Kamis, 23 Januari 2014

Sepenggal Kisah Fatinistic, Fatin Shidqia Lubis dan Bunda Fatin Part 2


Ulang Tahun Januar Hand ke 24

 
Terik sang surya yang terpancar ke segala saentero persada. Panasnya berada diatas standart. Gumpalan awan putih yang menyebar dan membumbung dilangit biru pertanda siang menampakkan kecerahanya. Tubuh terasa dimasak dalam uap yang mendidik. Lalu lalang kendaraan bermotor juga ikut menghangatkan suasana. Namun Angin tidak tinggal diam saja. Sepoinya sesekali meniup disela-sela rambut. Semilirnya terkadang membuatku sedikit lega dan sejuk.
Para fatinistic bergegas dengan hati riang dan gembira menuju parkir sepeda depan rumah makan ayam siap saji. Lambayan tangan dan langkah kaki mereka seakan berapi-api penuh kesemangatan. Kebersamaan mereka tak bisa dilafadkan hanya dengan tulisan belaka. Tawa canda mereka akan selalu terekam disetiap kalbu dan jiwa mereka dalam bentuk Moment yang tak terlupakan.
“Mbak Adisty, Janu udah dikasih tahu gak” Dalam lari-lari kecil aku menghampiri wanita yang memiliki 1 orang putra dan kebetulan berada paling depan.
“Sudah di SMS kok”.
“Mbak boleh aku ngomong sebentar gak?” Raut wajahku sedikit lebih serius.
“Apa mas?”.
“Gini mbak, janu kan ulang tahun. temanku yang dari Madura bawa kue ulang tahun. tapi lilinnya belum ada. Gimana donk, sebelum nyampek kerumah janu beli dimana gitu mbak”.
“Wah gimana yaaa?, kalau ada Erly pasti dia semangat dech. Oia ada mas Musa, dia kan deket rumahnya Janu. Sapa tahu bisa beli lilin didaerah sana” Terlihat wajah Adisty sedikit bingun.
“ Ada apa ini?” Tiba-tiba Mas Rahman dan Mas Musya berada disampingku.
“Gini Mas, Janu kan ulang tahun. Kira-kira dimana beli lilin. Kalau kuenya udah ada sich. Mas Musya ini yang yang tahu daerah sana” Simple penjelasan Adisty lansung ke intin yang dimaksud.
“Iya Mas” Dua kata dariku itu sedikit menguatkan penjelasan Adisty.
“Ayo Mas Musya gimana tuch?. Ini pasti hadiah yang paling terindah buat Janu di tahun ini” Mas Rahman memberi dorongan, berharap Musya segera menjawab selusi.
“Udah gampang. Ketemu nanti aja” Dengan santai Musya menjawabnya.
Perbincangan di Parkir itu cukup melegakan perasaanku yang sedari tadi Sedikit bingun. Maklum aku tak begitu mengetahui daerah Surabaya yang termasuk kota terbesar kedua setelah DKI.
Semua sudah siap untuk berangkat menuju rumah Dwi Januar Hand. Lelaki yang beruntung karena terpilih oleh Fatin Shidqia Lubis untuk didatangi rumahnya. Lelaki yang saat itu genap 24 tahun. Hadiah yang sangat special dihari ulang tahunnya.
“Tunggu, dari Madiun Nich kasian gak ada temannya. Siapa yang mau boncengin?” tukas Fikri.
“Mas Ucup aja tuch, sekalian Modus. Hehehe” Ledek Musya dengan khas ketawanya yang lucu.
“Ayoo Sini, bareng aku” Ucup dengan tegas memanggil Cewek Madiun tersebut.
“Oia Mas Janu sms nich, dia minta di beliin somai. Beli dimana yaaa?” Adisty juga melontarkan suaranya kembali.
“Biar aku mbak yang beli” Tangan kananku lansung dimasukkan kedalam saku celana disamping kanan dan mengambil dua lembar uang lima ribuan serta beberapa uang dua ribuan. Segera ku berjalan menuju tukang somai yang berada di sebelah parkir.
“Ia mas Fitroh, kami bergerak duluan yaa, aku tunggu dipinggir jalan depan Hotel Alena” Sahut Musya sembari menghidupkan sepeda motornya. Kemudian disusul Fatinistic yang lain.
“Ok Mas”.



Semua sudah melajukan sepedanya masing-masing. mas musya, Vendi, Fikri dengan Rahman, Ucup dengan wanita madiun, Resa (fatinistic Jokja) dengan Cowok fatinistic Madiun, Mbak Adity, Lisna dengan Lisaa_SL, serta yang lainnya telah meninggalkan parkir. Sementara aku masih menunggu Somai pesanan Januar yang sengaja dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Fatin Shidqia Lubis.
Jam terus terus berputar dan menunjukkan pukul 12.30 WIB. Segera lari-lari kecil aku menuju sepeda matik merahku dan menghidupkan startnya. Somai sudah kugantung disepeda. Laju sepeda lansung kupercepat berharap keluarga Fatinistic tidak terlalu lama menunggu.
“Ayoo.. mas…” Sambil Melambaikan tangan kiriku kepada fatinistic yang lain. Mas musya menyusulku kemudian vendi berada disamping kananku. sedangkan yang lain berada dibelakang serentak. Dengan seketika jalan Ketintang Berubah menjadi lautan kaos biru ala Fatinistic, namun lambang dan logo di punggungnya berbeda-beda. Surabaya, Madiun, Jokja, Sidoarjo. Semua menyatu dalam wadah kemunitas yang solid dan bukan hanya sekedar FansClub, namun menamakan sebagai Keluarga.
Sepeda yang beragam terus melaju. Kecepatannya semakin bertambah. Akupun tidak mau kalah untuk memutar gas sepeda matikku. Sepeda kami  beragam. Supra, Mio, VArio, Beet. Semua berlomba-lomba mengejar waktu menuju rumah Janu. Terlihat dikanan kiri bangunan-bangunan ala kota besar pada umumnya. Musya berhenti dilampu merah daerah Balong Sari. Semua fatinistic juga ikut berhenti. Namun aku tak melihat sepeda dari Lisna.
“Mas, pelan-pelan, Lisna masih ada dibelakang” teriakku kepada Musya.
Lampu Merah terlihat berubah menjadi Hijau. Musya dan yang lain melajukan sepedanya. namun tidak secepat biasanya. Sementara kecepatan sepedaku tidak lebih dari empat puluh kilometer perjam. Yang awalnya posisiku berada dibelakang Musya. Kali ini aku berada di paling belakang mendampingi Lisna dan Lisaa_SL. Cara nyetir lisna memang agak kaku dan tak selincah fatinistic yang lain. Entah kenapa secara otomatis aku menjadi pemerhati kedua wanita tersebut. Dalam rasaku mengalir ketakutan yang tak biasa. Ketakutan terjadi apa-apa terhadap dua wanita itu. Ketakutan mereka berdua nyasar dan ketinggalan jauh. Perasaaan merasuk tipis dalam benakku.
Sebelum memasuki daerah Manukan semuanya berhenti. Musya tak terlihat batang hidungnya. Aku kira mereka salah arah dan ketinggalan jauh dari sang petunjuk arah alias Musya. Tapi ternyata Musya masih mampir kerumahnya. Lisnapun mulai menepikan sepedanya kesamping dan bergabung dengan yang lainnya.
“Lisna, Kamu gak bisa lebih cepat lagi gak?” Tanya Adisty dengan nada perhatian.
“Aku udah Full ini mbak” tukas Lisna singkat.
“Gini aja, Mas Rahman yang pakek sepeda Lisna dan Lisnanya boncengan. Kemudian Lisaa_SL boncengan sama Saya” Usul Dari Adisty.
“ia mbak” jawab Lisna.
Melihat sosok adisty yang perhatian pada Lisna dan Lisaa tampa disadari aku merasa kagum terhadap wanita itu. Sepintas ku teringat pada bunda FAtin yang selalu perhatian terhadap FAtinistic. Wajahnya yang bersahaja membuat semakin nyakin bahwa dia bukan sekedar bunda biasa buat anak-anaknya. Dia adalah bunda yang luar biasa dan dahsyat.
Musya akhirnya muncul dan melambaikan tangannya pertanda untuk segera mengikutinya. Tampa basa-basi kami semua memacu sepedanya masing-masing. Melewati daerah Manukan kemudian belok kiri melewati Jl. Banjar Sugihan sebelum akhirnya belok kiri melalu Jl. Bringin. Dimana rumah janu berada didaerah Bringin tersebut. Semua sepeda terus dipacu melewati mobil besar dan bok pengankut barang. Sementara diriku berada dibelakang. Karena tangan ku terasa sakit akibat keseleo saat ngerim mendadak dan hampir menabrak truk besar pengankut barang. Untung saja sepedaku segera kubanting kekiri.
Sampailah kerumah Janu. Fatinistic sudah berkumpul dan mulai masuk keruang tamu. Kurang lebih sekitar 20 orang yang berada disana. Karena sebagian besar Fatinistic yang lain berada di Manyar untuk mengikuti Meet and Greet dengan Fatin setelah acara dirumah Janu. Rumah Janu terlihat tidak seperti biasanya. Ruang tamu berubah manjadi lautan biru. Keramaian yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Bahkan kamarnya telihat tumpukan tas fatinistic yang datang. 


