“Agansya,
Mau beli apa kerumah Sri” dengan membuka kaca helm dan sedikit menoleh
kebelakang, namun tetap fokus diarea lalulintas jalan raya.
“Terserah
kamu fiter. Memangnya kamu mau mampir kerumahnya?. Terus dia sakit apa?” Suara
yang agak keras tapi terdengar sangat pelan ditelinga Fiter.
“Ya
udah, nanti berhenti di Pasar Blega. Disana kan ada banyak Buah-buahan” Timpal
Fiter.
Langit
memang cerah. Persawahan dikanan kiri tampak sangat hijau. Terlebih lagi
sederatan pohon Asam terlihat rindang. Memang kala musim penghujan datang banyak
tanaman dan pepohonan seakan hidup dan sejuk disetiap panca penglihat. Namun
beberapa hari terakhir Sampang tak lagi menurunkan tetesan air hujan.
Untuk
menuju Pasar Blega, Fiter harus melewati Jembatan serta kendaraan yang berdesak-desakan.
Di sepanjang jalan banyak toko yang berjejer rapi. Suara Sholawat Nabi terdengar
dari sekitar Pasar. Beberapa orang menerima uang dari dalam mobil. Amal Masjid
untuk renovasi menjadi pandangan sebelum akhirnya Fiter berhenti kepinggir
jalan dan masuk kedalam pasar.
“Agansya
buah apa ini yang mau dibeli?. Sri sakit mag atau tipes gitu kayaknya” Sembari
melihat beberapa macam buah didepannya.
“Aku
juga gak tahu Fiter.”
“Oia
aku punya teman perempuan ngerti kesehatan. Dia kan kerja di Puskesmas. Aku coba
telpon dia” Wajah Fiter terlihat lebih segar.
Tangan
Fiter mengambil Ponsel dari saku jaket hitamnya. Dia melangkah ketempat yang
lebih sepi. Dengan menjauhi Agansya dan lapak Buah-buahan. Dia mulai menjelaskan
apa yang dimaksud kepada temannya
disembrang. Beberapa menit dia kembali terlihat lebih tenang.
“Bagaimana
Fiter?” Ucap Agansya rasa penasaran.
“Apel
aja katanya, kalau jeruk takut kecut. Cukup 1 jenis juga. Soalnya kalau sakit
yang berhubungan dengan mag gak boleh sembarangan masuk makanan. Apalagi mag
yang hampir mau tipes” Sedikit penjelasan terhadap Agansya.
Tidak
butuh waktu lama Fiter mancari dan membeli Buah apel. Dia tidak terlalu
berbelit terhadap pedagang. Bahkan dia tidak menawar harga untuk Buah Apel satu
kilogram. Dia hanya berpikir bisa memberi sesuatu untuk temannya yang sakit.
terlebih lagi penjual buah itu terlihat sudah tua. Jadi Fiter tidak tega untuk
bernegosiasi dengannya. Dia anggap sedekah untuk penjual tua itu. Bahkan sempat
mengucap lafaz doa barokah setelah mendapat kembalian uangnya.
Fiter
bergegas menaiki Sepeda motor matiknya. Diikuti Agansya yang berboncengan
dibelakangnya. Melewati beberapa kendaraan besar yang membuat macet depan Pasar
terlihat Fiter lincah meliuk-liukkan sepedanya. Alhamdulillah, semoga
barokah. Gumam hatinya dengan tarikan nafas sedikit melegakan hatinya.
Pasar
Blega telah jauh dilewati. kemudian tinggal rute Gunung Gigir yang terkenal
tanjakan serta tikungan tajam. Tak Sedikit sering terjadi kecelakaan didaerah
tersebut. Apalagi bagi pengendara yang hanya memikirkan egonya untuk segera
sampai tujuan. Tampa perhitungan dan kompromi menyalip pengendara didepannya, padahal
posisi sedang berada ditikungan tajam. Al Hasil hanya tambrakan yang didapatkan
dari arah berlawanan. Fiter hanya berpikir lebih baik terlambat lima menit atau
sepuluh menit dari pengendara yang ngebut, yang penting keselamatan lebih
terjamin.
“Fiter,
kita kerumah Sri setelah Acara Pertemuan dengan Pengurus Fatinistic Madura
kan?. kamu tahu Rumahnya Sri, Kan?”
Fiter
tak mengubris pertanyaan Agansya. Dia hanya tersenyum tenang. Agansya kembali
menanyakan hal yang sama, tapi nadanya lebih keras dari sebelumnya. Jawaban
Fiter Hanya satu kata yaitu, Tenang. Fiter tak perlu banyak bicara saat
berkendaraan dirute yang sulit dan butuh konsentrasi penuh.
Pasar
Galis, pasar tanah Merah telah dilewati. Sebelum sampai Pasar Patemun Bangkalan
Fiter membelokkan sepedanya kekiri dan berhenti disamping mesin warna merah
putih. Terlihat tulisan Solar, Pertamax, dan Premium. Agansya turun dari
duduknya kemudian Fiter membuka Jok sepeda dan memutar tangki bensinya.
“Sepuluh
Ribu Mas.” Sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.
“Mulai
dari nol ya Pak” suara lembut dan sopan serta tangannya menunjuk angka nol yang
tertera pada mesin pengisian bensin. Kemudian Nosel dimasukkan kedalam tangki
sepeda Fiter. “Sudah Pas ya pak. Terima kasih” kepala petugas itu menunduk dan
tersenyum ramah. Fiter juga tersenyum dan menunduk.
Ada
sedikit rasa kagum terhadap petugas premium itu. Keramahan yang dipraktekkan kepada
Setiap pembeli. Andai seluruh pedagang bisa seramah itu mungkin perdebatan
antara pembeli dengan penjual yang sering terjadi dipasar-pasar dan akhirnya berhujung pertengkaran tidak akan
terjadi. Betapa damainya dunia perdagangan.
“Kenapa
berhenti Fiter?” penuh penasaran Agansya, karena Fiter memperlambat laju
sspedanya dan menepi kekiri sebelum dipertigaan dimana jika belok kiri arah ke
Suramadu, sedangkan kalau lurus kearah Kota Bangkalan.
“Aku
mau nelpon Rizal dulu Agansya. Aku kan gak tahu lokasi pertemuannya. Kata Ummi,
Rizal dan irfan mau jemput kita di Tangkel ini.” Ponsel Fiter diselipkan kehelm
kanannya sehingga menempel ketelinga. Beberapa detik kemudian ponsel diambil
kembali dan memasukkan kedalam kantong kiri. “Ayo Agansya kita berangkat lagi.
Kita tunggu di Pertigaan Burneh sana. Kasihan Rizal biar gak terlalu jauh jemput
kita” tambah Fiter.
Tanpa
komentar apapun Agansya kembali duduk dijok belakang. Sambil lalu berbisik
pelan dan sambil menggoda Fiter. “Fiter Akhirnya kita akan bertemu Sri, ehemm”.
Senyum tipis membuat rasa jengkel Fiter timbul dan menimpali Agansya. Sepeda
terus maju melewati Pertigaan Tangkel dan terus lurus menuju Pertigaan Burneh.
***
Rizal
mulai menepi dan berhenti didepan rumah bergedung dengan cat kuning cerah. Tiangnya
berwarna Orenge Jeruk. Rizal turun dari sepeda supranya yang diikuti oleh Irfan.
Terlihat tangan Rizal dimasuk kedalam kantong celananya, diraihnya sebuah
ponsel dan menaruhnya di telinga kanan. Mulutnya berbicara dari arah lawan ponselnya.
Sementara Irfan menoleh kearah Fiter dan mengawal laju sepeda Fiter dengan
kedua tangannya.
“Kak
udah nyampek nich” Irfan mengangkat tangannya dan melambai-lambai kekiri bak
polisi.
“Rumah
Ummi kan ini?” Dengan rasa penasaran Fiter menanyakan rumah disamping kanannya.
“Ia
kak” Sahut Rizal yang sambil sibuk dengan ponselnya.
Fiter
mengedarkan pandangannya ke dalam rumah. Suasananya terlihat lenggang dan sepi.
Pagar besi yang berlapis hitam kecoklatan serta pintu gerbang yang masih
tertutup rapat membuat Fiter terdiam seketika. Bagus juga rumahnya.
Gumam dalam hatinya. Fiter terus menengadah hingga keatas atap rumah.
Gentengnya terbuat dari semen cor yang kokok dan berwarna merah pekat menambahkan
megahnya rumah Ummi Kulsum.
Mata
Fiter terkejut setelah melihat Ummi membuka pintu gerbang. Wajahnya terlihat
tak seperti biasa. Rambut tanpak hitam terurai indah. Senyumannya menebar dan
disertai dengan anggukan santun. Sambutan kedatangan Fiter dan Agansya sudah sejak
tadi dinanti. Pintu Gerbang terus di dorong hingga melebar kemudian
mempersilahkan Fiter dan Agansya masuk.
Fiter
menuntun sepeda matiknya. Dengan perlahan dia memasuki halaman rumah Ummi. Agansya
mengikuti dari belakang. Sementara Rizal dan Irfan sudah nyelonong terlebih
dahulu layaknya rumah sendiri.
“Aduh,
maaf kak ya. Aku gak pakek kerudung” Dengan tersipu malu Ummi melontarkan
bahasanya.
“Ah,
Gak pa-pa kok Ummi” Ungkap Agansya.
“Wah,
Rizal dan Irfan seenaknya nyelonong” Fiter mengalihkan rasa malu Ummi.
“Mereka
udah setiap hari main kesini Kak” Dengan senyuman Ummi menunjuk Rizal dan
Irfan.
“Ayo Kak, silahkan masuk” Lanjut Ummi.
Rumah
Ummi terdapat dua pintu besar. Dari sisi utara terdapat dua hiasan sapi kerapan
di dekat pintunya dan menuju ke ruang keluarga. Sementara dari sisi barat
terlihat banyak tanaman hias yang unik dan indah dimana pintu ini lansung
menuju ke ruang tamu. Ummi bergegas melewati Pintu dari sebelah utara. Sementara
Fiter dan Agansya mengikuti jejak Rizal dan irfan yang berada didepan pintu
sebelah sisi barat.
Beberapa
detik kemudian Ummi membuka Pintu ruang tamu dan mempersilahkan untuk memasuki
ruangan. Cat warna putih disetiap temboknya dan langit-langit dengan
ditengahnya terdapat Lampu berwarna putih tulang. Lemari memanjang kesamping
menghadap ke barat. diatasnya terlihat bunga hias dari pelstik dan beberapa
boneka cantik. Dipojok kanan, full dengan boneka besar dan kecil yang tertata
dibalik lemari tinggi. Dua kursi memanjang didepan lemari dan dua kursi berisi
satu orang membentuk siku yang didepannya terdapat meja kaca yang terdapat
bunga hias.
Ummi
Muncul lewat pintu pojok arah berlawanan dari lemari tinggi. Tampak buah segar
ditangannya dengan nampan terbuat dari plastik. Kemudian menaruhnya dimeja
kaca. Setelah itu air Mineral gelas menyusul
untuk disuguhkan.
“ayo
kak dimakan dan diminum” lirih Ummi dengan lembut.
“Kak
Fiter, Ummi Punya laptop baru kak” Rizal dengan nada meledek dan melirik kearah
Ummi.
“Wah
bagus donk. Apa merk nya?. Aku pengen lihat” Ssuasana berubah menjadi cair dan
hangat.
“Harga
berapaan Ummi?” Tambah Agansya.
Ummi
hanya menjawab dengan senyuman. Sembari berdiri dan berbalik arah masuk kedalam
kamarnya. Laptop Core i3 merk Sony yang berwarna Putih ditenteng. Kemudian
menaruhnya di atas meja dan membukanya. Setelah memencet tombol ON, Ummi
memutar Laptopnya kearah Fiter.
“Ini
kak, Harganya…”
“Harganya
tujuh jutaan itu kak” Rizal nyerobot ucapan Ummi dengan gaya senyum melebar.
“Bagus
Ini Ummi. Core i3 lagi.” Ucap Fiter sambil meraba laptop Ummi.
“Oia
Kak ini yang Pre Order Kaos FMadu” sembari menyodorkan Kertas berisi tulisan
Nama-nama dan ukuran kaos M dan L serta lengan panjang dan lengan Pendek.
Fiter
mengambil kertas putih yang disodorkan Ummi. Bersitan mulutnya membaca satu
persatu tulisan yang tercatat. Dengan teliti tangan telunjuknya menuju baris
perbaris pada tabel yang berisi nama-nama tersebut. Sesekali dia memperkeras
suaranya dan bertanya kepada ummi.
“Lumayan
Banyak juga ya Ummi yang pesan” Tukas Fiter.
“Ialah
Kak, siapa dulu Pengurusnya. Ummi gitu..” Rizal nyerobot pembicaraan dengan
bangga serta diiringi dengan tawa.
“Ini
Uangnya Kak” Ummi menyodorkan Uang yang sudah tersusun rapi.
“Sudah
dihitungkan?” Agansya mengambil uang yang berada ditangan Ummi kemudian
menghitungnya dengan suara yang agak keras.
Perbincangan
serius dengan Ummi dan kawan-kawan sudah berlansung cukup lama. Detik yang
terus berjalan membuat tak terasa. Lelucon Rizal dan Irfan masih tetap
menghiasi suasana walau acara sudah selesai. Ummi dengan sejuta senyum sumriah
membuat lesung pipinya tampak lebih anggun. Wanita imoet itu memang Pengurus
FMadu yang aktif dan selalu Semangat. Yel-yel Fatin dengan Logat Madura
melayang hingga keangkasa raya.
Fiter
dan Agansya terus berpamitan untuk beranjak keluar dari rumah Ummi kemudian
melanjutkan perjalanan. Rumah Ummi yang megah telah jauh dari pandangan.
Terlihat Masjid kiri jalan membuat Fiter harus memperlambat laju sepedanya
kemudian memarkirnya dihalaman Masjid. Ashar dengan Balutan senja menjadi suatu
momen yang tidak boleh dilupakan oleh Ummat Islam dimanapun berada. Cinta
terhadap Sang ilahy tidak akan membuat manusia lalai untuk bersujud walau dalam
keadaan apapun. Sebab tidak ada apapun yang bisa menukar kewajiban yang
diperintahkan oleh-Nya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar