku
tanya ma orang tentang lokasi alamat itu. Dan kebetulan ada yang memberi
petunjuk untuk lewat gang sebelah BANK BRI itu” jelas Fiter.
Batagor
menjadi luapan rasa lapar perut mereka berdua yang sedang berdendang. Komunitas
Skateboard yang melompat-lompat menjadi penghibur
gratis di keramahan kota senja. Abang Batagor yang santun dan sopan membuat
kepuasan jiwa mereka. Serta petunjuk yang ditemukan oleh Fiter menjadi modal
kesenangan tersendiri untuk melajutkan perjalanan. Dimana seandainya Alamat Sri
tidak ditemukan mereka berdua akan pulang dengan membawa oleh-oleh yang sudah dibeli kembali kerumah.
***
Tirakat
musyafir ala Fiter dan Agansya untuk menemukan sebuah gubuk penulis yang
mempesona dan selalu memberi pengugah bagi banyak penulis Pemula. Fiter
hanyalah penulis pemula yang abal-abal, namun sering merasa ingin bisa menulis
seperti Sri yang sudah banyak mengeluarkan tulisannya dalam bentuk buku. Fiter masih
dalam pencarian sebuah Alamat yang ditemukan dalam dunia maya. Keinginan Hati
Fiter dan Agansya untuk menemukan sang pengagum Senja menjelang Senja hilang
dari sonanya dan akan berganti menjadi petang dan akan diganti oleh sinar yang
lain.
Adzan
Maghrib menggema dihujung setiap telinga Muslim dan Muslimah. Desir angin mulai
berganti perlahan. Rukuk disebuah Musholla kecil dipinggir jalan menjadi tempat
Fiter dan Agansya menjadi lokasi penggugah jiwa. Sukma terus terteduh dalam
keheningan Maghrib. Hanya getar-getar suara imam yang menggetarkan kalbu.
Tenang, damai serta tentram.
Penelusuran
terus dilanjutkan dengan kelegahan jiwa setelah bersujud kepada-Nya. jalan demi
jalan telah terlalui. Gang demi sudah ditapaki oleh ban Sepeda motor Fiter.
Setiap orang yang sedang duduk dipinggir jalan menjadi sasaran untuk ditanya.
Penjaga toko, pedagang kaki lima bahkan hingga pengendara motor atau mobil yang
sedang berhenti dijadikan narasumber pentanyaan sebuah alamat Sri. Namun
semuanya nihil. Lucunya pedagang kaki lima yang pernah ditanya menjadi santapan
untuk ditanya kembali. Pedagang itu sampai hafal dengan perawakan wajah Fiter
dan Agansya.
Satu
jam Fiter muter-muter dikompleks yang sama. Gelap semakin larut menunjukkan
pukul 19.00 WIB. Dengan penuh keletihan, semangat mereka seakan tak ada
habisnya. Mereka hanya berpikir harus ketemu. Jadi semua letih yang dialami
tidak menjadi sia-sia belaka. Mereka sadar tak mudah untuk menemukan sesuatu.
Butuh perjuangan untuk itu semua. walau sesuatu itu kecil sekali. Semuanya
butuh energy lebih. Karena setiap apapun yang diperjuangkan pasti akan
menemukan hasilnya sendiri. Ikhtiar itu sudah satu paket dengan sesuatu yang
ingin dicapai. Jadi mereka nyakin rumah Sri akan ditemukan cepat atau lambat.
Fiter
berhenti diujung gang jalan yang dituju. Dengan segenap sisa energinya yang ada,
Dia masuk kehalaman rumah yang terlihat lelaki sepuh duduk santai di depan
rumahnya. Agansya juga mengikuti Fiter masuk. Sementara Sepedanya diparkir
pinggir jalan besar. Ketika mereka berdua mengucapkan Salam dua pemuda keluar
dari dalam rumah menghampiri.
“Maaf
pak boleh numpang tanya?” Dengan menundukkan kepala Fiter ucapkan dengan halus.
“Ia
mas, bisa kami bantu” Salah satu pemuda dengan santunnya.
“Apa
sampean tahu alamat rumah ini?. Namanya Sri.”
“Kalau
alamatnya sekitar komplek ini mas, tapi kalau nama sri gak tahu ya” lelaki satunya
menjawab dengan tegas tapi tetap terdengar halus dan ramah. “tunggu ya” pemuda itu
pergi kerumah sebelah dan kemudian kembali dengan membawa dua orang ibu-ibu dan
satu wanita muda.
“Waduh,
Fiter kita bikin heboh satu kompleks nanti” Bisik Agansya sedikit mendekatkan
suaranya ketelinga Fiter.
“Sri
siapa ya mas?” salah satu dari ibu-ibu dengan kerasnya, tapi masih dalam
keadaan santun.
“Waduh
kok gini ya” Gumam Fiter pelan.
“Apa
mas.Sri sapa yaaa?” Tambah ibu-ibu satunya.
Akhirnya
Fiter menjelaskan tentang Sri sesuai yang Dia ketahui. Dia tinggal bersama
siapa, pekerjaannya, dan nama lengkapnya. Ciri-ciri rumah yang dia tahu dari
sahabatnya Sri serta Ciri-ciri orangnya.
“wah
kami gak tahu mas” Ibu-ibu itu hampir bersamaan.
“Alamat
itu memang sekitar disini, tapi kalau dari nomor rumahnya kalau gak salah…”
lelaki sepuh yang tergopoh-gopoh berdiri. tenaganya seakan dipaksa untuk
berjalan. Kakek itu keluar dari pintu gerbang. Fiter dan Agansya mengikuti
kakek itu begitu dengan orang-orang yang ada kala itu. “ini kamu lurus aja mas.
Nanti gang paling timur itu kamu belok kiri. Nomor yang kamu maksud ada
disekitar situ.” Tambah kakek tua itu.
Fiter
dan Agansya berpamitan dengan ucapan terima kasih bahasa Madura yang santun dan
halus serta lembut. Bergegas menuju jalan yang ditunjukkan kakek itu. Entah
berapa kali jalan itu sudah dilewati, karena dari tadi Fiter sudah pernah
bertanya sama orang disekitar itu, namun tak ada yang mengetahui.
Agansya
menyuruh Fiter untuk berhenti dengan tiba-tiba. Tangan Agansya yang
menepuk-nepuk punngung Fiter membuat kaget Fiter dan mengerim mendadak. Sepeda
matik Fiter hampir jatuh karena oleng. Untung saja Fiter segera sigap
mengantisipasi dan menurunkan kedua kakinya untuk menahan miringnya sepeda.
Agansya Hampir terpelanting jatuh kesamping. Tangannya mencekal dengan sangat
erat keperut Fiter. Kaki kanannya turun seketika membantu menahan.
“Astaghfirulloh..!!!”
teriak Fiter. “ Agansya kamu gak Apa-Apa kan?” Sambil memperhatikan Agansya
yang terlihat tak normal.
“Pelan-pelan
Fiter!. Hampir saja aku jatuh nich” Gerutu Agansya dengan wajah agak kesal.
“Maaf,
kamu sich bikin kaget aku. memangnya ada apa suruh aku berhenti.”
“Gak,
kita tanya sama orang yang sedang menurunkan ayam itu.”
Dengan
sedikit cemberut Agansya turun dari sepeda. Kakinya agak sakit karena menahan
sepeda yang hampir jatuh. Sementara Fiter lansung meminggirkan sepedanya dan
melihat keadaan sepedanya. kemudian mengikuti Agansya menuju seorang pemuda
setengah baya yang sedang sibuk dengan Ayam yang diturunkan dari mobil pick
up. Gagal yang didapatkan. Memang ada nama Sri yang pemuda itu kenal, tapi
bukan Sri yang Fiter maksud. Sri yang bapak tahu adalah Sri Seorang Guru.
Kecewa
yang terus mengelayut membuat rasa lelak mereka samakin tampak. Raut wajah yang
berminyak dan tubuh yang mulai dipenuhi oleh keringat membuat aura bau
menyengat disetiap hidup kala mendekat. Maklum Mereka tidak mandi sejak
keberangkatannya sedari siang.
Mereka
melanjutkan dengan laju dibawah empat puluh kilometer saja. Gang buntu, balik
arah, muter-muter bahkan Sampai berani masuk kedalam rumah hanya sekedar
bertanya. Hingga memberhentikan Sepeda Motor yang hendak mau keluar dari
rumahnya.
“Ooo…
maksud sampean Een”
“Iya
pak. Namanya Endang Sri…..”
“Ikuti
saya ya, nanti pas mau di Gangnya aku tunjukin”
Tampa
banyak bahasa lagi Fiter menganggukkan dan menurut saja. Dari belakang Fiter
mengikuti laju Bapak itu yang berboncengan dengan istrinya. Kemudian Beliau
berhenti di Gang kecil dan menunjukkan arah yang Fiter maksud. Dengan Terima
kasih tak dilupakan oleh Fiter dan Agansya ditujukan kepada bapak itu. kemudian
bapak itu meninggalkan Mereka berdua. Fiter menuntun Sepeda yang sambil
didorong oleh Agansya perlahan memasuki Gang kecil. Terlihat sebuah Rumah yang
bertuliskan dua puluh yang berarti Rumah Sri berada didekat itu. Dimana
rumahnya Sri bernomor Sembilan Belas.
“Fiter
ini Dia rumah, lihat aku tahu wajah ibunya seperti itu. Aku pernah lihat
fotonya dibuku ‘Ibuku Adalah…’. Raut wajahnya sama persis” Ucap Agansya penuh
semangat dan senang.
Fiter
terkesiak melihat Seorang nenek yang sudah tua renta sedang menata kardus
didepan rumahnya. Seorang Ibu yang pancaran wajahnya penuh nur mahabbah kasih
sayang. Nur keistiqomahan kala beribadah. Pancaran itu membuat degupan jantung Fiter
berbeda. Perasaan gemetar tak karuan dilanda oleh Fiter saat itu. Kakinya
seakan mematung. Pandangannya tertuju di satu titik itu.
“Fiter,
ia ini Rumahnya, lihat itu nomornya 19” Tambah Agansya penuh kenyakinan.
Agansya
dengan cepat melangkah menuju ibu itu dan mengucapkan salam. Pertanyaan yang
sudah berulang kali ditanyakan pada banyak orang dilontarkan kembali. Sementara
Fiter masih termangu dan menyebarkan pandangan kesegala rumah sederhana itu.
Nomor 19 yang terbuat dari kayu dengan warna pernis coklat membuat tak begitu
jelas dilihat akibat kurangnya pantulan cahaya.
“Ia,
bener ini rumahnya mari-mari silahkan” Dengan nada yang sangat halus dan sangat
ramah telah disuguhkan oleh wanita renta itu.
Fiter
lansung bergerak menuju ibu itu. Setelah Agansya bersalam dan Bersumkeman.
Fiter mengikuti jejak Agansya, tapi dengan membolak-balikkan tangan kananya
hingga tiga kali kecupan. Begitulah yang sering dilakukan Fiter kepada orang
tua dan kepada seseorang yang dianggap lebih tua terlebih lagi seorang guru
ngajinya. Tangan yang bergelombang dan berkerut serta kasar merupakan bukti kehebatannya
untuk bekerja keras demi anak-anaknya.
“Dari
mana nak?”
“Dari
Sampang Buk, kami teman mbak Sri” Ucap Agansya.
“Silahkan
Nak, silahkan masuk dan silahkan duduk”
“Enggeh”
Fiter dan agansya hampir bersamaan.
Fiter
masih takjub melihat ibu dari Endang Sri. Bahasanya seakan hilang entah kemana.
Desiran kagum menyelinap lebut dalam benak jiwa. Sinar mata ibu itu mengingatkan
pada ebok Fiter yang sudah tak bersama lagi didunia ini. Aura rumah begitu sangat
kental dengan cinta dan ketegaran yang kuat. Banyak aroma kenangan yang
terpampang rapi membuktikan rasa ta’dhim akan sesuatu yang berharga diperlihat
oleh Sri dan Ibunya. Terima kasih Mbak Senja, mbak pengagum senja, pencinta
Senja. Penyuka merah maron. Perasa terhadap anak kecil dan malaikat-malaikat kecil di ATS.
***
Dan bagaimana pertemuan Fiter dengan
Pencinta Senja?.
Anda Penasaran?. J J J
Nantikan
kisah selanjutnya….
Keramahan Kota Senja Part 1 - Pertemuan Dengan Pengurus FMadu (Fatinistic Madura)
“Agansya,
Mau beli apa kerumah Sri” dengan membuka kaca helm dan sedikit menoleh
kebelakang, namun tetap fokus diarea lalulintas jalan raya.
“Terserah
kamu fiter. Memangnya kamu mau mampir kerumahnya?. Terus dia sakit apa?” Suara
yang agak keras tapi terdengar sangat pelan ditelinga Fiter.
“Ya
udah, nanti berhenti di Pasar Blega. Disana kan ada banyak Buah-buahan” Timpal
Fiter.
Langit
memang cerah. Persawahan dikanan kiri tampak sangat hijau. Terlebih lagi
sederatan pohon Asam terlihat rindang. Memang kala musim penghujan datang banyak
tanaman dan pepohonan seakan hidup dan sejuk disetiap panca penglihat. Namun
beberapa hari terakhir Sampang tak lagi menurunkan tetesan air hujan.
Untuk
menuju Pasar Blega, Fiter harus melewati Jembatan serta kendaraan yang berdesak-desakan.
Di sepanjang jalan banyak toko yang berjejer rapi. Suara Sholawat Nabi terdengar
dari sekitar Pasar. Beberapa orang menerima uang dari dalam mobil. Amal Masjid
untuk renovasi menjadi pandangan sebelum akhirnya Fiter berhenti kepinggir
jalan dan masuk kedalam pasar.
“Agansya
buah apa ini yang mau dibeli?. Sri sakit mag atau tipes gitu kayaknya” Sembari
melihat beberapa macam buah didepannya.
“Aku
juga gak tahu Fiter.”
“Oia
aku punya teman perempuan ngerti kesehatan. Dia kan kerja di Puskesmas. Aku coba
telpon dia” Wajah Fiter terlihat lebih segar.
Tangan
Fiter mengambil Ponsel dari saku jaket hitamnya. Dia melangkah ketempat yang
lebih sepi. Dengan menjauhi Agansya dan lapak Buah-buahan. Dia mulai menjelaskan
apa yang dimaksud kepada temannya
disembrang. Beberapa menit dia kembali terlihat lebih tenang.
“Bagaimana
Fiter?” Ucap Agansya rasa penasaran.
“Apel
aja katanya, kalau jeruk takut kecut. Cukup 1 jenis juga. Soalnya kalau sakit
yang berhubungan dengan mag gak boleh sembarangan masuk makanan. Apalagi mag
yang hampir mau tipes” Sedikit penjelasan terhadap Agansya.
Tidak
butuh waktu lama Fiter mancari dan membeli Buah apel. Dia tidak terlalu
berbelit terhadap pedagang. Bahkan dia tidak menawar harga untuk Buah Apel satu
kilogram. Dia hanya berpikir bisa memberi sesuatu untuk temannya yang sakit.
terlebih lagi penjual buah itu terlihat sudah tua. Jadi Fiter tidak tega untuk
bernegosiasi dengannya. Dia anggap sedekah untuk penjual tua itu. Bahkan sempat
mengucap lafaz doa barokah setelah mendapat kembalian uangnya.
Fiter
bergegas menaiki Sepeda motor matiknya. Diikuti Agansya yang berboncengan
dibelakangnya. Melewati beberapa kendaraan besar yang membuat macet depan Pasar
terlihat Fiter lincah meliuk-liukkan sepedanya. Alhamdulillah, semoga
barokah. Gumam hatinya dengan tarikan nafas sedikit melegakan hatinya.
Pasar
Blega telah jauh dilewati. kemudian tinggal rute Gunung Gigir yang terkenal
tanjakan serta tikungan tajam. Tak Sedikit sering terjadi kecelakaan didaerah
tersebut. Apalagi bagi pengendara yang hanya memikirkan egonya untuk segera
sampai tujuan. Tampa perhitungan dan kompromi menyalip pengendara didepannya, padahal
posisi sedang berada ditikungan tajam. Al Hasil hanya tambrakan yang didapatkan
dari arah berlawanan. Fiter hanya berpikir lebih baik terlambat lima menit atau
sepuluh menit dari pengendara yang ngebut, yang penting keselamatan lebih
terjamin.
“Fiter,
kita kerumah Sri setelah Acara Pertemuan dengan Pengurus Fatinistic Madura
kan?. kamu tahu Rumahnya Sri, Kan?”
Fiter
tak mengubris pertanyaan Agansya. Dia hanya tersenyum tenang. Agansya kembali
menanyakan hal yang sama, tapi nadanya lebih keras dari sebelumnya. Jawaban
Fiter Hanya satu kata yaitu, Tenang. Fiter tak perlu banyak bicara saat
berkendaraan dirute yang sulit dan butuh konsentrasi penuh.
Pasar
Galis, pasar tanah Merah telah dilewati. Sebelum sampai Pasar Patemun Bangkalan
Fiter membelokkan sepedanya kekiri dan berhenti disamping mesin warna merah
putih. Terlihat tulisan Solar, Pertamax, dan Premium. Agansya turun dari
duduknya kemudian Fiter membuka Jok sepeda dan memutar tangki bensinya.
“Sepuluh
Ribu Mas.” Sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.
“Mulai
dari nol ya Pak” suara lembut dan sopan serta tangannya menunjuk angka nol yang
tertera pada mesin pengisian bensin. Kemudian Nosel dimasukkan kedalam tangki
sepeda Fiter. “Sudah Pas ya pak. Terima kasih” kepala petugas itu menunduk dan
tersenyum ramah. Fiter juga tersenyum dan menunduk.
Ada
sedikit rasa kagum terhadap petugas premium itu. Keramahan yang dipraktekkan kepada
Setiap pembeli. Andai seluruh pedagang bisa seramah itu mungkin perdebatan
antara pembeli dengan penjual yang sering terjadi dipasar-pasar dan akhirnya berhujung pertengkaran tidak akan
terjadi. Betapa damainya dunia perdagangan.
“Kenapa
berhenti Fiter?” penuh penasaran Agansya, karena Fiter memperlambat laju
sspedanya dan menepi kekiri sebelum dipertigaan dimana jika belok kiri arah ke
Suramadu, sedangkan kalau lurus kearah Kota Bangkalan.
“Aku
mau nelpon Rizal dulu Agansya. Aku kan gak tahu lokasi pertemuannya. Kata Ummi,
Rizal dan irfan mau jemput kita di Tangkel ini.” Ponsel Fiter diselipkan kehelm
kanannya sehingga menempel ketelinga. Beberapa detik kemudian ponsel diambil
kembali dan memasukkan kedalam kantong kiri. “Ayo Agansya kita berangkat lagi.
Kita tunggu di Pertigaan Burneh sana. Kasihan Rizal biar gak terlalu jauh jemput
kita” tambah Fiter.
Tanpa
komentar apapun Agansya kembali duduk dijok belakang. Sambil lalu berbisik
pelan dan sambil menggoda Fiter. “Fiter Akhirnya kita akan bertemu Sri, ehemm”.
Senyum tipis membuat rasa jengkel Fiter timbul dan menimpali Agansya. Sepeda
terus maju melewati Pertigaan Tangkel dan terus lurus menuju Pertigaan Burneh.
***
Rizal
mulai menepi dan berhenti didepan rumah bergedung dengan cat kuning cerah. Tiangnya
berwarna Orenge Jeruk. Rizal turun dari sepeda supranya yang diikuti oleh Irfan.
Terlihat tangan Rizal dimasuk kedalam kantong celananya, diraihnya sebuah
ponsel dan menaruhnya di telinga kanan. Mulutnya berbicara dari arah lawan ponselnya.
Sementara Irfan menoleh kearah Fiter dan mengawal laju sepeda Fiter dengan
kedua tangannya.
“Kak
udah nyampek nich” Irfan mengangkat tangannya dan melambai-lambai kekiri bak
polisi.
“Rumah
Ummi kan ini?” Dengan rasa penasaran Fiter menanyakan rumah disamping kanannya.
“Ia
kak” Sahut Rizal yang sambil sibuk dengan ponselnya.
Fiter
mengedarkan pandangannya ke dalam rumah. Suasananya terlihat lenggang dan sepi.
Pagar besi yang berlapis hitam kecoklatan serta pintu gerbang yang masih
tertutup rapat membuat Fiter terdiam seketika. Bagus juga rumahnya.
Gumam dalam hatinya. Fiter terus menengadah hingga keatas atap rumah.
Gentengnya terbuat dari semen cor yang kokok dan berwarna merah pekat menambahkan
megahnya rumah Ummi Kulsum.
Mata
Fiter terkejut setelah melihat Ummi membuka pintu gerbang. Wajahnya terlihat
tak seperti biasa. Rambut tanpak hitam terurai indah. Senyumannya menebar dan
disertai dengan anggukan santun. Sambutan kedatangan Fiter dan Agansya sudah sejak
tadi dinanti. Pintu Gerbang terus di dorong hingga melebar kemudian
mempersilahkan Fiter dan Agansya masuk.
Fiter
menuntun sepeda matiknya. Dengan perlahan dia memasuki halaman rumah Ummi. Agansya
mengikuti dari belakang. Sementara Rizal dan Irfan sudah nyelonong terlebih
dahulu layaknya rumah sendiri.
“Aduh,
maaf kak ya. Aku gak pakek kerudung” Dengan tersipu malu Ummi melontarkan
bahasanya.
“Ah,
Gak pa-pa kok Ummi” Ungkap Agansya.
“Wah,
Rizal dan Irfan seenaknya nyelonong” Fiter mengalihkan rasa malu Ummi.
“Mereka
udah setiap hari main kesini Kak” Dengan senyuman Ummi menunjuk Rizal dan
Irfan.
“Ayo Kak, silahkan masuk” Lanjut Ummi.
Rumah
Ummi terdapat dua pintu besar. Dari sisi utara terdapat dua hiasan sapi kerapan
di dekat pintunya dan menuju ke ruang keluarga. Sementara dari sisi barat
terlihat banyak tanaman hias yang unik dan indah dimana pintu ini lansung
menuju ke ruang tamu. Ummi bergegas melewati Pintu dari sebelah utara. Sementara
Fiter dan Agansya mengikuti jejak Rizal dan irfan yang berada didepan pintu
sebelah sisi barat.
Beberapa
detik kemudian Ummi membuka Pintu ruang tamu dan mempersilahkan untuk memasuki
ruangan. Cat warna putih disetiap temboknya dan langit-langit dengan
ditengahnya terdapat Lampu berwarna putih tulang. Lemari memanjang kesamping
menghadap ke barat. diatasnya terlihat bunga hias dari pelstik dan beberapa
boneka cantik. Dipojok kanan, full dengan boneka besar dan kecil yang tertata
dibalik lemari tinggi. Dua kursi memanjang didepan lemari dan dua kursi berisi
satu orang membentuk siku yang didepannya terdapat meja kaca yang terdapat
bunga hias.
Ummi
Muncul lewat pintu pojok arah berlawanan dari lemari tinggi. Tampak buah segar
ditangannya dengan nampan terbuat dari plastik. Kemudian menaruhnya dimeja
kaca. Setelah itu air Mineral gelas menyusul
untuk disuguhkan.
“ayo
kak dimakan dan diminum” lirih Ummi dengan lembut.
“Kak
Fiter, Ummi Punya laptop baru kak” Rizal dengan nada meledek dan melirik kearah
Ummi.
“Wah
bagus donk. Apa merk nya?. Aku pengen lihat” Ssuasana berubah menjadi cair dan
hangat.
“Harga
berapaan Ummi?” Tambah Agansya.
Ummi
hanya menjawab dengan senyuman. Sembari berdiri dan berbalik arah masuk kedalam
kamarnya. Laptop Core i3 merk Sony yang berwarna Putih ditenteng. Kemudian
menaruhnya di atas meja dan membukanya. Setelah memencet tombol ON, Ummi
memutar Laptopnya kearah Fiter.
“Ini
kak, Harganya…”
“Harganya
tujuh jutaan itu kak” Rizal nyerobot ucapan Ummi dengan gaya senyum melebar.
“Bagus
Ini Ummi. Core i3 lagi.” Ucap Fiter sambil meraba laptop Ummi.
“Oia
Kak ini yang Pre Order Kaos FMadu” sembari menyodorkan Kertas berisi tulisan
Nama-nama dan ukuran kaos M dan L serta lengan panjang dan lengan Pendek.
Fiter
mengambil kertas putih yang disodorkan Ummi. Bersitan mulutnya membaca satu
persatu tulisan yang tercatat. Dengan teliti tangan telunjuknya menuju baris
perbaris pada tabel yang berisi nama-nama tersebut. Sesekali dia memperkeras
suaranya dan bertanya kepada ummi.
“Lumayan
Banyak juga ya Ummi yang pesan” Tukas Fiter.
“Ialah
Kak, siapa dulu Pengurusnya. Ummi gitu..” Rizal nyerobot pembicaraan dengan
bangga serta diiringi dengan tawa.
“Ini
Uangnya Kak” Ummi menyodorkan Uang yang sudah tersusun rapi.
“Sudah
dihitungkan?” Agansya mengambil uang yang berada ditangan Ummi kemudian
menghitungnya dengan suara yang agak keras.
Perbincangan
serius dengan Ummi dan kawan-kawan sudah berlansung cukup lama. Detik yang
terus berjalan membuat tak terasa. Lelucon Rizal dan Irfan masih tetap
menghiasi suasana walau acara sudah selesai. Ummi dengan sejuta senyum sumriah
membuat lesung pipinya tampak lebih anggun. Wanita imoet itu memang Pengurus
FMadu yang aktif dan selalu Semangat. Yel-yel Fatin dengan Logat Madura
melayang hingga keangkasa raya.
Fiter
dan Agansya terus berpamitan untuk beranjak keluar dari rumah Ummi kemudian
melanjutkan perjalanan. Rumah Ummi yang megah telah jauh dari pandangan.
Terlihat Masjid kiri jalan membuat Fiter harus memperlambat laju sepedanya
kemudian memarkirnya dihalaman Masjid. Ashar dengan Balutan senja menjadi suatu
momen yang tidak boleh dilupakan oleh Ummat Islam dimanapun berada. Cinta
terhadap Sang ilahy tidak akan membuat manusia lalai untuk bersujud walau dalam
keadaan apapun. Sebab tidak ada apapun yang bisa menukar kewajiban yang
diperintahkan oleh-Nya.
***
Langganan:
Postingan (Atom)