Terlihat Para Laskar Lelaki yang muncul dari dalam kamar Janu. Dengan baju biru yang menghiasi tubuh mereka bagaikan Boy Band yang akan siap tampil. Aswary, Lee, dan Nanaz. Mereka bersalam dengan fatinistic yang lain. Dan tiba-tiba terlihat satu orang lelaki lagi yang tidak asing dalam pandanganku. Seketika tangan lelaki itu menjabat tanganku dan menciumnya. Tersentak ku menarik tanganku seketika. Ternyata Salah satu Muridku yang dari Madura ikut serta para laskar. Banyak mata yang memanah kearahku. Mukaku perlahan berkerut dan memerah seperti jambu merah muda.
“Siapa itu Mas Fit” Ucup meledekku.
“Muridku dari Madura dan mereka bertiga adalah Laskar lelaki yang telah membantu membentuk kepengurusan FAtinistic Madura” Tanpa ragu aku jelaskan dengan singkat.
“Wah… pantesan sampek nyungkem gitu yaaa. Hehehe.. ternyata pak guyuuu” Musya mulai menggoda lucu.
“Sudah-sudah silahkan duduk semua” Janu dengan lembut mempersilahkan kami semua. karena dia termasuk anggota laskar Lelaki juga, sehingga sedikit mengalihkan pembicaraan yang memojokkanku.
“Wah kayak mau ada acara Maulid Nabi” Rahman ketua Jatim mulai melucu. Sehingga membuat beberapa fatinistic tertawa.
“Mas lihat VC Dia-Dia-Dia yang modelnya LIsaa donk” Dengan raut wajah malu aku meminta kepada Rahman supaya Laptopnya bisa dibuka dan play VC Dia-Dia-Dia cover Fatin ala Surabaya Yang Modelnya adalah Fatinistic Surabaya. Dia adalah @Liisa_SL.
Suasana keakraban yang nyaman untuk diperaktekan dimana saja berada diruang tamu Janu. Para laskar Lelaki juga ikut berbaur ditengah Fatinistic Surabaya menambah kelengkapan. Januar hand sang tuan rumah terlihat sibuk keluar masuk. Sesekali mempersilahkan fatinistic untuk minum air. Camera Digital yang dimiliki Janu melayang bersama blitsnya kesana-kemari. Entah apa yang dirasakan olehnya. Wajahnya terlihat tegang. Senyumnya yang dilontarkan tampak berbeda. Dia seakan melayang kegirangan menuju langit ketujuh. Dia seakan merasakan kelengkapan yang dahsyat dihari ulang tahunnya. Ada Laskar lelaki sahabat terbaiknya. Ada fatinistic FansClub yang paling solid saat ini. Serta yang paling special ada sang bintang idolanya Fatin Shidqia Lubis juga ada Bunda dan Ayahanda yang sangat sayang terhadapnya.
Lingkaran jam yang menempel di dingding teras begitu sangat lambatnya. semua wajah fatinistic tampak mulai letih dan lesu. Laptop yang sedang memutar VC sudah kembali detik awal lagi. Lisaa mulai maju ke depan laptop milik sang ketua dan mulai mengeryitkan dahinya.
Pandanganku tertuju pada model itu. Terlihat wajahnya lucu. Desiran tipis menyusup lembut dalam jiwaku. “Kok Bisa ya dia jadi Model VC itu”. Gumamku menari-nari dalam kalbu yang paling dalam.
“Fitroh, masih lam yaa?” Aswary berbisik dibalik telingaku dan membuatku tersentak dari pandanganku terhadap soso Lisaa.
“Aku juga gak tahu. Ini kan kejutan buat Janu, cuman kata FAtin tadi jam dua gitu” Dengan bisikan juga aku balas pertanyaan aswari.
“Ayooo… kita keluar sebentar lagi Fatin Datang” Tiba-tiba Pak Ari mengomandoi fatinistic yang sudah mulai lemes.
“Ayooo semangat donk” Tambah Pak Ari dengan lantangnya.

Mereka lansung berdiri dan keluar serta berbaris bak tentara yang siap menyambut Ibu Negara. Laskarpun juga mengikuti mereka semua. ada yang siap mengawal mobil Fatin dijalan raya. Ada juga yang sekedar duduk santai sambil foto-foto. Sementara perempuannya membersihkan ruang tamu Janu.
Mobil putih yang ditunggu sudah terlihat dari kejauhan. Fatinistic bersiap-siap untuk mengawal seperti biasanya. Para tetangga Januar mulai bergerak keluar. Kerumunan anak kecil juga memadati daerah rumah Janu. sementara Janu masih didalam rumah Entah apa yang dilakukan. Yang pasti hari ini januar akan mendapatkan kejutan yang indah. Mobil yang ditumpangi Fatin memasuki halaman rumah janu. Seperti biasanya FAtin tidak lansung keluar dari mobil. menegernya fatin yang duduk didepan lansung menghampiri Janu supaya dia masuk kedalam rumah dulu. Sementara diriku masuk kedalam rumah nenek Janu yang berada disebelah utara rumahnya. Kue Ultah ala Laskar Lelaki aku persiapkan dan diam-diam aku tunjukkan ke FAtin yang berada didalam Mobil
“Subhanalloh manisnya” kata FAtin.
“Oia lilinnya mana” lirih Bunda FAtin.
“Ini, Angka dua puluh Empat” Lansung aku pasang terbalik empat puluh dua diatas kuenya.
“Hahaha… salah tahu, angkanya terbalik” dengan ketawa lucu fatin menegorku.
“Gokil abiss, nanti aku tabokin kemuka Janu pas didalam rumah” Tambah bahasa lucu fatin sambil nyengir senang.
“pokoknya harus seru lo ntin” Tambahku sebelum aku menjauh dari mobil Fatin.
Fatinpun keluar dari dalam mobil. Suasana seperti tidak bisa dikendalikan. Camera mulai terngkat di segala sudut. Fatinistic seketika berubah menjadi pagar besi yang kokok dan kuat. Adegan kejutan untuk Januar Hand akan segara datang. FAtinpun memegang kue dan mulai menghidupkan Lilin angkanya. Dengan senyum merona fatin menghipnotis para fans atau keluarganya. 





