Jumat, 21 Februari 2014

Keramahan Kota Senja Part 1 - Pertemuan Dengan Pengurus FMadu (Fatinistic Madura)



Siang yang pengap dengan panas yang menyengat tubuh tak mengurungkan niat untuknya berangkat ke kota Bangkalan. Aura yang menyentuh hati terus membangkitkan semangat untuk terus melajukan kendaraan roda dua yang berwarna merah. Sahabatnya yang bernama Agansya terlihat berapi-api untuk berboncengan dibelakangnya. Sambil menancapkan gas sepeda, Fiter melihat spidometer. Matanya tertuju di bagian kiri bawah yang merupakan tanda isi bensin sepeda.

“Agansya, Mau beli apa kerumah Sri” dengan membuka kaca helm dan sedikit menoleh kebelakang, namun tetap fokus diarea lalulintas jalan raya.

“Terserah kamu fiter. Memangnya kamu mau mampir kerumahnya?. Terus dia sakit apa?” Suara yang agak keras tapi terdengar sangat pelan ditelinga Fiter.

“Ya udah, nanti berhenti di Pasar Blega. Disana kan ada banyak Buah-buahan” Timpal Fiter.

Langit memang cerah. Persawahan dikanan kiri tampak sangat hijau. Terlebih lagi sederatan pohon Asam terlihat rindang. Memang kala musim penghujan datang banyak tanaman dan pepohonan seakan hidup dan sejuk disetiap panca penglihat. Namun beberapa hari terakhir Sampang tak lagi menurunkan tetesan air hujan.

Untuk menuju Pasar Blega, Fiter harus melewati Jembatan serta kendaraan yang berdesak-desakan. Di sepanjang jalan banyak toko yang berjejer rapi. Suara Sholawat Nabi terdengar dari sekitar Pasar. Beberapa orang menerima uang dari dalam mobil. Amal Masjid untuk renovasi menjadi pandangan sebelum akhirnya Fiter berhenti kepinggir jalan dan masuk kedalam pasar.

“Agansya buah apa ini yang mau dibeli?. Sri sakit mag atau tipes gitu kayaknya” Sembari melihat beberapa macam buah didepannya.

“Aku juga gak tahu Fiter.”

“Oia aku punya teman perempuan ngerti kesehatan. Dia kan kerja di Puskesmas. Aku coba telpon dia” Wajah Fiter terlihat lebih segar.

Tangan Fiter mengambil Ponsel dari saku jaket hitamnya. Dia melangkah ketempat yang lebih sepi. Dengan menjauhi Agansya dan lapak Buah-buahan. Dia mulai menjelaskan apa yang dimaksud  kepada temannya disembrang. Beberapa menit dia kembali terlihat lebih tenang.

“Bagaimana Fiter?” Ucap Agansya rasa penasaran.

“Apel aja katanya, kalau jeruk takut kecut. Cukup 1 jenis juga. Soalnya kalau sakit yang berhubungan dengan mag gak boleh sembarangan masuk makanan. Apalagi mag yang hampir mau tipes” Sedikit penjelasan terhadap Agansya.

Tidak butuh waktu lama Fiter mancari dan membeli Buah apel. Dia tidak terlalu berbelit terhadap pedagang. Bahkan dia tidak menawar harga untuk Buah Apel satu kilogram. Dia hanya berpikir bisa memberi sesuatu untuk temannya yang sakit. terlebih lagi penjual buah itu terlihat sudah tua. Jadi Fiter tidak tega untuk bernegosiasi dengannya. Dia anggap sedekah untuk penjual tua itu. Bahkan sempat mengucap lafaz doa barokah setelah mendapat kembalian uangnya.

Fiter bergegas menaiki Sepeda motor matiknya. Diikuti Agansya yang berboncengan dibelakangnya. Melewati beberapa kendaraan besar yang membuat macet depan Pasar terlihat Fiter lincah meliuk-liukkan sepedanya. Alhamdulillah, semoga barokah. Gumam hatinya dengan tarikan nafas sedikit melegakan hatinya.

Pasar Blega telah jauh dilewati. kemudian tinggal rute Gunung Gigir yang terkenal tanjakan serta tikungan tajam. Tak Sedikit sering terjadi kecelakaan didaerah tersebut. Apalagi bagi pengendara yang hanya memikirkan egonya untuk segera sampai tujuan. Tampa perhitungan dan kompromi menyalip pengendara didepannya, padahal posisi sedang berada ditikungan tajam. Al Hasil hanya tambrakan yang didapatkan dari arah berlawanan. Fiter hanya berpikir lebih baik terlambat lima menit atau sepuluh menit dari pengendara yang ngebut, yang penting keselamatan lebih terjamin.

“Fiter, kita kerumah Sri setelah Acara Pertemuan dengan Pengurus Fatinistic Madura kan?. kamu tahu Rumahnya Sri, Kan?”

Fiter tak mengubris pertanyaan Agansya. Dia hanya tersenyum tenang. Agansya kembali menanyakan hal yang sama, tapi nadanya lebih keras dari sebelumnya. Jawaban Fiter Hanya satu kata yaitu, Tenang. Fiter tak perlu banyak bicara saat berkendaraan dirute yang sulit dan butuh konsentrasi penuh.

Pasar Galis, pasar tanah Merah telah dilewati. Sebelum sampai Pasar Patemun Bangkalan Fiter membelokkan sepedanya kekiri dan berhenti disamping mesin warna merah putih. Terlihat tulisan Solar, Pertamax, dan Premium. Agansya turun dari duduknya kemudian Fiter membuka Jok sepeda dan memutar tangki bensinya.

“Sepuluh Ribu Mas.” Sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.

“Mulai dari nol ya Pak” suara lembut dan sopan serta tangannya menunjuk angka nol yang tertera pada mesin pengisian bensin. Kemudian Nosel dimasukkan kedalam tangki sepeda Fiter. “Sudah Pas ya pak. Terima kasih” kepala petugas itu menunduk dan tersenyum ramah. Fiter juga tersenyum dan menunduk.

Ada sedikit rasa kagum terhadap petugas premium itu. Keramahan yang dipraktekkan kepada Setiap pembeli. Andai seluruh pedagang bisa seramah itu mungkin perdebatan antara pembeli dengan penjual yang sering terjadi dipasar-pasar dan  akhirnya berhujung pertengkaran tidak akan terjadi. Betapa damainya dunia perdagangan.

 “Kenapa berhenti Fiter?” penuh penasaran Agansya, karena Fiter memperlambat laju sspedanya dan menepi kekiri sebelum dipertigaan dimana jika belok kiri arah ke Suramadu, sedangkan kalau lurus kearah Kota Bangkalan.

“Aku mau nelpon Rizal dulu Agansya. Aku kan gak tahu lokasi pertemuannya. Kata Ummi, Rizal dan irfan mau jemput kita di Tangkel ini.” Ponsel Fiter diselipkan kehelm kanannya sehingga menempel ketelinga. Beberapa detik kemudian ponsel diambil kembali dan memasukkan kedalam kantong kiri. “Ayo Agansya kita berangkat lagi. Kita tunggu di Pertigaan Burneh sana. Kasihan Rizal biar gak terlalu jauh jemput kita” tambah Fiter.

Tanpa komentar apapun Agansya kembali duduk dijok belakang. Sambil lalu berbisik pelan dan sambil menggoda Fiter. “Fiter Akhirnya kita akan bertemu Sri, ehemm”. Senyum tipis membuat rasa jengkel Fiter timbul dan menimpali Agansya. Sepeda terus maju melewati Pertigaan Tangkel dan terus lurus menuju Pertigaan Burneh.

***

Rizal mulai menepi dan berhenti didepan rumah bergedung dengan cat kuning cerah. Tiangnya berwarna Orenge Jeruk. Rizal turun dari sepeda supranya yang diikuti oleh Irfan. Terlihat tangan Rizal dimasuk kedalam kantong celananya, diraihnya sebuah ponsel dan menaruhnya di telinga kanan. Mulutnya berbicara dari arah lawan ponselnya. Sementara Irfan menoleh kearah Fiter dan mengawal laju sepeda Fiter dengan kedua tangannya.

“Kak udah nyampek nich” Irfan mengangkat tangannya dan melambai-lambai kekiri bak polisi.

“Rumah Ummi kan ini?” Dengan rasa penasaran Fiter menanyakan rumah disamping kanannya.

“Ia kak” Sahut Rizal yang sambil sibuk dengan ponselnya.

Fiter mengedarkan pandangannya ke dalam rumah. Suasananya terlihat lenggang dan sepi. Pagar besi yang berlapis hitam kecoklatan serta pintu gerbang yang masih tertutup rapat membuat Fiter terdiam seketika. Bagus juga rumahnya. Gumam dalam hatinya. Fiter terus menengadah hingga keatas atap rumah. Gentengnya terbuat dari semen cor yang kokok dan berwarna merah pekat menambahkan megahnya rumah Ummi Kulsum.

Mata Fiter terkejut setelah melihat Ummi membuka pintu gerbang. Wajahnya terlihat tak seperti biasa. Rambut tanpak hitam terurai indah. Senyumannya menebar dan disertai dengan anggukan santun. Sambutan kedatangan Fiter dan Agansya sudah sejak tadi dinanti. Pintu Gerbang terus di dorong hingga melebar kemudian mempersilahkan Fiter dan Agansya masuk.

Fiter menuntun sepeda matiknya. Dengan perlahan dia memasuki halaman rumah Ummi. Agansya mengikuti dari belakang. Sementara Rizal dan Irfan sudah nyelonong terlebih dahulu layaknya rumah sendiri.

“Aduh, maaf kak ya. Aku gak pakek kerudung” Dengan tersipu malu Ummi melontarkan bahasanya.

“Ah, Gak pa-pa kok Ummi” Ungkap Agansya.

“Wah, Rizal dan Irfan seenaknya nyelonong” Fiter mengalihkan rasa malu Ummi.

“Mereka udah setiap hari main kesini Kak” Dengan senyuman Ummi menunjuk Rizal dan Irfan. 

“Ayo Kak, silahkan masuk” Lanjut Ummi.

Rumah Ummi terdapat dua pintu besar. Dari sisi utara terdapat dua hiasan sapi kerapan di dekat pintunya dan menuju ke ruang keluarga. Sementara dari sisi barat terlihat banyak tanaman hias yang unik dan indah dimana pintu ini lansung menuju ke ruang tamu. Ummi bergegas melewati Pintu dari sebelah utara. Sementara Fiter dan Agansya mengikuti jejak Rizal dan irfan yang berada didepan pintu sebelah sisi barat.

Beberapa detik kemudian Ummi membuka Pintu ruang tamu dan mempersilahkan untuk memasuki ruangan. Cat warna putih disetiap temboknya dan langit-langit dengan ditengahnya terdapat Lampu berwarna putih tulang. Lemari memanjang kesamping menghadap ke barat. diatasnya terlihat bunga hias dari pelstik dan beberapa boneka cantik. Dipojok kanan, full dengan boneka besar dan kecil yang tertata dibalik lemari tinggi. Dua kursi memanjang didepan lemari dan dua kursi berisi satu orang membentuk siku yang didepannya terdapat meja kaca yang terdapat bunga hias.

Ummi Muncul lewat pintu pojok arah berlawanan dari lemari tinggi. Tampak buah segar ditangannya dengan nampan terbuat dari plastik. Kemudian menaruhnya dimeja kaca.  Setelah itu air Mineral gelas menyusul untuk disuguhkan.

“ayo kak dimakan dan diminum” lirih Ummi dengan lembut.

“Kak Fiter, Ummi Punya laptop baru kak” Rizal dengan nada meledek dan melirik kearah Ummi.

“Wah bagus donk. Apa merk nya?. Aku pengen lihat” Ssuasana berubah menjadi cair dan hangat.

“Harga berapaan Ummi?” Tambah Agansya.

Ummi hanya menjawab dengan senyuman. Sembari berdiri dan berbalik arah masuk kedalam kamarnya. Laptop Core i3 merk Sony yang berwarna Putih ditenteng. Kemudian menaruhnya di atas meja dan membukanya. Setelah memencet tombol ON, Ummi memutar Laptopnya kearah Fiter.
“Ini kak, Harganya…”

“Harganya tujuh jutaan itu kak” Rizal nyerobot ucapan Ummi dengan gaya senyum melebar.

“Bagus Ini Ummi. Core i3 lagi.” Ucap Fiter sambil meraba laptop Ummi.

“Oia Kak ini yang Pre Order Kaos FMadu” sembari menyodorkan Kertas berisi tulisan Nama-nama dan ukuran kaos M dan L serta lengan panjang dan lengan Pendek.

Fiter mengambil kertas putih yang disodorkan Ummi. Bersitan mulutnya membaca satu persatu tulisan yang tercatat. Dengan teliti tangan telunjuknya menuju baris perbaris pada tabel yang berisi nama-nama tersebut. Sesekali dia memperkeras suaranya dan bertanya kepada ummi.

“Lumayan Banyak juga ya Ummi yang pesan” Tukas Fiter.

“Ialah Kak, siapa dulu Pengurusnya. Ummi gitu..” Rizal nyerobot pembicaraan dengan bangga serta diiringi dengan tawa.

“Ini Uangnya Kak” Ummi menyodorkan Uang yang sudah tersusun rapi.

“Sudah dihitungkan?” Agansya mengambil uang yang berada ditangan Ummi kemudian menghitungnya dengan suara yang agak keras.

Perbincangan serius dengan Ummi dan kawan-kawan sudah berlansung cukup lama. Detik yang terus berjalan membuat tak terasa. Lelucon Rizal dan Irfan masih tetap menghiasi suasana walau acara sudah selesai. Ummi dengan sejuta senyum sumriah membuat lesung pipinya tampak lebih anggun. Wanita imoet itu memang Pengurus FMadu yang aktif dan selalu Semangat. Yel-yel Fatin dengan Logat Madura melayang hingga keangkasa raya.

Fiter dan Agansya terus berpamitan untuk beranjak keluar dari rumah Ummi kemudian melanjutkan perjalanan. Rumah Ummi yang megah telah jauh dari pandangan. Terlihat Masjid kiri jalan membuat Fiter harus memperlambat laju sepedanya kemudian memarkirnya dihalaman Masjid. Ashar dengan Balutan senja menjadi suatu momen yang tidak boleh dilupakan oleh Ummat Islam dimanapun berada. Cinta terhadap Sang ilahy tidak akan membuat manusia lalai untuk bersujud walau dalam keadaan apapun. Sebab tidak ada apapun yang bisa menukar kewajiban yang diperintahkan oleh-Nya.
 
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar