Selasa, 10 September 2019

pelajaran proses part 1

proses adalah keberhasilan yang tertunda. setiap titik yang dilalui merupakan pergeseran level ketingkat ke jenjang selanjutnya. perjalan kaki yang dilangkahkan kedepan tak akan pernah mampu berbohong, karena itu semua adalah berkat usaha otot yang digerakkan.

proses tidaklah salah, namun hati saja yang tak mampu menerimanya. disitulah indahnya dari suatu kekalahan yang tertunda. hati kita akan kebal dan jiwa kita kuat akibat proses yang memiliki kebaikan tiada tara.

Dan yang membuat Proses itu tidak berbohong dengan nilai - nilai keberhasilan adalah terbentuknya tangga level yang lebih tinggi. bahkan akan menjadi pembelajaran terhadap jadi diri.

terbentuknya suatu karakter dapat di rancang oleh diri sendiri, dan pada saat tertentu hasil dari sebuah proses akan indah dan akan membuat pemilik proses tidak akan sombong karena mereka mengtahui sebuah proses.

Minggu, 06 Desember 2015

SEDIKIT CELOTEHAN TENTANG TERBENTUKNYA ARENA DESAIN



Antara  tahun 2005-2006 yang lalu, tepatnya ketika diriku berada dibangku Sekolah Menengah Atas. Seorang kakak yang bernama Moh. Muhlis menyuruhku untuk membuat sebuah papan nama dari seng yang dicat.  “Arena Sablon” yang bergerak dibidang percetakan sablon khusus undangan resepsi pernikahan. kakakku tersebut bekerja sama dengan paman yang sudah ahli dibidang persablonan.

Setiap kali ada orang yang memesan, dengan telaten menerimanya walau hasilnya hanya cukup untuk membeli bensin. Namun disitulah Arena Sablon mulai dikenal oleh masyarakat sekitar. Setiap kali ada yang ingin mengadakan acara resepsi pernikahan, Arena Sablon siap untuk membuat undangannya.

Beberapa bulan berjalan hanya dengan bermodal papan nama yang terpampang agak reot di bawah pohon mangga di pintu gerbang. Tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek juga. Kakakku pergi merantau jauh kekota metro disana. Akan tetapi, Arena Sablon masih tetap berdiri.

Diriku yang kala itu hanyalah seorang anak SMA tak begitu mengerti akan cara kerjasama kakakku ini. Dia hanya memberitahukan beberapa kalimat yang sudah tak ingat lagi apa kalimat itu. Namun intinya tentang Arena Sablon.

Tahun 2007 diriku sudah menyelesaikan seragam putih abu-abuku. Arena Sablon masih dikenal oleh banyak orang disekitar, namun sudah tak seperti 2 tahun sebelumnya. Dimana orderan besar-besaran melanda usaha mini tersebut.

Nama Arena Sablon sudah mulai hilang dari pandangan bersama dengan robohnya Papan Nama di pertengahan tahun 2008. Diriku mulai focus terhadap pendidikan untuk mengajar disebuah lembaga pendidikan yang dinaungi oleh pondok pesantren. Namun Arena Sablon tidak benar-benar hilang secara kasat mata. Pemesan undangan masih saja kerap kali datang untuk memesan undangan.

Masa terus berjalan, hingga akhirnya diriku mulai sedikit mengerti akan butuhnya sebuah usaha untuk menjadi sampingan disela-sela nganggurnya waktu. Diriku mulai belajar untuk membuat sendiri bagaimana cara menyablon yang benar. Walau tak seahli pamanku, namun diriku lebih memilih menggunakan alat yang lebih modern. Hasilnya lumayan untuk sedikit nabung dan jajan serta pulsa. Sementara diriku hanyalah seorang remaja yang tak berpenghasilan.
Dunia global sudah mulai menjamur. Media social juga sudah mulai menjadi kebutuhan anak muda masa itu. Entah tepatnya pada tahun kapan regenerasi sebuah nama “Arena Sablon” menjadi “Arena Desain”.  Seingatku “Arena Desain” Ada ketika diriku mulai bertemu dengan sahabat SMA ditempatku mengajar. Bahkan mereka memperkenalkanku dengan dunia luar selain Sekolah dan kantor dinas. Mereka memberi warna baru dalam kejenuhanku yang selama ini membelengguku. Surabaya, komunitas bahkan pembentukan sebuah persahabatan yang hingga kini tidak pernah terlupakan. Walau diriku sekarang sudah memiliki keluarga.
Arena Desain itu terinspirasi dari nama “Bengkel Desain” yang diprakarsai oleh Temanku di Surabaya sana. Arena Desain Kini bukan hanya bergerak dibidang undangan resepsi belaka. Sekarang Arena Desain sudah mampu memproduksi Kaos Pres, Keramik Pres, Gelas Pres, Pin, laminating, Foto Copy, cetak Foto figora dan bahkan dibidang konveksi kaos juga.
Dimasa sekarang Arena Desain sudah resmi secara kepemerintahan. Walau Omsetnya Masih dibilang kecil, tapi syukurku Tak terkira. Lumayanlah rezeki Alloh tak akan lari kemana.

Arena Desain Sekarang bukan hanya berdiri dibawah naungan Moh. Fitroh belaka. Disini sudah ada wanita hati yang setia menemani Arena Desain. bahkan menejemennya sudah mulai dirapikan dengan manis kayak permen gulali. Dia Robiatul Adawiyah

Semangat baru Arena Desain Akan selalu indah bersama FW Kecil Yang akan segera hadir di alam fana ini. Dia akan menambah kemanisan Arena Desain dan Keramaian Bahagianya. Celoteh ini Baru saja dimulai.

Barokah dan sukses selalu buat Arena Desain. Sayapmu akan semakin berkibar selalu.
Lancar dan Selamat Buat Istri dan FW Kecilku. Semoga Kesehatanmu bukan hanya jasmani belaka, namun akan tembus kedalam kesehatan Rohani.

Semoga beruntung juga fiddunya wal Akhirah. Amin
***
Dan bagaimana kelanjutannya Tentang Arena Desain?. Kita lihat saja nanti....
 Ini baru permulaan ....

Jumat, 21 Februari 2014

Keramahan Kota Senja Part 2 - Pencarian Rumah Pencinta Senja

Kota senja terus menuai keramahannya kepada setiap tamu yang datang. Fiter dan Agansya menyusuri jalan-jalan protocol yang terlihat sangat bersih. Bangunan-bangunan di pinggir tertata dengan rapi. Toko, mini market, intansi-intansi pemerintahan terlihat sangat megah dan indah. Jembatan yang mengubungkan aliran sungai sangat unik dan menarik. Kendaraan yang berlalu-lalang sangat ramah dengan lalu lintasnya. Keramaian masyarakatnya membuat Fiter teringat jalanan Surabaya. Namun sesekali terlihat pengendara sepeda motor yang main serobot lampu merah.

Fiter terus melajukan matiknya tak kurang dari enam puluh kilometer. Alun-alun kota bangkalan begitu sangat ramai oleh pengunjung. Banyak anak muda yang sedang sibuk dengan aktifitasmnya. Football menjadi pemandangan pertama yang sangat jelas terlihat, kemudian Basket tidak mau kalah terlihat meramaikan suasana. Pedagang kaki lima juga menghiasi deretan pinggir jalan.

“Fiter Nanti gath Fmadu yang kelima disini kan?” pertanyaan Agansya membuat Fiter Berhenti didepan Masjid Agung kota Bangkalan.

“Kata Ummi daerah sini. Tapi pas tempatnya aku belum tahu. Kita jalan aja dulu.”

“Oia Fiter, Jadi kerumah Sri kan?. Katanya rumahnya deket dengan Alun-alun” Agansya mengingat sesuatu akan rencana silaturahmi yang sempat dilupakan oleh Fiter. “Sayang Buah yang sudah kadung kita beli” Tambah Agansya

“Jadi donk, Aku pengen tahu Rumah Sipencinta Senja itu, sekalian jenguk dia” Dengan nada tegas Fiter menjawab pertanyaan Agansya.

“Kamu tahu lokasi rumahnya kan?”

“Katanya deket  BRI rumahnya dan didalamnya bertingkat gitu”

“BRI didepan Stadion itu kan ada” Dengan rasa nyakin Agansya.

“Udah gampanglah, masak kalau kita tanya keorang sekitar sana gak kenal. Disini kan Madura” Fiter menguatkan Agansya. “Kita pasti ketemu ma mbak Sri kalau memang Alloh menghendaki” Tambah Fiter.

Perjalanan dilanjutkan menuju Stadion kota Bangkalan. Senja dikota Bangkalan memang berbeda dengan kota asal Fiter dan Agansya. Kota Bahari Sampang tak seramai di Bangkalan. Jalanan disana sepi. Banyak Toko-toko yang tutup. Hanya beberapa mini market yang buka. Taman kota hanya berisi beberapa anak muda yang sedang duduk.

Stadion Bangkalan kebanggaan Persepam sangatlah Megah dan indah. Keramaian tak kalah dengan di Alun-alun. Fiter terus lurus dan sambil menoleh kekanan dan kekiri. Terlihat BRI sebelah kanan jalan. Kemudian berhenti sejenak pas didepan tulisan STADION GELORA BANGKALAN yang tertempel dipagar dan berwarna perak namun terbuat dari stenlis.

“Agansya itu kayaknya BANK BRI” sambil menoleh kekanan dan menunjuk kearah BRI.”katanya didepan BRI. Tapi disini gak ada rumah didepannya” tambah Fiter dengan mengerutkan dahinya.

“Stadion ini Rumahnya kali. Hahahaha” dengan terbahak-bahak Agansya dan membuat Fiter tertawa juga. “oia kamu punya Foto Mbak Sri kan?”

“Buat apaan?. Lagian Hp ku mau mati” Fiter agak penasaran dengan Agansya.

“Kita tanya-tanya keorang-orang sini, sambil menunjukkan foto mbak Sri” Hampir bersamaan Fiter dan Agansya tertawa.

“hahaha… kayak mau cari orang hilang aja. Gak sekalian aja teriak-teriakin. ‘dicari orang hilang. Wanita anggun dari kota ini’. Hehehe”

Sedikit refrest dari rasa capek yang dialami Fiter setelah lelucon Agansya. Seandainya Fiter berangkat sendiri dan tak ada yang menemani beetapa garingnya suasana perjalan senja itu. Namun itu manusia yang disebut makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lainnya. Tak bisa hidup sendiri. Begitulah yang sering diucapkan Nanaz teman Fiter ditempat kerjanya.

Matik merah melaju kembali dengan lebih cepat. BRI yang berada disebrang jalan dari Stadion membuat Fiter harus Putar balik arah. Jalan satu jalur terus ditelusuri lurus hingga melewati lima ratus meter dari Stadion. Gas dipercepat dan berhenti didepan BANK BRI. Fiter dan Agansya melihat serentak menyebarkan pandangan kesekitar BRI.

“Dimana ya? Gak ada tanda-tanda jalan atau gang disini” Gerutu Fiter.

“Mungkin didaerah sana Fiter, ada gang” Jelas Agansya.

“Aku gak nyakin disekitar sini. Soalnya katanya di Alun-alun Kota. Sini kan Stadion. Pasti didaerah Alun ada BRI lagi. Terus Kata Mbak Sri kerjaan sekarang pindah di BRI pusat Kota Bangkalan. Berarti gak mungkin donk BRInya kecil gini” dengan sedikit kesal sendiri Fiter berucap ke Agansya.

“Ya Udah ayo kita kembali lagi ke Alun-Alun dan muter disana. Tapi pelan-pelan aja, sapa tahu disekitar sini kita ketemu mbak Sri” dengan tenang Agansya mendinginkan suasana.

Segera Fiter menghidupkan sepedanya. Jalan yang sama dia lalui kembali. Hanya saja beda posisi. Kedua mata Fiter dan Agansya terus terfokus kesekitar. Melewati jalan Veteran terlihat sebuah BANK BRI yang dicari. Fiter berhenti kembali dan bertanya di Warung depan BRI. Dengan santun dan ramah serta dengan bahasa Madura enggi bunten  Fiter praktekkan kepada Ibu penjaga warung. Namun bahasa Fiter tak cukup untuk bisa mengetahui Rumah Sri, dikarenakan Ibu tersebut bukan asli Kota Bangkalan.

Dari Jl. Veteran Fiter dan Agansya belok kanan. Menuju Jl. Raya Letnan Singosastro II, kemudian lurus memasuki Gang kecil. Sepanjang Gang ditelusuri tidak ada tanda-tanda rumah Sri. Keletihan dan rasa putus asa mulai melanda Fiter dan Agansya. Keinginan untuk Menghubungi Sri sudah tidak ingin dilakukan, karena sebelum mereka berniat melanjutkan perjalanan dari Rumah Ummi Kulsum Fiter sudah menghubungi Sri.

“Assalamualaikum. Mbak Sri” Ucap Fiter dari gagang Hpnya.

“Wa’alaikum salam. Fiter ya?” Dengan nada lemah dari arah berlawanan.

“Maaf mbak ya, aku ganggu `Sampean. Sekarang aku berada di Bangkalan. Dan ingin mampir kerumah sampean. Sekedar ingin silaturrahmi dan ingin jenguk Sampean juga” Jelas Fiter.

“Aduh, Maaf yaa Fiter. Aku gak bisa diganggu. Aku lagi Betres. Percuma juga kamu kerumah, aku gak bisa menemui kalian. Maaf yaa aku lagi betres” bahasa Sri membuat Fiter tidak enak hati.

“oh gitu ya mbak. Ya udah kalau gitu” Rasa kecewa mulai menyerang Fiter.

“Udah paksa Fiter. Kapan lagi kita bisa kerumah Mbak Sri. Kita jauh-jauh dari Sampang. Dia pasti ngerti kok” Ucapan Agansya membuat Fiter serba salah. Disisi lain Sri sudah tidak mau untuk dikunjungi dan disebelahnya justru menyuruh untuk tetap datang.

“Oia mbak, aku bareng Agansya juga lo. Kami mampir yaaa. Gak pa-pa walau cuma sebentar” Fiter mulai memelas.

“Please…”

“Ya udah Mbak maaf yaaa. Aku lansung pulang aja. Wassalamu’alaikum”  Fiter lansung menyela ucapan Sri dan kemudian menutup Hpnya dengan rasa penuh kecewa yang sangat. Mukanya mulai masam dan menciut. Senja kala itu seakan tak bersahabat dengan Fiter. Tapi entah kenapa benak hatinya merasakan berbeda. dia merasakan penasaran yang hebat. Tidak mungkin seorang Sri menolak seperti itu, kecuali ada alasan yang sangat kuat. Gumam Fiter. Dia merasa Sri harus dijenguk.

“Udah Fiter, kita harus tetap harus sampai kerumah Sri. Dia gak mungkin menolak kita. paling malu sama kita, kalau ketemu dengan keadaan tidak berdandan” Agansya mulai meyentil bahasa leluconnya supa raut wajahku yang berkerut kembali cerah.

“hmmm…. Emangnya kita siapanya dia. Harus berdandan segala” Fiter mulai menyembunyikan rasa kecewanya dengan mulai tersenyum.

Jl. Letnan Singosastro sudah diputar dua kali. Fiter dan Agansya akhirnya memilih untuk istirahat dan menikmati Senja di Alun-Alun kota Bangkalan. Duduk didepan Dinas Komando Distrik Militer membuat mereka lebih takjub dengan segala kegiatan disekitar. Banyak komunitas yang berkumpul dengan segala kegiatannya. PKL serba-serbi masih tetap berjejer menghiasi daerah itu. Batagor, bakso, es degan dan masih banyak yang lain. Tak terasa pemandangan itu membuat perut Fiter berbunyi.

“Agansya kita beli batagor aja yuk” sambil menunjuk kearah Abang Batagor yang sedang sibuk dengan pelanggannya.

“boleh tuch Fit. Aku juga lagi pengen tuch. Hehehe.”

Fiter Berdiri dan menuju Gerobak batagor. Bumbu kacang dengan sambel super pedas Fiter memesan satu, sedangkan Satunya dengan sambel sedikit. Karena Fiter tahu selera Agansya kalau masalah Sambel. Kemudian Fiter kembali duduk disamping Agansya. Agansya masih sibuk dengan Anvan Androidnya.

“Oia Agansya, coba cari di google nama Mbak Sri. Diakan penulis, pasti dia menaruh alamatnya di blog atau media sosial yang lainnya” Sambil memegang keningnya dengan telunjuk Fiter terlihat lebih gembira.

“Gak ada Fiter, gak mungkin dia naruh alamatnya sembarang. Nama aslinya aja gak semua orang tahu. Paling Cuma kamu yang tahu dari anak Laskar.”

“Ooouuuh…!!!” Bibir Fiter sambil manyun dan pipinya dikembungkan. Kemudian bibir bawahnya dicibirkan. “Hah… aku tahu sekarang Agansya gimana caranya. Mana aku pinjem Hp kamu. Biar aku yang cari” Nada Fiter membuat Agansya terkejut, kemudian Advan Agansya diambil.

“Abbee.. pelan-pelan Fiter, nanti jatuh.”

“Udah tenang.”

Fiter mulai menggerak jari-jemarinya dan menggeser-geser layar android Agansya. Agansya masih tak mengerti apa yang dicari Fiter dengan Hpnya. Sesekali mata Agansya melirik kearah Hpnya. Beberapa gambar Fiter yang berada di profil Facebooknya berubah satu per satu. Looding sesekali membuat Fiter jengkel dan menggerutu.
“Nah ini baru ketemu. Aku download Dulu ya Agansya” Sembari berdiri dari duduk Fiter merasa senang.
“Apa sich Fiter?” Agansya ikut berdiri dan mau melihat apa yang ditemukan Fiter, namun Fiter lansung bergerak dan sekilas menghilang dari dekat Agansya. Fiter lansung menuju tukan becak yang tak jauh dari tempat duduknya. Fiter menunjukkan Hp Agansya kepada orang dan menunjuk kelayarnya.

Agansya dengan penuh penasaran yang tak dimengerti. Dia hanya bermikir tentang guyonan tadi didepan Stadion. Guyonan tentang menunjukkan Foto mbak Sri pada orang-orang. Tapi sekilas logikanya menepis dengan cepat. Gak mungkin Fiter sekonyol itu. Pandangan Agansya terus mengikuti gerak gerik Fiter. Setelah dari tukang Becak dia berganti menuju seorang ibu-ibu penjual es degan. Cara yang sama apa yang dia lakukan terhadap tukang becak. Kemudian pindah lagi terhadap pengendara sepeda Motor yang sedang berhenti membeli bakso.

“Ini mas, Batagornya. Ini yang pedas, ini yang biasa” Abang batagor mengejutkan Agansya.

“Oia Bang, makasih” sedikit senyuman singkat mengarah Abang batagor tersebut dan menerima dua piring batagor, namun matanya kembali melihat Fiter. Langkah Fiter kembali kearah Agansya. Wajah Fiter terlihat sumriah dan bibir tersenyum kearah Agansya.

“Apa yang kamu lakukan sich?” Ucap Agansya dengan intonasi penasaran.

“Sekarang aku tahu dimana rumah mbak Sri. Aku tahu alamatnya juga. Sekarang kita hanya butuh bertanya dan menggunakan Map di Hp mu” jelas Fiter sembari mengambil piring yang berisi Batagor. Dan lansung melahapnya yang disertai ucapan bismillah.

Agansya hanya diam melihat sahabatnya senang dan tersenyum. Melihat Batagor dipiring Fiter lebih cepat habis dibanding ditangannya. Dia merasa aneh sendiri.

“Fiter, coba jelaskan apa yang kamu maksud udah tahu rumah mbak Sri?” dengan perlahan piring Agansya ditaruh dan menghentikan lahapan Fiter.

“Aku belum tahu pasti Aganya, tapi kalau alamatnya aku tahu. Tadi aku teringat foto profilku. Disitu aku foto sama Kalender kiriman Mbak Sri. Disana kan ada Alamat Sipengirim alias mbak Sri. Jadi aku cari foto itu lewat Facebook. Tadi itu aku tanya ma orang tentang lokasi alamat itu. Dan kebetulan ada yang memberi petunjuk untuk lewat gang sebelah BANK BRI itu” jelas Fiter.

Batagor menjadi luapan rasa lapar perut mereka berdua yang sedang berdendang. Komunitas Skateboard  yang melompat-lompat menjadi penghibur gratis di keramahan kota senja. Abang Batagor yang santun dan sopan membuat kepuasan jiwa mereka. Serta petunjuk yang ditemukan oleh Fiter menjadi modal kesenangan tersendiri untuk melajutkan perjalanan. Dimana seandainya Alamat Sri tidak ditemukan mereka berdua akan pulang dengan membawa oleh-oleh yang sudah dibeli  kembali kerumah.

***

Tirakat musyafir ala Fiter dan Agansya untuk menemukan sebuah gubuk penulis yang mempesona dan selalu memberi pengugah bagi banyak penulis Pemula. Fiter hanyalah penulis pemula yang abal-abal, namun sering merasa ingin bisa menulis seperti Sri yang sudah banyak mengeluarkan tulisannya dalam bentuk buku. Fiter masih dalam pencarian sebuah Alamat yang ditemukan dalam dunia maya. Keinginan Hati Fiter dan Agansya untuk menemukan sang pengagum Senja menjelang Senja hilang dari sonanya dan akan berganti menjadi petang dan akan diganti oleh sinar yang lain.

Adzan Maghrib menggema dihujung setiap telinga Muslim dan Muslimah. Desir angin mulai berganti perlahan. Rukuk disebuah Musholla kecil dipinggir jalan menjadi tempat Fiter dan Agansya menjadi lokasi penggugah jiwa. Sukma terus terteduh dalam keheningan Maghrib. Hanya getar-getar suara imam yang menggetarkan kalbu. Tenang, damai serta tentram.

Penelusuran terus dilanjutkan dengan kelegahan jiwa setelah bersujud kepada-Nya. jalan demi jalan telah terlalui. Gang demi sudah ditapaki oleh ban Sepeda motor Fiter. Setiap orang yang sedang duduk dipinggir jalan menjadi sasaran untuk ditanya. Penjaga toko, pedagang kaki lima bahkan hingga pengendara motor atau mobil yang sedang berhenti dijadikan narasumber pentanyaan sebuah alamat Sri. Namun semuanya nihil. Lucunya pedagang kaki lima yang pernah ditanya menjadi santapan untuk ditanya kembali. Pedagang itu sampai hafal dengan perawakan wajah Fiter dan Agansya.

Satu jam Fiter muter-muter dikompleks yang sama. Gelap semakin larut menunjukkan pukul 19.00 WIB. Dengan penuh keletihan, semangat mereka seakan tak ada habisnya. Mereka hanya berpikir harus ketemu. Jadi semua letih yang dialami tidak menjadi sia-sia belaka. Mereka sadar tak mudah untuk menemukan sesuatu. Butuh perjuangan untuk itu semua. walau sesuatu itu kecil sekali. Semuanya butuh energy lebih. Karena setiap apapun yang diperjuangkan pasti akan menemukan hasilnya sendiri. Ikhtiar itu sudah satu paket dengan sesuatu yang ingin dicapai. Jadi mereka nyakin rumah Sri akan ditemukan cepat atau lambat.

Fiter berhenti diujung gang jalan yang dituju. Dengan segenap sisa energinya yang ada, Dia masuk kehalaman rumah yang terlihat lelaki sepuh duduk santai di depan rumahnya. Agansya juga mengikuti Fiter masuk. Sementara Sepedanya diparkir pinggir jalan besar. Ketika mereka berdua mengucapkan Salam dua pemuda keluar dari dalam rumah menghampiri.

“Maaf pak boleh numpang tanya?” Dengan menundukkan kepala Fiter ucapkan dengan halus.

“Ia mas, bisa kami bantu” Salah satu pemuda dengan santunnya.

“Apa sampean tahu alamat rumah ini?. Namanya Sri.”

“Kalau alamatnya sekitar komplek ini mas, tapi kalau nama sri gak tahu ya” lelaki satunya menjawab dengan tegas tapi tetap terdengar halus dan ramah. “tunggu ya” pemuda itu pergi kerumah sebelah dan kemudian kembali dengan membawa dua orang ibu-ibu dan satu wanita muda.

“Waduh, Fiter kita bikin heboh satu kompleks nanti” Bisik Agansya sedikit mendekatkan suaranya ketelinga Fiter.

“Sri siapa ya mas?” salah satu dari ibu-ibu dengan kerasnya, tapi masih dalam keadaan santun.

“Waduh kok gini ya” Gumam Fiter pelan.

“Apa mas.Sri sapa yaaa?” Tambah ibu-ibu satunya.

Akhirnya Fiter menjelaskan tentang Sri sesuai yang Dia ketahui. Dia tinggal bersama siapa, pekerjaannya, dan nama lengkapnya. Ciri-ciri rumah yang dia tahu dari sahabatnya Sri serta Ciri-ciri orangnya.

“wah kami gak tahu mas” Ibu-ibu itu hampir bersamaan.

“Alamat itu memang sekitar disini, tapi kalau dari nomor rumahnya kalau gak salah…” lelaki sepuh yang tergopoh-gopoh berdiri. tenaganya seakan dipaksa untuk berjalan. Kakek itu keluar dari pintu gerbang. Fiter dan Agansya mengikuti kakek itu begitu dengan orang-orang yang ada kala itu. “ini kamu lurus aja mas. Nanti gang paling timur itu kamu belok kiri. Nomor yang kamu maksud ada disekitar situ.” Tambah kakek tua itu.

Fiter dan Agansya berpamitan dengan ucapan terima kasih bahasa Madura yang santun dan halus serta lembut. Bergegas menuju jalan yang ditunjukkan kakek itu. Entah berapa kali jalan itu sudah dilewati, karena dari tadi Fiter sudah pernah bertanya sama orang disekitar itu, namun tak ada yang mengetahui.

Agansya menyuruh Fiter untuk berhenti dengan tiba-tiba. Tangan Agansya yang menepuk-nepuk punngung Fiter membuat kaget Fiter dan mengerim mendadak. Sepeda matik Fiter hampir jatuh karena oleng. Untung saja Fiter segera sigap mengantisipasi dan menurunkan kedua kakinya untuk menahan miringnya sepeda. Agansya Hampir terpelanting jatuh kesamping. Tangannya mencekal dengan sangat erat keperut Fiter. Kaki kanannya turun seketika membantu menahan.

“Astaghfirulloh..!!!” teriak Fiter. “ Agansya kamu gak Apa-Apa kan?” Sambil memperhatikan Agansya yang terlihat tak normal.

“Pelan-pelan Fiter!. Hampir saja aku jatuh nich” Gerutu Agansya dengan wajah agak kesal.

“Maaf, kamu sich bikin kaget aku. memangnya ada apa suruh aku berhenti.”

“Gak, kita tanya sama orang yang sedang menurunkan ayam itu.”

Dengan sedikit cemberut Agansya turun dari sepeda. Kakinya agak sakit karena menahan sepeda yang hampir jatuh. Sementara Fiter lansung meminggirkan sepedanya dan melihat keadaan sepedanya. kemudian mengikuti Agansya menuju seorang pemuda setengah baya yang sedang sibuk dengan Ayam yang diturunkan dari mobil pick up. Gagal yang didapatkan. Memang ada nama Sri yang pemuda itu kenal, tapi bukan Sri yang Fiter maksud. Sri yang bapak tahu adalah Sri Seorang Guru.

Kecewa yang terus mengelayut membuat rasa lelak mereka samakin tampak. Raut wajah yang berminyak dan tubuh yang mulai dipenuhi oleh keringat membuat aura bau menyengat disetiap hidup kala mendekat. Maklum Mereka tidak mandi sejak keberangkatannya sedari siang.

Mereka melanjutkan dengan laju dibawah empat puluh kilometer saja. Gang buntu, balik arah, muter-muter bahkan Sampai berani masuk kedalam rumah hanya sekedar bertanya. Hingga memberhentikan Sepeda Motor yang hendak mau keluar dari rumahnya.



“Ooo… maksud sampean Een”

“Iya pak. Namanya Endang Sri…..”

“Ikuti saya ya, nanti pas mau di Gangnya aku tunjukin”

Tampa banyak bahasa lagi Fiter menganggukkan dan menurut saja. Dari belakang Fiter mengikuti laju Bapak itu yang berboncengan dengan istrinya. Kemudian Beliau berhenti di Gang kecil dan menunjukkan arah yang Fiter maksud. Dengan Terima kasih tak dilupakan oleh Fiter dan Agansya ditujukan kepada bapak itu. kemudian bapak itu meninggalkan Mereka berdua. Fiter menuntun Sepeda yang sambil didorong oleh Agansya perlahan memasuki Gang kecil. Terlihat sebuah Rumah yang bertuliskan dua puluh yang berarti Rumah Sri berada didekat itu. Dimana rumahnya Sri bernomor Sembilan Belas.

“Fiter ini Dia rumah, lihat aku tahu wajah ibunya seperti itu. Aku pernah lihat fotonya dibuku ‘Ibuku Adalah…’. Raut wajahnya sama persis” Ucap Agansya penuh semangat dan senang.

Fiter terkesiak melihat Seorang nenek yang sudah tua renta sedang menata kardus didepan rumahnya. Seorang Ibu yang pancaran wajahnya penuh nur mahabbah kasih sayang. Nur keistiqomahan kala beribadah. Pancaran itu membuat degupan jantung Fiter berbeda. Perasaan gemetar tak karuan dilanda oleh Fiter saat itu. Kakinya seakan mematung. Pandangannya tertuju di satu titik itu.

“Fiter, ia ini Rumahnya, lihat itu nomornya 19” Tambah Agansya penuh kenyakinan.

Agansya dengan cepat melangkah menuju ibu itu dan mengucapkan salam. Pertanyaan yang sudah berulang kali ditanyakan pada banyak orang dilontarkan kembali. Sementara Fiter masih termangu dan menyebarkan pandangan kesegala rumah sederhana itu. Nomor 19 yang terbuat dari kayu dengan warna pernis coklat membuat tak begitu jelas dilihat akibat kurangnya pantulan cahaya.

“Ia, bener ini rumahnya mari-mari silahkan” Dengan nada yang sangat halus dan sangat ramah telah disuguhkan oleh wanita renta itu.

Fiter lansung bergerak menuju ibu itu. Setelah Agansya bersalam dan Bersumkeman. Fiter mengikuti jejak Agansya, tapi dengan membolak-balikkan tangan kananya hingga tiga kali kecupan. Begitulah yang sering dilakukan Fiter kepada orang tua dan kepada seseorang yang dianggap lebih tua terlebih lagi seorang guru ngajinya. Tangan yang bergelombang dan berkerut serta kasar merupakan bukti kehebatannya untuk bekerja keras demi anak-anaknya.

“Dari mana nak?”

“Dari Sampang Buk, kami teman mbak Sri” Ucap Agansya.

“Silahkan Nak, silahkan masuk dan silahkan duduk”

Enggeh” Fiter dan agansya hampir bersamaan.

Fiter masih takjub melihat ibu dari Endang Sri. Bahasanya seakan hilang entah kemana. Desiran kagum menyelinap lebut dalam benak jiwa. Sinar mata ibu itu mengingatkan pada ebok Fiter yang sudah tak bersama lagi didunia ini. Aura rumah begitu sangat kental dengan cinta dan ketegaran yang kuat. Banyak aroma kenangan yang terpampang rapi membuktikan rasa ta’dhim akan sesuatu yang berharga diperlihat oleh Sri dan Ibunya. Terima kasih Mbak Senja, mbak pengagum senja, pencinta Senja. Penyuka merah maron. Perasa terhadap anak kecil dan  malaikat-malaikat kecil di ATS.

***

Dan bagaimana pertemuan Fiter dengan Pencinta Senja?.

Anda Penasaran?. J J J
Nantikan kisah selanjutnya….

Keramahan Kota Senja Part 1 - Pertemuan Dengan Pengurus FMadu (Fatinistic Madura)



Siang yang pengap dengan panas yang menyengat tubuh tak mengurungkan niat untuknya berangkat ke kota Bangkalan. Aura yang menyentuh hati terus membangkitkan semangat untuk terus melajukan kendaraan roda dua yang berwarna merah. Sahabatnya yang bernama Agansya terlihat berapi-api untuk berboncengan dibelakangnya. Sambil menancapkan gas sepeda, Fiter melihat spidometer. Matanya tertuju di bagian kiri bawah yang merupakan tanda isi bensin sepeda.

“Agansya, Mau beli apa kerumah Sri” dengan membuka kaca helm dan sedikit menoleh kebelakang, namun tetap fokus diarea lalulintas jalan raya.

“Terserah kamu fiter. Memangnya kamu mau mampir kerumahnya?. Terus dia sakit apa?” Suara yang agak keras tapi terdengar sangat pelan ditelinga Fiter.

“Ya udah, nanti berhenti di Pasar Blega. Disana kan ada banyak Buah-buahan” Timpal Fiter.

Langit memang cerah. Persawahan dikanan kiri tampak sangat hijau. Terlebih lagi sederatan pohon Asam terlihat rindang. Memang kala musim penghujan datang banyak tanaman dan pepohonan seakan hidup dan sejuk disetiap panca penglihat. Namun beberapa hari terakhir Sampang tak lagi menurunkan tetesan air hujan.

Untuk menuju Pasar Blega, Fiter harus melewati Jembatan serta kendaraan yang berdesak-desakan. Di sepanjang jalan banyak toko yang berjejer rapi. Suara Sholawat Nabi terdengar dari sekitar Pasar. Beberapa orang menerima uang dari dalam mobil. Amal Masjid untuk renovasi menjadi pandangan sebelum akhirnya Fiter berhenti kepinggir jalan dan masuk kedalam pasar.

“Agansya buah apa ini yang mau dibeli?. Sri sakit mag atau tipes gitu kayaknya” Sembari melihat beberapa macam buah didepannya.

“Aku juga gak tahu Fiter.”

“Oia aku punya teman perempuan ngerti kesehatan. Dia kan kerja di Puskesmas. Aku coba telpon dia” Wajah Fiter terlihat lebih segar.

Tangan Fiter mengambil Ponsel dari saku jaket hitamnya. Dia melangkah ketempat yang lebih sepi. Dengan menjauhi Agansya dan lapak Buah-buahan. Dia mulai menjelaskan apa yang dimaksud  kepada temannya disembrang. Beberapa menit dia kembali terlihat lebih tenang.

“Bagaimana Fiter?” Ucap Agansya rasa penasaran.

“Apel aja katanya, kalau jeruk takut kecut. Cukup 1 jenis juga. Soalnya kalau sakit yang berhubungan dengan mag gak boleh sembarangan masuk makanan. Apalagi mag yang hampir mau tipes” Sedikit penjelasan terhadap Agansya.

Tidak butuh waktu lama Fiter mancari dan membeli Buah apel. Dia tidak terlalu berbelit terhadap pedagang. Bahkan dia tidak menawar harga untuk Buah Apel satu kilogram. Dia hanya berpikir bisa memberi sesuatu untuk temannya yang sakit. terlebih lagi penjual buah itu terlihat sudah tua. Jadi Fiter tidak tega untuk bernegosiasi dengannya. Dia anggap sedekah untuk penjual tua itu. Bahkan sempat mengucap lafaz doa barokah setelah mendapat kembalian uangnya.

Fiter bergegas menaiki Sepeda motor matiknya. Diikuti Agansya yang berboncengan dibelakangnya. Melewati beberapa kendaraan besar yang membuat macet depan Pasar terlihat Fiter lincah meliuk-liukkan sepedanya. Alhamdulillah, semoga barokah. Gumam hatinya dengan tarikan nafas sedikit melegakan hatinya.

Pasar Blega telah jauh dilewati. kemudian tinggal rute Gunung Gigir yang terkenal tanjakan serta tikungan tajam. Tak Sedikit sering terjadi kecelakaan didaerah tersebut. Apalagi bagi pengendara yang hanya memikirkan egonya untuk segera sampai tujuan. Tampa perhitungan dan kompromi menyalip pengendara didepannya, padahal posisi sedang berada ditikungan tajam. Al Hasil hanya tambrakan yang didapatkan dari arah berlawanan. Fiter hanya berpikir lebih baik terlambat lima menit atau sepuluh menit dari pengendara yang ngebut, yang penting keselamatan lebih terjamin.

“Fiter, kita kerumah Sri setelah Acara Pertemuan dengan Pengurus Fatinistic Madura kan?. kamu tahu Rumahnya Sri, Kan?”

Fiter tak mengubris pertanyaan Agansya. Dia hanya tersenyum tenang. Agansya kembali menanyakan hal yang sama, tapi nadanya lebih keras dari sebelumnya. Jawaban Fiter Hanya satu kata yaitu, Tenang. Fiter tak perlu banyak bicara saat berkendaraan dirute yang sulit dan butuh konsentrasi penuh.

Pasar Galis, pasar tanah Merah telah dilewati. Sebelum sampai Pasar Patemun Bangkalan Fiter membelokkan sepedanya kekiri dan berhenti disamping mesin warna merah putih. Terlihat tulisan Solar, Pertamax, dan Premium. Agansya turun dari duduknya kemudian Fiter membuka Jok sepeda dan memutar tangki bensinya.

“Sepuluh Ribu Mas.” Sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.

“Mulai dari nol ya Pak” suara lembut dan sopan serta tangannya menunjuk angka nol yang tertera pada mesin pengisian bensin. Kemudian Nosel dimasukkan kedalam tangki sepeda Fiter. “Sudah Pas ya pak. Terima kasih” kepala petugas itu menunduk dan tersenyum ramah. Fiter juga tersenyum dan menunduk.

Ada sedikit rasa kagum terhadap petugas premium itu. Keramahan yang dipraktekkan kepada Setiap pembeli. Andai seluruh pedagang bisa seramah itu mungkin perdebatan antara pembeli dengan penjual yang sering terjadi dipasar-pasar dan  akhirnya berhujung pertengkaran tidak akan terjadi. Betapa damainya dunia perdagangan.

 “Kenapa berhenti Fiter?” penuh penasaran Agansya, karena Fiter memperlambat laju sspedanya dan menepi kekiri sebelum dipertigaan dimana jika belok kiri arah ke Suramadu, sedangkan kalau lurus kearah Kota Bangkalan.

“Aku mau nelpon Rizal dulu Agansya. Aku kan gak tahu lokasi pertemuannya. Kata Ummi, Rizal dan irfan mau jemput kita di Tangkel ini.” Ponsel Fiter diselipkan kehelm kanannya sehingga menempel ketelinga. Beberapa detik kemudian ponsel diambil kembali dan memasukkan kedalam kantong kiri. “Ayo Agansya kita berangkat lagi. Kita tunggu di Pertigaan Burneh sana. Kasihan Rizal biar gak terlalu jauh jemput kita” tambah Fiter.

Tanpa komentar apapun Agansya kembali duduk dijok belakang. Sambil lalu berbisik pelan dan sambil menggoda Fiter. “Fiter Akhirnya kita akan bertemu Sri, ehemm”. Senyum tipis membuat rasa jengkel Fiter timbul dan menimpali Agansya. Sepeda terus maju melewati Pertigaan Tangkel dan terus lurus menuju Pertigaan Burneh.

***

Rizal mulai menepi dan berhenti didepan rumah bergedung dengan cat kuning cerah. Tiangnya berwarna Orenge Jeruk. Rizal turun dari sepeda supranya yang diikuti oleh Irfan. Terlihat tangan Rizal dimasuk kedalam kantong celananya, diraihnya sebuah ponsel dan menaruhnya di telinga kanan. Mulutnya berbicara dari arah lawan ponselnya. Sementara Irfan menoleh kearah Fiter dan mengawal laju sepeda Fiter dengan kedua tangannya.

“Kak udah nyampek nich” Irfan mengangkat tangannya dan melambai-lambai kekiri bak polisi.

“Rumah Ummi kan ini?” Dengan rasa penasaran Fiter menanyakan rumah disamping kanannya.

“Ia kak” Sahut Rizal yang sambil sibuk dengan ponselnya.

Fiter mengedarkan pandangannya ke dalam rumah. Suasananya terlihat lenggang dan sepi. Pagar besi yang berlapis hitam kecoklatan serta pintu gerbang yang masih tertutup rapat membuat Fiter terdiam seketika. Bagus juga rumahnya. Gumam dalam hatinya. Fiter terus menengadah hingga keatas atap rumah. Gentengnya terbuat dari semen cor yang kokok dan berwarna merah pekat menambahkan megahnya rumah Ummi Kulsum.

Mata Fiter terkejut setelah melihat Ummi membuka pintu gerbang. Wajahnya terlihat tak seperti biasa. Rambut tanpak hitam terurai indah. Senyumannya menebar dan disertai dengan anggukan santun. Sambutan kedatangan Fiter dan Agansya sudah sejak tadi dinanti. Pintu Gerbang terus di dorong hingga melebar kemudian mempersilahkan Fiter dan Agansya masuk.

Fiter menuntun sepeda matiknya. Dengan perlahan dia memasuki halaman rumah Ummi. Agansya mengikuti dari belakang. Sementara Rizal dan Irfan sudah nyelonong terlebih dahulu layaknya rumah sendiri.

“Aduh, maaf kak ya. Aku gak pakek kerudung” Dengan tersipu malu Ummi melontarkan bahasanya.

“Ah, Gak pa-pa kok Ummi” Ungkap Agansya.

“Wah, Rizal dan Irfan seenaknya nyelonong” Fiter mengalihkan rasa malu Ummi.

“Mereka udah setiap hari main kesini Kak” Dengan senyuman Ummi menunjuk Rizal dan Irfan. 

“Ayo Kak, silahkan masuk” Lanjut Ummi.

Rumah Ummi terdapat dua pintu besar. Dari sisi utara terdapat dua hiasan sapi kerapan di dekat pintunya dan menuju ke ruang keluarga. Sementara dari sisi barat terlihat banyak tanaman hias yang unik dan indah dimana pintu ini lansung menuju ke ruang tamu. Ummi bergegas melewati Pintu dari sebelah utara. Sementara Fiter dan Agansya mengikuti jejak Rizal dan irfan yang berada didepan pintu sebelah sisi barat.

Beberapa detik kemudian Ummi membuka Pintu ruang tamu dan mempersilahkan untuk memasuki ruangan. Cat warna putih disetiap temboknya dan langit-langit dengan ditengahnya terdapat Lampu berwarna putih tulang. Lemari memanjang kesamping menghadap ke barat. diatasnya terlihat bunga hias dari pelstik dan beberapa boneka cantik. Dipojok kanan, full dengan boneka besar dan kecil yang tertata dibalik lemari tinggi. Dua kursi memanjang didepan lemari dan dua kursi berisi satu orang membentuk siku yang didepannya terdapat meja kaca yang terdapat bunga hias.

Ummi Muncul lewat pintu pojok arah berlawanan dari lemari tinggi. Tampak buah segar ditangannya dengan nampan terbuat dari plastik. Kemudian menaruhnya dimeja kaca.  Setelah itu air Mineral gelas menyusul untuk disuguhkan.

“ayo kak dimakan dan diminum” lirih Ummi dengan lembut.

“Kak Fiter, Ummi Punya laptop baru kak” Rizal dengan nada meledek dan melirik kearah Ummi.

“Wah bagus donk. Apa merk nya?. Aku pengen lihat” Ssuasana berubah menjadi cair dan hangat.

“Harga berapaan Ummi?” Tambah Agansya.

Ummi hanya menjawab dengan senyuman. Sembari berdiri dan berbalik arah masuk kedalam kamarnya. Laptop Core i3 merk Sony yang berwarna Putih ditenteng. Kemudian menaruhnya di atas meja dan membukanya. Setelah memencet tombol ON, Ummi memutar Laptopnya kearah Fiter.
“Ini kak, Harganya…”

“Harganya tujuh jutaan itu kak” Rizal nyerobot ucapan Ummi dengan gaya senyum melebar.

“Bagus Ini Ummi. Core i3 lagi.” Ucap Fiter sambil meraba laptop Ummi.

“Oia Kak ini yang Pre Order Kaos FMadu” sembari menyodorkan Kertas berisi tulisan Nama-nama dan ukuran kaos M dan L serta lengan panjang dan lengan Pendek.

Fiter mengambil kertas putih yang disodorkan Ummi. Bersitan mulutnya membaca satu persatu tulisan yang tercatat. Dengan teliti tangan telunjuknya menuju baris perbaris pada tabel yang berisi nama-nama tersebut. Sesekali dia memperkeras suaranya dan bertanya kepada ummi.

“Lumayan Banyak juga ya Ummi yang pesan” Tukas Fiter.

“Ialah Kak, siapa dulu Pengurusnya. Ummi gitu..” Rizal nyerobot pembicaraan dengan bangga serta diiringi dengan tawa.

“Ini Uangnya Kak” Ummi menyodorkan Uang yang sudah tersusun rapi.

“Sudah dihitungkan?” Agansya mengambil uang yang berada ditangan Ummi kemudian menghitungnya dengan suara yang agak keras.

Perbincangan serius dengan Ummi dan kawan-kawan sudah berlansung cukup lama. Detik yang terus berjalan membuat tak terasa. Lelucon Rizal dan Irfan masih tetap menghiasi suasana walau acara sudah selesai. Ummi dengan sejuta senyum sumriah membuat lesung pipinya tampak lebih anggun. Wanita imoet itu memang Pengurus FMadu yang aktif dan selalu Semangat. Yel-yel Fatin dengan Logat Madura melayang hingga keangkasa raya.

Fiter dan Agansya terus berpamitan untuk beranjak keluar dari rumah Ummi kemudian melanjutkan perjalanan. Rumah Ummi yang megah telah jauh dari pandangan. Terlihat Masjid kiri jalan membuat Fiter harus memperlambat laju sepedanya kemudian memarkirnya dihalaman Masjid. Ashar dengan Balutan senja menjadi suatu momen yang tidak boleh dilupakan oleh Ummat Islam dimanapun berada. Cinta terhadap Sang ilahy tidak akan membuat manusia lalai untuk bersujud walau dalam keadaan apapun. Sebab tidak ada apapun yang bisa menukar kewajiban yang diperintahkan oleh-Nya.
 
***