“Fatin-fatiiiiiin” Musya dengan begitu sangat kerasnya keluarkan kode Fatinistic. Bahkan kata fatin kalau berada diruang angkasa dan bertemu dengan elien. Dia akan bilang “Fatin-fatiin”. Jika mereka jawab Foyaaa. Maka fatin akan ngajak foto bareng yang menandakan mereka itu fatinistic. Begitu tulisan dalam buku Fantastic Fatin. Dengan serentak para fatinistic dan lantang melambungkan  kata foyaaaaa sehingga terkumandangkan hingga mengelegar di area rumah Janu.
Dengan mengendap-ngendap langkah Fatin kedalam rumah Janu. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun. Kemudian dikuti oleh fatinistic dibelakangnya camera juga tidak diam saja. Record, shoot sudah menjadi pemandangan yang meramaikan suasana. Laskar juga tidak mau kalah. Nanas merekam tingkah laku Fatin  dengan Ponselnya. Sebagian dari mereka semua berubah menjadi fotografer dadakan.
Terlihat wajah kaget Januar Hand terpancar kesegala pandangan mata. Tawa dan senyumnya tak mampu dibedakan lagi. Bahasanya terbungkam sedemikian rupanya. tubuhnya kaku tak bergerak. Ritual Ulang tahun bergema disetiap dingding rumah Janu. Suara lembut sang Diva mengalun lembut menusuk kalbu. Setiap ijab yang keluar dalam bibirnya manis dan  mempesona menggetarkan setiap panca pendengar. Super bahagia Janu membuat khalayak seseorang menginginkannya.
Tiupan Janu pada lilin yang terletak diatas kue berbalut warna biru bertuliskan Selamat Ulang Tahun buat Januar Hand yang bewarna coklat membias dan mematikan nyala lilinnya.dimana yang sebelumnya Dia hentakkan doa dalam hati yang terdalam. Entah apa yang dia pinta. Intinya sesuatu yang berarti dalam usia selanjutnya.
Tepuk tangan membahana dengan irama yang tak bernada, namun sangat indah untuk didengar. Keluarga janu menghampiri putra kebanggaannya tersebut. Jabatan tangan FAtin menyambar lembut tangan sang bunda. Kulit yang keriput menghiasi area wajahnya. Balutan kerudungnya masih membuat terlihat masih cantik untuk dipandang. Matanya seakan berkaca-kaca. Haru menyelinap kuat dalam hatinya. Blitspun tidak tinggal diam mengagendakan moment tersebut dan menyimpannya dalam agenda yang tak akan pernah dilupakan oleh siapapun.
Sekilas tak sempat terlihat oleh camera tangan fatin memoleskan wajah Janu dengan cream kue yang tebal. Seketika mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil. Janu juga tidak mau kalah ingin membalasnya, tapi sayang tak bisa. hal itu dikarenakan Fatin harus menghadir acara sebentar lagi. Laskar juga membuat wajah tambah hancur dan amburadul oleh kue birunya. Rambutnya berubah kental seperti diberi gel rambut yang sangat mahal.
“Ya sudah, kami dari pihak Fatin dan tim menegemen, mengucapkan selamat Ulang tahun yang ke 24 buat Januar Hand.” Menegemen fatin akhirnya mengeluarkan suara dan membuat suasana menjadi sunyi seketika.
“Mohon maaf untuk semuany FAtin harus segera kembali, karena masih ada acara setelah ini” tambah menegemen Fatin.




Setiap acara pasti ada akhiran. Kalimat itu yang sudah sering kali keluar dari banyak orang akhirnnya selesailah acara ritual kejutan Janu. Fatin sudah beranjak dari rumah Januar Hand namun bahagianya masih terus tergambar jelas dalam epidermis hati Janu dan sekalian Fatinistic juga Laskar.
“Fatin-Fatiiiiin”
“Foyaaaaaa”
“Tin-Fatiiiinn”
“Yaa-Foyyaa ta’iye”
Ulang Tahun ke 24 Janu yang super seru dan dahsyat. Kehadiran Laskar Lelaki, Fatinistic serta Fatin Shidqia Lubis merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelum. Akupun ikut merasakan kebahagian dan kebanggaan yang kuat. Tak terasa mataku teraliri air kesemangatan. Rasa haru membiru menusuk dengan sangat hebat dalam kalbu. Memang baru empat tahun Laskar terbentuk, namun persahabatan kami tak sering kali hancur oleh perbedaan karakter, suku bahkan pendidikan. Melihat Janu dengan tawa bahagianya membuat kami semakin bangga terhadapnya.
Selamat Ulang Tahun Dwi Januar Hand (Laskar 2).
Semoga Rahmat, Taufiq serta Hidayah Alloh selalu menyertaimu.
Oia sebelum aku beranjak pulang dari rumah Janu. ada WA yang masuk dari sahabat Janu juga. Dia bernama Ali. Kelahiran Madura, tapi tumbuh dan besar di Malang. Sekarang Dia kerja di Surabaya. Dia mengucapkan rasa kagum terhadap FAtin dan Bunda Fatin. Serta selamat terhadap Janu.


Assalam. Subhanalloh Mas, Bunda Fatin sungguh sangat baik dan ramah. Kala semua bersenang-senang didalam rumah janu. ibunya mau menyusul kedalam, tapi gak jadi akibat terlalu ramai. Aku menyapanya dan meminta foto bareng beliau. Ternyata beliau tidak menunjukkan sikap sombong dan acuh. Padahal aku tidak memakai baju Fatinistic. Tapi beliau malah dengan mengiyakannya. Pokok semoga karir Fatin terus barokah. Oia salam juga buat Januar. Maaf lansung pulang tampa pamit.Wassalam
***
Semoga terhibur, kritik dan saran semoga membuat tulisanku lebih baik untuk selanjutnya. Maaf jika ada moment yang tidak sesuai dan terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar