Jumat, 21 Februari 2014

Keramahan Kota Senja Part 2 - Pencarian Rumah Pencinta Senja

Kota senja terus menuai keramahannya kepada setiap tamu yang datang. Fiter dan Agansya menyusuri jalan-jalan protocol yang terlihat sangat bersih. Bangunan-bangunan di pinggir tertata dengan rapi. Toko, mini market, intansi-intansi pemerintahan terlihat sangat megah dan indah. Jembatan yang mengubungkan aliran sungai sangat unik dan menarik. Kendaraan yang berlalu-lalang sangat ramah dengan lalu lintasnya. Keramaian masyarakatnya membuat Fiter teringat jalanan Surabaya. Namun sesekali terlihat pengendara sepeda motor yang main serobot lampu merah.

Fiter terus melajukan matiknya tak kurang dari enam puluh kilometer. Alun-alun kota bangkalan begitu sangat ramai oleh pengunjung. Banyak anak muda yang sedang sibuk dengan aktifitasmnya. Football menjadi pemandangan pertama yang sangat jelas terlihat, kemudian Basket tidak mau kalah terlihat meramaikan suasana. Pedagang kaki lima juga menghiasi deretan pinggir jalan.

“Fiter Nanti gath Fmadu yang kelima disini kan?” pertanyaan Agansya membuat Fiter Berhenti didepan Masjid Agung kota Bangkalan.

“Kata Ummi daerah sini. Tapi pas tempatnya aku belum tahu. Kita jalan aja dulu.”

“Oia Fiter, Jadi kerumah Sri kan?. Katanya rumahnya deket dengan Alun-alun” Agansya mengingat sesuatu akan rencana silaturahmi yang sempat dilupakan oleh Fiter. “Sayang Buah yang sudah kadung kita beli” Tambah Agansya

“Jadi donk, Aku pengen tahu Rumah Sipencinta Senja itu, sekalian jenguk dia” Dengan nada tegas Fiter menjawab pertanyaan Agansya.

“Kamu tahu lokasi rumahnya kan?”

“Katanya deket  BRI rumahnya dan didalamnya bertingkat gitu”

“BRI didepan Stadion itu kan ada” Dengan rasa nyakin Agansya.

“Udah gampanglah, masak kalau kita tanya keorang sekitar sana gak kenal. Disini kan Madura” Fiter menguatkan Agansya. “Kita pasti ketemu ma mbak Sri kalau memang Alloh menghendaki” Tambah Fiter.

Perjalanan dilanjutkan menuju Stadion kota Bangkalan. Senja dikota Bangkalan memang berbeda dengan kota asal Fiter dan Agansya. Kota Bahari Sampang tak seramai di Bangkalan. Jalanan disana sepi. Banyak Toko-toko yang tutup. Hanya beberapa mini market yang buka. Taman kota hanya berisi beberapa anak muda yang sedang duduk.

Stadion Bangkalan kebanggaan Persepam sangatlah Megah dan indah. Keramaian tak kalah dengan di Alun-alun. Fiter terus lurus dan sambil menoleh kekanan dan kekiri. Terlihat BRI sebelah kanan jalan. Kemudian berhenti sejenak pas didepan tulisan STADION GELORA BANGKALAN yang tertempel dipagar dan berwarna perak namun terbuat dari stenlis.

“Agansya itu kayaknya BANK BRI” sambil menoleh kekanan dan menunjuk kearah BRI.”katanya didepan BRI. Tapi disini gak ada rumah didepannya” tambah Fiter dengan mengerutkan dahinya.

“Stadion ini Rumahnya kali. Hahahaha” dengan terbahak-bahak Agansya dan membuat Fiter tertawa juga. “oia kamu punya Foto Mbak Sri kan?”

“Buat apaan?. Lagian Hp ku mau mati” Fiter agak penasaran dengan Agansya.

“Kita tanya-tanya keorang-orang sini, sambil menunjukkan foto mbak Sri” Hampir bersamaan Fiter dan Agansya tertawa.

“hahaha… kayak mau cari orang hilang aja. Gak sekalian aja teriak-teriakin. ‘dicari orang hilang. Wanita anggun dari kota ini’. Hehehe”

Sedikit refrest dari rasa capek yang dialami Fiter setelah lelucon Agansya. Seandainya Fiter berangkat sendiri dan tak ada yang menemani beetapa garingnya suasana perjalan senja itu. Namun itu manusia yang disebut makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lainnya. Tak bisa hidup sendiri. Begitulah yang sering diucapkan Nanaz teman Fiter ditempat kerjanya.

Matik merah melaju kembali dengan lebih cepat. BRI yang berada disebrang jalan dari Stadion membuat Fiter harus Putar balik arah. Jalan satu jalur terus ditelusuri lurus hingga melewati lima ratus meter dari Stadion. Gas dipercepat dan berhenti didepan BANK BRI. Fiter dan Agansya melihat serentak menyebarkan pandangan kesekitar BRI.

“Dimana ya? Gak ada tanda-tanda jalan atau gang disini” Gerutu Fiter.

“Mungkin didaerah sana Fiter, ada gang” Jelas Agansya.

“Aku gak nyakin disekitar sini. Soalnya katanya di Alun-alun Kota. Sini kan Stadion. Pasti didaerah Alun ada BRI lagi. Terus Kata Mbak Sri kerjaan sekarang pindah di BRI pusat Kota Bangkalan. Berarti gak mungkin donk BRInya kecil gini” dengan sedikit kesal sendiri Fiter berucap ke Agansya.

“Ya Udah ayo kita kembali lagi ke Alun-Alun dan muter disana. Tapi pelan-pelan aja, sapa tahu disekitar sini kita ketemu mbak Sri” dengan tenang Agansya mendinginkan suasana.

Segera Fiter menghidupkan sepedanya. Jalan yang sama dia lalui kembali. Hanya saja beda posisi. Kedua mata Fiter dan Agansya terus terfokus kesekitar. Melewati jalan Veteran terlihat sebuah BANK BRI yang dicari. Fiter berhenti kembali dan bertanya di Warung depan BRI. Dengan santun dan ramah serta dengan bahasa Madura enggi bunten  Fiter praktekkan kepada Ibu penjaga warung. Namun bahasa Fiter tak cukup untuk bisa mengetahui Rumah Sri, dikarenakan Ibu tersebut bukan asli Kota Bangkalan.

Dari Jl. Veteran Fiter dan Agansya belok kanan. Menuju Jl. Raya Letnan Singosastro II, kemudian lurus memasuki Gang kecil. Sepanjang Gang ditelusuri tidak ada tanda-tanda rumah Sri. Keletihan dan rasa putus asa mulai melanda Fiter dan Agansya. Keinginan untuk Menghubungi Sri sudah tidak ingin dilakukan, karena sebelum mereka berniat melanjutkan perjalanan dari Rumah Ummi Kulsum Fiter sudah menghubungi Sri.

“Assalamualaikum. Mbak Sri” Ucap Fiter dari gagang Hpnya.

“Wa’alaikum salam. Fiter ya?” Dengan nada lemah dari arah berlawanan.

“Maaf mbak ya, aku ganggu `Sampean. Sekarang aku berada di Bangkalan. Dan ingin mampir kerumah sampean. Sekedar ingin silaturrahmi dan ingin jenguk Sampean juga” Jelas Fiter.

“Aduh, Maaf yaa Fiter. Aku gak bisa diganggu. Aku lagi Betres. Percuma juga kamu kerumah, aku gak bisa menemui kalian. Maaf yaa aku lagi betres” bahasa Sri membuat Fiter tidak enak hati.

“oh gitu ya mbak. Ya udah kalau gitu” Rasa kecewa mulai menyerang Fiter.

“Udah paksa Fiter. Kapan lagi kita bisa kerumah Mbak Sri. Kita jauh-jauh dari Sampang. Dia pasti ngerti kok” Ucapan Agansya membuat Fiter serba salah. Disisi lain Sri sudah tidak mau untuk dikunjungi dan disebelahnya justru menyuruh untuk tetap datang.

“Oia mbak, aku bareng Agansya juga lo. Kami mampir yaaa. Gak pa-pa walau cuma sebentar” Fiter mulai memelas.

“Please…”

“Ya udah Mbak maaf yaaa. Aku lansung pulang aja. Wassalamu’alaikum”  Fiter lansung menyela ucapan Sri dan kemudian menutup Hpnya dengan rasa penuh kecewa yang sangat. Mukanya mulai masam dan menciut. Senja kala itu seakan tak bersahabat dengan Fiter. Tapi entah kenapa benak hatinya merasakan berbeda. dia merasakan penasaran yang hebat. Tidak mungkin seorang Sri menolak seperti itu, kecuali ada alasan yang sangat kuat. Gumam Fiter. Dia merasa Sri harus dijenguk.

“Udah Fiter, kita harus tetap harus sampai kerumah Sri. Dia gak mungkin menolak kita. paling malu sama kita, kalau ketemu dengan keadaan tidak berdandan” Agansya mulai meyentil bahasa leluconnya supa raut wajahku yang berkerut kembali cerah.

“hmmm…. Emangnya kita siapanya dia. Harus berdandan segala” Fiter mulai menyembunyikan rasa kecewanya dengan mulai tersenyum.

Jl. Letnan Singosastro sudah diputar dua kali. Fiter dan Agansya akhirnya memilih untuk istirahat dan menikmati Senja di Alun-Alun kota Bangkalan. Duduk didepan Dinas Komando Distrik Militer membuat mereka lebih takjub dengan segala kegiatan disekitar. Banyak komunitas yang berkumpul dengan segala kegiatannya. PKL serba-serbi masih tetap berjejer menghiasi daerah itu. Batagor, bakso, es degan dan masih banyak yang lain. Tak terasa pemandangan itu membuat perut Fiter berbunyi.

“Agansya kita beli batagor aja yuk” sambil menunjuk kearah Abang Batagor yang sedang sibuk dengan pelanggannya.

“boleh tuch Fit. Aku juga lagi pengen tuch. Hehehe.”

Fiter Berdiri dan menuju Gerobak batagor. Bumbu kacang dengan sambel super pedas Fiter memesan satu, sedangkan Satunya dengan sambel sedikit. Karena Fiter tahu selera Agansya kalau masalah Sambel. Kemudian Fiter kembali duduk disamping Agansya. Agansya masih sibuk dengan Anvan Androidnya.

“Oia Agansya, coba cari di google nama Mbak Sri. Diakan penulis, pasti dia menaruh alamatnya di blog atau media sosial yang lainnya” Sambil memegang keningnya dengan telunjuk Fiter terlihat lebih gembira.

“Gak ada Fiter, gak mungkin dia naruh alamatnya sembarang. Nama aslinya aja gak semua orang tahu. Paling Cuma kamu yang tahu dari anak Laskar.”

“Ooouuuh…!!!” Bibir Fiter sambil manyun dan pipinya dikembungkan. Kemudian bibir bawahnya dicibirkan. “Hah… aku tahu sekarang Agansya gimana caranya. Mana aku pinjem Hp kamu. Biar aku yang cari” Nada Fiter membuat Agansya terkejut, kemudian Advan Agansya diambil.

“Abbee.. pelan-pelan Fiter, nanti jatuh.”

“Udah tenang.”

Fiter mulai menggerak jari-jemarinya dan menggeser-geser layar android Agansya. Agansya masih tak mengerti apa yang dicari Fiter dengan Hpnya. Sesekali mata Agansya melirik kearah Hpnya. Beberapa gambar Fiter yang berada di profil Facebooknya berubah satu per satu. Looding sesekali membuat Fiter jengkel dan menggerutu.
“Nah ini baru ketemu. Aku download Dulu ya Agansya” Sembari berdiri dari duduk Fiter merasa senang.
“Apa sich Fiter?” Agansya ikut berdiri dan mau melihat apa yang ditemukan Fiter, namun Fiter lansung bergerak dan sekilas menghilang dari dekat Agansya. Fiter lansung menuju tukan becak yang tak jauh dari tempat duduknya. Fiter menunjukkan Hp Agansya kepada orang dan menunjuk kelayarnya.

Agansya dengan penuh penasaran yang tak dimengerti. Dia hanya bermikir tentang guyonan tadi didepan Stadion. Guyonan tentang menunjukkan Foto mbak Sri pada orang-orang. Tapi sekilas logikanya menepis dengan cepat. Gak mungkin Fiter sekonyol itu. Pandangan Agansya terus mengikuti gerak gerik Fiter. Setelah dari tukang Becak dia berganti menuju seorang ibu-ibu penjual es degan. Cara yang sama apa yang dia lakukan terhadap tukang becak. Kemudian pindah lagi terhadap pengendara sepeda Motor yang sedang berhenti membeli bakso.

“Ini mas, Batagornya. Ini yang pedas, ini yang biasa” Abang batagor mengejutkan Agansya.

“Oia Bang, makasih” sedikit senyuman singkat mengarah Abang batagor tersebut dan menerima dua piring batagor, namun matanya kembali melihat Fiter. Langkah Fiter kembali kearah Agansya. Wajah Fiter terlihat sumriah dan bibir tersenyum kearah Agansya.

“Apa yang kamu lakukan sich?” Ucap Agansya dengan intonasi penasaran.

“Sekarang aku tahu dimana rumah mbak Sri. Aku tahu alamatnya juga. Sekarang kita hanya butuh bertanya dan menggunakan Map di Hp mu” jelas Fiter sembari mengambil piring yang berisi Batagor. Dan lansung melahapnya yang disertai ucapan bismillah.

Agansya hanya diam melihat sahabatnya senang dan tersenyum. Melihat Batagor dipiring Fiter lebih cepat habis dibanding ditangannya. Dia merasa aneh sendiri.

“Fiter, coba jelaskan apa yang kamu maksud udah tahu rumah mbak Sri?” dengan perlahan piring Agansya ditaruh dan menghentikan lahapan Fiter.

“Aku belum tahu pasti Aganya, tapi kalau alamatnya aku tahu. Tadi aku teringat foto profilku. Disitu aku foto sama Kalender kiriman Mbak Sri. Disana kan ada Alamat Sipengirim alias mbak Sri. Jadi aku cari foto itu lewat Facebook. Tadi itu aku tanya ma orang tentang lokasi alamat itu. Dan kebetulan ada yang memberi petunjuk untuk lewat gang sebelah BANK BRI itu” jelas Fiter.

Batagor menjadi luapan rasa lapar perut mereka berdua yang sedang berdendang. Komunitas Skateboard  yang melompat-lompat menjadi penghibur gratis di keramahan kota senja. Abang Batagor yang santun dan sopan membuat kepuasan jiwa mereka. Serta petunjuk yang ditemukan oleh Fiter menjadi modal kesenangan tersendiri untuk melajutkan perjalanan. Dimana seandainya Alamat Sri tidak ditemukan mereka berdua akan pulang dengan membawa oleh-oleh yang sudah dibeli  kembali kerumah.

***

Tirakat musyafir ala Fiter dan Agansya untuk menemukan sebuah gubuk penulis yang mempesona dan selalu memberi pengugah bagi banyak penulis Pemula. Fiter hanyalah penulis pemula yang abal-abal, namun sering merasa ingin bisa menulis seperti Sri yang sudah banyak mengeluarkan tulisannya dalam bentuk buku. Fiter masih dalam pencarian sebuah Alamat yang ditemukan dalam dunia maya. Keinginan Hati Fiter dan Agansya untuk menemukan sang pengagum Senja menjelang Senja hilang dari sonanya dan akan berganti menjadi petang dan akan diganti oleh sinar yang lain.

Adzan Maghrib menggema dihujung setiap telinga Muslim dan Muslimah. Desir angin mulai berganti perlahan. Rukuk disebuah Musholla kecil dipinggir jalan menjadi tempat Fiter dan Agansya menjadi lokasi penggugah jiwa. Sukma terus terteduh dalam keheningan Maghrib. Hanya getar-getar suara imam yang menggetarkan kalbu. Tenang, damai serta tentram.

Penelusuran terus dilanjutkan dengan kelegahan jiwa setelah bersujud kepada-Nya. jalan demi jalan telah terlalui. Gang demi sudah ditapaki oleh ban Sepeda motor Fiter. Setiap orang yang sedang duduk dipinggir jalan menjadi sasaran untuk ditanya. Penjaga toko, pedagang kaki lima bahkan hingga pengendara motor atau mobil yang sedang berhenti dijadikan narasumber pentanyaan sebuah alamat Sri. Namun semuanya nihil. Lucunya pedagang kaki lima yang pernah ditanya menjadi santapan untuk ditanya kembali. Pedagang itu sampai hafal dengan perawakan wajah Fiter dan Agansya.

Satu jam Fiter muter-muter dikompleks yang sama. Gelap semakin larut menunjukkan pukul 19.00 WIB. Dengan penuh keletihan, semangat mereka seakan tak ada habisnya. Mereka hanya berpikir harus ketemu. Jadi semua letih yang dialami tidak menjadi sia-sia belaka. Mereka sadar tak mudah untuk menemukan sesuatu. Butuh perjuangan untuk itu semua. walau sesuatu itu kecil sekali. Semuanya butuh energy lebih. Karena setiap apapun yang diperjuangkan pasti akan menemukan hasilnya sendiri. Ikhtiar itu sudah satu paket dengan sesuatu yang ingin dicapai. Jadi mereka nyakin rumah Sri akan ditemukan cepat atau lambat.

Fiter berhenti diujung gang jalan yang dituju. Dengan segenap sisa energinya yang ada, Dia masuk kehalaman rumah yang terlihat lelaki sepuh duduk santai di depan rumahnya. Agansya juga mengikuti Fiter masuk. Sementara Sepedanya diparkir pinggir jalan besar. Ketika mereka berdua mengucapkan Salam dua pemuda keluar dari dalam rumah menghampiri.

“Maaf pak boleh numpang tanya?” Dengan menundukkan kepala Fiter ucapkan dengan halus.

“Ia mas, bisa kami bantu” Salah satu pemuda dengan santunnya.

“Apa sampean tahu alamat rumah ini?. Namanya Sri.”

“Kalau alamatnya sekitar komplek ini mas, tapi kalau nama sri gak tahu ya” lelaki satunya menjawab dengan tegas tapi tetap terdengar halus dan ramah. “tunggu ya” pemuda itu pergi kerumah sebelah dan kemudian kembali dengan membawa dua orang ibu-ibu dan satu wanita muda.

“Waduh, Fiter kita bikin heboh satu kompleks nanti” Bisik Agansya sedikit mendekatkan suaranya ketelinga Fiter.

“Sri siapa ya mas?” salah satu dari ibu-ibu dengan kerasnya, tapi masih dalam keadaan santun.

“Waduh kok gini ya” Gumam Fiter pelan.

“Apa mas.Sri sapa yaaa?” Tambah ibu-ibu satunya.

Akhirnya Fiter menjelaskan tentang Sri sesuai yang Dia ketahui. Dia tinggal bersama siapa, pekerjaannya, dan nama lengkapnya. Ciri-ciri rumah yang dia tahu dari sahabatnya Sri serta Ciri-ciri orangnya.

“wah kami gak tahu mas” Ibu-ibu itu hampir bersamaan.

“Alamat itu memang sekitar disini, tapi kalau dari nomor rumahnya kalau gak salah…” lelaki sepuh yang tergopoh-gopoh berdiri. tenaganya seakan dipaksa untuk berjalan. Kakek itu keluar dari pintu gerbang. Fiter dan Agansya mengikuti kakek itu begitu dengan orang-orang yang ada kala itu. “ini kamu lurus aja mas. Nanti gang paling timur itu kamu belok kiri. Nomor yang kamu maksud ada disekitar situ.” Tambah kakek tua itu.

Fiter dan Agansya berpamitan dengan ucapan terima kasih bahasa Madura yang santun dan halus serta lembut. Bergegas menuju jalan yang ditunjukkan kakek itu. Entah berapa kali jalan itu sudah dilewati, karena dari tadi Fiter sudah pernah bertanya sama orang disekitar itu, namun tak ada yang mengetahui.

Agansya menyuruh Fiter untuk berhenti dengan tiba-tiba. Tangan Agansya yang menepuk-nepuk punngung Fiter membuat kaget Fiter dan mengerim mendadak. Sepeda matik Fiter hampir jatuh karena oleng. Untung saja Fiter segera sigap mengantisipasi dan menurunkan kedua kakinya untuk menahan miringnya sepeda. Agansya Hampir terpelanting jatuh kesamping. Tangannya mencekal dengan sangat erat keperut Fiter. Kaki kanannya turun seketika membantu menahan.

“Astaghfirulloh..!!!” teriak Fiter. “ Agansya kamu gak Apa-Apa kan?” Sambil memperhatikan Agansya yang terlihat tak normal.

“Pelan-pelan Fiter!. Hampir saja aku jatuh nich” Gerutu Agansya dengan wajah agak kesal.

“Maaf, kamu sich bikin kaget aku. memangnya ada apa suruh aku berhenti.”

“Gak, kita tanya sama orang yang sedang menurunkan ayam itu.”

Dengan sedikit cemberut Agansya turun dari sepeda. Kakinya agak sakit karena menahan sepeda yang hampir jatuh. Sementara Fiter lansung meminggirkan sepedanya dan melihat keadaan sepedanya. kemudian mengikuti Agansya menuju seorang pemuda setengah baya yang sedang sibuk dengan Ayam yang diturunkan dari mobil pick up. Gagal yang didapatkan. Memang ada nama Sri yang pemuda itu kenal, tapi bukan Sri yang Fiter maksud. Sri yang bapak tahu adalah Sri Seorang Guru.

Kecewa yang terus mengelayut membuat rasa lelak mereka samakin tampak. Raut wajah yang berminyak dan tubuh yang mulai dipenuhi oleh keringat membuat aura bau menyengat disetiap hidup kala mendekat. Maklum Mereka tidak mandi sejak keberangkatannya sedari siang.

Mereka melanjutkan dengan laju dibawah empat puluh kilometer saja. Gang buntu, balik arah, muter-muter bahkan Sampai berani masuk kedalam rumah hanya sekedar bertanya. Hingga memberhentikan Sepeda Motor yang hendak mau keluar dari rumahnya.



“Ooo… maksud sampean Een”

“Iya pak. Namanya Endang Sri…..”

“Ikuti saya ya, nanti pas mau di Gangnya aku tunjukin”

Tampa banyak bahasa lagi Fiter menganggukkan dan menurut saja. Dari belakang Fiter mengikuti laju Bapak itu yang berboncengan dengan istrinya. Kemudian Beliau berhenti di Gang kecil dan menunjukkan arah yang Fiter maksud. Dengan Terima kasih tak dilupakan oleh Fiter dan Agansya ditujukan kepada bapak itu. kemudian bapak itu meninggalkan Mereka berdua. Fiter menuntun Sepeda yang sambil didorong oleh Agansya perlahan memasuki Gang kecil. Terlihat sebuah Rumah yang bertuliskan dua puluh yang berarti Rumah Sri berada didekat itu. Dimana rumahnya Sri bernomor Sembilan Belas.

“Fiter ini Dia rumah, lihat aku tahu wajah ibunya seperti itu. Aku pernah lihat fotonya dibuku ‘Ibuku Adalah…’. Raut wajahnya sama persis” Ucap Agansya penuh semangat dan senang.

Fiter terkesiak melihat Seorang nenek yang sudah tua renta sedang menata kardus didepan rumahnya. Seorang Ibu yang pancaran wajahnya penuh nur mahabbah kasih sayang. Nur keistiqomahan kala beribadah. Pancaran itu membuat degupan jantung Fiter berbeda. Perasaan gemetar tak karuan dilanda oleh Fiter saat itu. Kakinya seakan mematung. Pandangannya tertuju di satu titik itu.

“Fiter, ia ini Rumahnya, lihat itu nomornya 19” Tambah Agansya penuh kenyakinan.

Agansya dengan cepat melangkah menuju ibu itu dan mengucapkan salam. Pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakan pada banyak orang dilontarkan kembali. Sementara Fiter masih termangu dan menyebarkan pandangan kesegala rumah sederhana itu. Nomor 19 yang terbuat dari kayu dengan warna pernis coklat membuat tak begitu jelas dilihat akibat kurangnya pantulan cahaya.

“Ia, bener ini rumahnya mari-mari silahkan” Dengan nada yang sangat halus dan sangat ramah telah disuguhkan oleh wanita renta itu.

Fiter lansung bergerak menuju ibu itu. Setelah Agansya bersalam dan Bersumkeman. Fiter mengikuti jejak Agansya, tapi dengan membolak-balikkan tangan kananya hingga tiga kali kecupan. Begitulah yang sering dilakukan Fiter kepada orang tua dan kepada seseorang yang dianggap lebih tua terlebih lagi seorang guru ngajinya. Tangan yang bergelombang dan berkerut serta kasar merupakan bukti kehebatannya untuk bekerja keras demi anak-anaknya.

“Dari mana nak?”

“Dari Sampang Buk, kami teman mbak Sri” Ucap Agansya.

“Silahkan Nak, silahkan masuk dan silahkan duduk”

Enggeh” Fiter dan agansya hampir bersamaan.

Fiter masih takjub melihat ibu dari Endang Sri. Bahasanya seakan hilang entah kemana. Desiran kagum menyelinap lebut dalam benak jiwa. Sinar mata ibu itu mengingatkan pada ebok Fiter yang sudah tak bersama lagi didunia ini. Aura rumah begitu sangat kental dengan cinta dan ketegaran yang kuat. Banyak aroma kenangan yang terpampang rapi membuktikan rasa ta’dhim akan sesuatu yang berharga diperlihat oleh Sri dan Ibunya. Terima kasih Mbak Senja, mbak pengagum senja, pencinta Senja. Penyuka merah maron. Perasa terhadap anak kecil dan  malaikat-malaikat kecil di ATS.

***

Dan bagaimana pertemuan Fiter dengan Pencinta Senja?.

Anda Penasaran?. J J J
Nantikan kisah selanjutnya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar